SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kisah
Beranda » Berita » Kisah Hikmah Ilmu “Asal Kata Bidadari”

Kisah Hikmah Ilmu “Asal Kata Bidadari”

Kisah Hikmah Ilmu “Asal Kata Bidadari”
Kisah Hikmah Ilmu “Asal Kata Bidadari”

 

SURAU.CO – Di suatu majelis kecil setelah pengajian, seorang murid bertanya kepada gurunya dengan rasa penasaran.

“Guru, kita sering mendengar kata bidadari. Dalam ceramah atau kisah-kisah tentang surga, kata itu selalu disebut. Sebenarnya dari mana asal kata bidadari itu?”

Sang guru tersenyum, lalu menjawab dengan tenang.

“Anakku, kata bidadari bukan berasal dari bahasa Arab. Dalam bahasa Arab, makhluk yang sering digambarkan sebagai penghuni surga disebut Hūr al-ʿĪn. Istilah itu berarti makhluk surga yang memiliki mata indah dan bersih.”
“Lalu dari mana kata bidadari itu, Guru?” tanya murid itu lagi.

Menikmati Lelah dalam Ibadah Ramadhan: Jalan Menuju Kemuliaan di Sisi Allah

Nasehat Guru

Guru pun melanjutkan penjelasannya.
“Dalam bahasa Nusantara, kata bidadari diduga berasal dari pengaruh bahasa Sanskerta dan budaya lama di wilayah Melayu dan Jawa. Kata itu sering dipahami dari dua bagian:
bidadara dan bidadari.

Dalam cerita-cerita lama, bidadara berarti makhluk kayangan laki-laki, sedangkan bidadari adalah pasangan perempuannya.

Kisah-kisah seperti ini banyak muncul dalam cerita pewayangan dan hikayat Melayu.”
Murid itu mengangguk pelan.

Guru kemudian berkata lagi, “Ketika Islam datang ke Nusantara, para ulama dan pendakwah sering menggunakan kata yang sudah dikenal masyarakat agar mudah dipahami. Maka istilah bidadari dipakai untuk menjelaskan gambaran makhluk surga yang dalam Al-Qur’an disebut Hūr al-ʿĪn.”
“Jadi, kata bidadari sebenarnya adalah jembatan bahasa,” lanjut sang guru.

Hakikat Makhluk Surga

“Bahasa yang membantu manusia memahami makna yang lebih tinggi.”
Murid itu kemudian bertanya lagi, “Guru, apakah bidadari itu harus dipahami sebagai sosok perempuan cantik saja?”

STUDI KRITIS TERHADAP EKSISTENSI HADITS SHALAT KAFARAT DI AKHIR JUM’AT BULAN RAMADHAN: PERSPEKTIF AL-QUR’AN, TAKHRIJ HADITS, DAN STUDI KOMPARATIF ULAMA’ FIQIH EMPAT MADZHAB*

Guru tersenyum lagi.
“Anakku, sebagian ulama memahami secara hakikat bahwa itu adalah makhluk surga. Sebagian lagi melihatnya sebagai gambaran kenikmatan dan kesucian yang Alloh siapkan bagi manusia yang beriman. Intinya bukan sekadar rupa, tetapi kemurnian, kebahagiaan, dan balasan bagi amal baik.”
Murid itu akhirnya mengerti.

Bahwa kadang sebuah kata tidak hanya membawa arti bahasa, tetapi juga membawa perjalanan budaya dan pemahaman manusia.

Hikmah dari kisah ini:
Kadang sebuah istilah yang kita dengar setiap hari ternyata memiliki perjalanan panjang dari bahasa, budaya, hingga pemahaman agama.

Maka belajar asal kata bukan sekadar ilmu bahasa, tetapi juga membuka pintu memahami sejarah dan hikmah di baliknya.

 

Calibration, Credibility, and Confidence. Tiga Hal yang Diperhalus oleh Puasa Ramadhan Kita

 

 

 


Perjalanan Hari Kedua Puluh Enam dan Dua Puluh Tujuh

Perjalanan Romadhon semakin mendekati ujungnya. Hari kedua puluh enam terasa seperti seseorang yang sedang berada di penghujung perjalanan panjang. Tubuh mungkin mulai lelah, tetapi hati justru semakin sadar bahwa kesempatan Romadhon hampir selesai.

Seorang pencari hikmah berkata kepada sahabatnya:
“Jika dua puluh lima hari telah berlalu, maka yang tersisa bukan lagi waktu yang panjang, tetapi kesempatan yang sangat berharga.”

Pada hari kedua puluh enam, orang yang memahami makna Romadhon akan mulai memperbanyak istighfar. Ia tidak lagi terlalu sibuk menghitung amal yang telah dilakukan, tetapi lebih banyak memohon agar Alloh menerima segala amal yang mungkin masih penuh kekurangan.

Seorang alim pernah berkata:
“Di akhir Ramadhan, seorang hamba seharusnya lebih banyak memohon ampun daripada merasa bangga atas ibadahnya.”

Kemudian datanglah malam kedua puluh tujuh. Malam ini sering dikenal luas di kalangan umat Islam sebagai malam yang sangat diharapkan menjadi Lailatul Qadar. Banyak masjid dipenuhi jamaah, doa-doa dipanjatkan dengan air mata, dan Al-Qur’an dibaca dengan penuh harap.

Namun para ulama mengingatkan bahwa kemuliaan malam itu bukan hanya karena angkanya, tetapi karena kesungguhan hati orang yang menghidupkannya.

Ada orang yang datang ke masjid hanya mengikuti kebiasaan.

Berharap Ampunan dan Rahmat Allah

Ada pula orang yang datang dengan hati yang benar-benar berharap ampunan dan rahmat Alloh.

Perjalanan hari kedua puluh enam dan dua puluh tujuh mengajarkan satu hal penting:
Romadhon mendidik manusia untuk rendah hati di hadapan Tuhannya.

Karena seorang hamba yang bijak tidak pernah merasa telah cukup beribadah. Ia justru merasa semakin membutuhkan rahmat Alloh.

Maka dalam keheningan malam ia berdoa:
“Ya Alloh, jika malam ini adalah malam kemuliaan, jangan biarkan aku melewatinya tanpa ampunan-Mu.”

Dan pada akhirnya, perjalanan Romadhon bukan hanya tentang menemukan satu malam yang mulia, tetapi menemukan hati yang kembali tunduk sepenuhnya kepada Alloh. (Bambang JB)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.