Ramadan
Beranda » Berita » Lentera Fanoos: Menelusuri Asal Usul Simbol Penerang Malam Ramadan di Mesir

Lentera Fanoos: Menelusuri Asal Usul Simbol Penerang Malam Ramadan di Mesir

Setiap kali bulan suci Ramadan tiba, pemandangan kota-kota di Mesir berubah menjadi hamparan cahaya yang memukau. Ribuan lentera warna-warni, yang masyarakat setempat sebut sebagai “Fanoos”, menghiasi jalanan, balkon rumah, hingga lorong-lorong sempit di Kairo. Fanoos bukan sekadar alat penerang biasa bagi warga Mesir, melainkan simbol kegembiraan dan identitas budaya yang telah bertahan selama berabad-abad.

Jejak Sejarah pada Era Dinasti Fatimiyah

Banyak sejarawan meyakini bahwa tradisi Fanoos bermula pada masa Kekhalifahan Fatimiyah. Salah satu kisah paling populer merujuk pada momen kedatangan Khalifah Al-Mu’izz li-Din Allah di Kairo. Sang Khalifah memasuki gerbang kota pada malam hari tanggal 15 Ramadan tahun 362 Hijriah.

Untuk menyambut kedatangan pemimpin mereka, warga Kairo berbondong-bondong turun ke jalan. Karena kondisi malam yang gelap, pria, wanita, hingga anak-anak membawa lentera kayu yang berlapis lilin guna menerangi jalan sang Khalifah. Suasana haru dan penuh cahaya ini menandai awal mula keterikatan emosional antara lentera dengan bulan suci Ramadan. Sejak saat itu, masyarakat terus menyalakan lentera setiap malam Ramadan sebagai bentuk perayaan.

Peran Fanoos dalam Keamanan dan Kehormatan

Versi sejarah lain mengaitkan Fanoos dengan aturan sosial pada masa Khalifah Al-Hakim bi-Amr Allah. Pada abad ke-10, sang penguasa menetapkan aturan ketat bagi para perempuan yang ingin keluar rumah pada malam hari selama bulan Ramadan. Para wanita hanya boleh keluar jika seorang anak laki-laki berjalan di depan mereka sambil membawa lentera.

Lentera tersebut berfungsi sebagai tanda bagi para pria di jalanan agar memberikan jalan dan menjaga pandangan mereka. Meskipun aturan tersebut kini sudah tidak berlaku, tradisi anak-anak membawa lentera sambil bernyanyi tetap lestari hingga saat ini. Anak-anak di Mesir sering menyanyikan lagu tradisional “Wahawee ya Wahawee” sambil mengayunkan Fanoos mereka di depan rumah tetangga untuk meminta permen atau hadiah kecil.

Penaklukan Bougie: Strategi Daulah Al-Muwahhidun Memperluas Wilayah Islam di Bulan Ramadan

Transformasi Kerajinan Fanoos

Awalnya, para perajin membuat Fanoos dari bahan yang sangat sederhana seperti kayu dan kulit binatang. Namun, seiring berjalannya waktu, seni pembuatan Fanoos berkembang pesat di kawasan Kairo Lama, khususnya di daerah pembuat tenda (Khayamiya). Para pengrajin mulai menggunakan tembaga, kuningan, dan kaca berwarna-warni untuk menciptakan pola geometris yang rumit.

Cahaya dari lilin di dalam lentera memantulkan warna-warna indah melalui kaca patri, menciptakan atmosfer spiritual yang kental. Dewasa ini, meski pasar mulai dipenuhi oleh Fanoos plastik bertenaga baterai dari Tiongkok, warga Mesir tetap memburu Fanoos tradisional hasil buatan tangan. Mereka menganggap Fanoos tembaga memiliki “ruh” dan nilai sejarah yang tidak tergantikan oleh pabrikan mesin.

Makna Budaya dan Simbolisme

Fanoos kini telah melintasi batas geografis Mesir dan menjadi simbol Ramadan secara global. Penggunaan lentera ini melambangkan harapan dan cahaya iman yang menuntun manusia keluar dari kegelapan. Seorang budayawan Mesir pernah memberikan kutipan penting mengenai fenomena ini:

“Fanoos bukan sekadar tradisi musiman, ia adalah saksi bisu sejarah panjang peradaban Islam di Mesir yang menyatukan kegembiraan anak-anak dan kekhusyukan orang dewasa.”

Bagi masyarakat Mesir, memasang Fanoos merupakan kewajiban tidak tertulis untuk menyambut tamu-tamu yang datang berkunjung. Cahaya lentera yang menggantung di depan pintu rumah memberikan kesan hangat dan keterbukaan bagi siapapun yang melintas.

Gema Sejarah Meriam Ramadhan: Tradisi Ikonik Penanda Iftar dari Era Mamluk

Kesimpulan

Sejarah panjang Lentera Fanoos membuktikan betapa kuatnya sebuah tradisi bertahan di tengah arus modernisasi. Dari alat penerang jalan bagi Khalifah hingga menjadi hiasan estetis di hotel berbintang, Fanoos tetap membawa pesan yang sama: kegembiraan menyambut bulan pengampunan. Kehadirannya selalu berhasil menghidupkan malam-malam Ramadan dengan kilauan cahaya yang penuh makna sejarah dan kehangatan tradisi.

Dengan memahami asal-usulnya, kita dapat lebih menghargai setiap kerlip cahaya Fanoos sebagai warisan budaya yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Jika Anda berkunjung ke Mesir saat Ramadan, pastikan Anda membawa pulang sebuah Fanoos sebagai kenang-kenangan dari negeri para Nabi.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.