SURAU.CO – Romadhon adalah madrasah kehidupan. Di dalamnya manusia dilatih menahan diri, memperbanyak ibadah, memperhalus hati, dan mendekat kepada Tuhan. Namun setelah Romadhon berlalu dan Syawal datang, manusia kembali ke kehidupan biasa. Di sinilah terlihat siapa yang benar-benar mendapatkan pelajaran Romadhon dan siapa yang hanya melewati Romadhon sebagai rutinitas tahunan.
Romadhon ibarat menempa besi menjadi pedang. Syawal dan bulan setelahnya adalah ujian, apakah pedang itu tetap tajam atau kembali berkarat.
Banyak orang saat Romadhon rajin sholat berjamaah, rajin membaca kitab suci, rajin bersedekah, menjaga lisan, dan menjaga hati. Tetapi ketika masuk Syawal, sedikit demi sedikit kebiasaan itu mulai berkurang. Bukan karena tidak mampu, tetapi karena semangatnya yang menurun.
Menurunnya semangat setelah Romadhon adalah hal manusiawi, tetapi meninggalkan seluruh kebiasaan baik adalah kerugian besar.
Orang yang berhasil dalam Romadhon adalah orang yang membawa kebiasaan Romadhon ke bulan-bulan berikutnya walaupun tidak sebanyak saat Romadhon. Karena yang terpenting bukan banyaknya, tetapi istiqomahnya.
Para orang bijak mengatakan,
“Amalan yang paling dicintai adalah amalan yang terus menerus walaupun sedikit.”
Kelanjutan Pelajaran
Syawal sebenarnya bukan bulan perpisahan dengan Romadhon, tetapi bulan kelanjutan pelajaran Romadhon.
Jika Romadhon kita belajar menahan lapar, maka setelah Romadhon kita belajar menahan hawa nafsu.
Jika Romadhon kita rajin membaca kitab suci, maka setelah Romadhon kita menjaga agar tetap membacanya walaupun tidak sebanyak sebelumnya.
Dan Jika Romadhon kita ringan bersedekah, maka setelah Romadhon kita tetap bersedekah walaupun sedikit.
Romadhon adalah latihan, Syawal adalah praktiknya, dan bulan-bulan setelahnya adalah ujian sebenarnya.
Orang yang berhasil bukan orang yang hanya bersungguh-sungguh di bulan Romadhon, tetapi orang yang tetap berjalan di jalan kebaikan setelah Romadhon pergi.
Karena tanda diterimanya amal Romadhon adalah ketika seseorang menjadi lebih baik setelah Romadhon dibandingkan sebelum Romadhon.
Mempertahankan Nilai Ramadhan
Maka mempertahankan nilai Romadhon bukan dengan mengulang suasana Romadhon, tetapi dengan menjaga kebiasaan baik yang lahir dari Romadhon:
Menjaga sholat
Menjaga lisan
Menjaga hati
Gemar bersedekah
Membaca kitab suci
Rendah hati
Sabar dan tidak mudah marah
Jika semua itu masih ada walaupun sedikit, maka nilai Romadhon masih hidup dalam diri kita.
Tetapi jika semua itu hilang, maka Romadhon hanya lewat di kalender, tidak lewat di hati.
Akhirnya, Romadhon bukan yang pergi meninggalkan kita, tetapi kitalah yang meninggalkan pelajaran Romadhon.
Hikmahnya: Romadhon melatih kita menjadi baik, Syawal menguji kita tetap baik, Dan bulan-bulan setelahnya menentukan kita benar-benar berubah atau kembali seperti semula.
Untaian kata untuk tulisan “Meredupi Usia Menangisi Raga”
Meredupi usia bukan karena waktu berhenti, tetapi karena kita mulai mengerti arti pergi.
Langkah masih berjalan, namun hati mulai pelan memahami kehilangan.
Dulu raga dibanggakan, kekuatan dijadikan kebanggaan, wajah dipoles agar dipandang, suara ditinggikan agar didengar orang.
Kini raga mulai diam, tenaga perlahan tenggelam, dan kita baru sadar, yang kuat ternyata bukan badan, tetapi kenangan.
Menangisi raga bukan karena sakitnya, tetapi karena waktu yang terlewat sia-sia.
Mengenal Diri Sebenarnya
Banyak hari dipakai mengejar dunia, sedikit waktu dipakai mengenal siapa diri sebenarnya.
Usia tidak pernah berisik, ia berjalan tanpa suara, tiba-tiba kita sudah di ujung cerita, membawa banyak penyesalan daripada cerita bahagia.
Jika usia mulai meredup, jangan menangisi raga yang menua, tetapi bangunkan jiwa yang lama tertidur, agar sisa waktu menjadi cahaya, bukan hanya bayangan masa lalu.
Karena pada akhirnya, yang ditanya bukan berapa lama kita hidup, tetapi untuk apa kita hidup. (Bambang JB)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
