SURAU.CO – Pagi itu, matahari belum sepenuhnya bangkit, namun gurun sudah menyimpan panas yang menjanjikan ujian. Angin berbisik pelan, membawa butiran pasir yang menari tanpa arah, seolah menggambarkan kehidupan manusia yang sering terseret tanpa tujuan.
Di tengah hamparan itu, berjalanlah seorang pengelana. Ia menamakan dirinya Karbon bukan tanpa alasan. Karbon adalah unsur kehidupan, hadir dalam segala yang hidup, namun juga bisa berubah menjadi abu ketika terbakar. Ia merasa dirinya seperti itu: hidup, tapi sering hangus oleh ambisi dan keinginan.
Perjalanan ini bukan sekadar melintasi gurun, tapi perjalanan batin.
Di satu titik, ia berhenti. Di hadapannya ada dua bayangan:
yang satu disebut Kurban, dan yang lain Korban.
Kurban berkata,
“Aku adalah pilihan. Aku adalah kesadaran untuk memberi, meski berat.
Aku adalah jalan menuju keikhlasan.”
Sementara Korban berbisik,
“Aku adalah keadaan. Aku adalah keterpaksaan. Aku sering dijadikan alasan untuk menyalahkan keadaan.”
Karbon terdiam.
Ia menyadari selama ini sering merasa sebagai korban menyalahkan waktu, keadaan, bahkan takdir. Padahal, mungkin ia belum benar-benar memilih menjadi kurban yang rela melepas ego, keinginan, dan rasa memiliki.
Langkahnya kembali bergerak.
Semakin dalam ia memasuki gurun, semakin ia mengerti: panas bukan untuk menyiksa, tapi untuk menguji. Haus bukan untuk melemahkan, tapi untuk menyadarkan betapa berharganya setetes air.
Di tengah kelelahan, ia menemukan satu hal:
keikhlasan tidak ditemukan di ujung perjalanan, tapi lahir di setiap langkah yang disadari.
Karbon pun berbisik pada dirinya sendiri,
“Aku bukan lagi sekadar unsur yang terbakar.
Aku ingin menjadi cahaya yang memberi.”
Angin berhenti sejenak.
Langit mulai memerah.
Dan di kejauhan, seolah ada oasis atau mungkin itu hanya pantulan harapan.
Namun kali ini, Karbon tidak lagi peduli apakah itu nyata atau ilusi.
Karena ia telah menemukan sesuatu yang lebih penting:
Jalan menuju keikhlasan tidak berada di luar, tapi di dalam hati yang rela memilih menjadi kurban, bukan sekadar merasa sebagai korban. Pagi pun benar-benar tiba.
Kisah Perjalanan Cahaya “Cara Mendapatkan Ridho Cahaya di Atas Cahaya dengan Tafakur”
Di sebuah desa kecil yang sunyi selepas azan Isya, hiduplah seorang pemuda bernama Salman. Ia dikenal rajin beribadah, namun hatinya sering gelisah.
Setiap malam ia bertanya dalam diam:
“Mengapa aku sudah banyak berdoa, tetapi hati ini belum merasakan ketenangan yang hakiki?”
Suatu malam, Salman berjalan menuju bukit kecil di pinggir kampung. Langit dipenuhi bintang, angin berhembus pelan, dan suara jangkrik seolah sedang berdzikir kepada Sang Pencipta.
Di atas bukit itu, ia bertemu seorang lelaki tua yang wajahnya teduh penuh cahaya.
Lelaki itu duduk diam memandang langit sambil menggenggam tasbih kayu sederhana.
Salman bertanya pelan,
“Wahai orang tua, bagaimana cara mendapatkan ridho Alloh dan cahaya di atas cahaya?”
Orang tua itu tersenyum lalu berkata:
“Anak muda, cahaya bukan hanya terlihat oleh mata, tetapi dirasakan oleh hati yang bersih.”
Salman terdiam.
Lelaki tua itu melanjutkan:
“Banyak manusia mencari cahaya di luar dirinya, padahal Alloh sering menyalakan cahaya itu melalui tafakur.”
“Apakah tafakur itu hanya duduk diam?” tanya Salman.
Orang tua itu menggeleng.
“Tafakur adalah perjalanan hati.
Merenungi nikmat Alloh tanpa sombong.
Mengingat dosa tanpa putus asa.
Melihat alam tanpa melupakan Penciptanya.”
Kemudian ia menunjuk langit malam.
“Lihat bulan itu. Ia bersinar bukan karena dirinya sendiri, tetapi karena menerima cahaya matahari. Begitu pula manusia. Hati akan bercahaya bila mau menerima petunjuk dari Alloh.”
Salman mulai memahami.
Malam demi malam ia membiasakan tafakur:
Mengingat kesalahan lalu memohon ampun.
Mensyukuri napas yang masih diberikan
Membantu orang lain tanpa ingin dipuji.
Berdzikir dalam kesunyian.
Menjaga lisan agar tidak melukai hati sesama.
Hari-hari berlalu.
Perlahan hatinya menjadi tenang.
Wajahnya tidak paling tampan, pakaiannya tidak paling mewah, tetapi orang-orang merasa nyaman berada di dekatnya.
Suatu ketika Salman kembali ke bukit itu, namun lelaki tua tersebut sudah tidak pernah terlihat lagi.
Yang tersisa hanyalah tasbih kayu sederhana di atas batu.
Di sampingnya terdapat tulisan kecil:
“Ridho Alloh tidak datang karena manusia ingin terlihat suci,
tetapi karena hati terus belajar kembali kepada-Nya.”
Salman menangis haru.
Sejak malam itu ia memahami bahwa:
Cahaya di atas cahaya bukanlah kemuliaan dunia, melainkan hati yang ikhlas, sabar, dan selalu mengingat Alloh dalam setiap langkah kehidupan. Maka, kebahagiaan sejati terletak pada kedekatan dengan-Nya.
Hikmah Kisah Tafakur dapat melembutkan hati yang keras. Oleh karena itu, Ridho Alloh diraih melalui keikhlasan dan kesabaran.
Cahaya iman tumbuh dari dzikir, syukur, dan amal baik. Oleh karena itu, semakin dekat hati kepada Alloh, semakin tenang perjalanan hidupnya. (Bambang JB)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
