SURAU.CO – Eskatologi Islam atau ilmu tentang tanda-tanda hari kiamat selalu menjadi topik yang menarik untuk dibahas. Salah satu nubuat Rasulullah SAW yang paling masyhur adalah mengenai keterlibatan bangsa Rum dalam perang besar di akhir zaman, atau yang dikenal dengan istilah Al-Malhamah Al-Kubra.
Banyak literatur sejarah dan hadis sering menyebut bangsa Romawi sebagai kaum yang akan bekerja sama dengan umat Islam untuk mengalahkan musuh bersama, namun pada akhirnya mereka akan melakukan pengkhianatan besar. Fenomena ini memicu banyak tanya: siapakah sebenarnya bangsa Rum di masa modern sekarang? Apakah mereka merujuk pada negara Barat, Rusia, atau entitas politik tertentu?
Siapakah Bangsa Rum Menurut Sejarah dan Literatur Islam?
Secara historis, kata “Rum” merujuk pada Kekaisaran Romawi. Dalam Al-Qur’an, terdapat surat khusus bernama Ar-Rum yang mengisahkan kemenangan bangsa Romawi (Kristen) atas bangsa Persia (Majusi). Namun, dalam konteks hadis akhir zaman, identitas bangsa Rum menjadi lebih luas.
Para ulama dan pakar sejarah Islam sering mengidentifikasi bangsa Rum sebagai orang-orang kulit putih (Bani Ashfar) yang mewarisi peradaban Romawi. Di masa lalu, ini merujuk pada Romawi Bizantium yang berpusat di Konstantinopel. Namun, di era modern, identitas ini sering dikaitkan dengan peradaban Barat (Eropa dan Amerika) atau Kristen Ortodoks (seperti Rusia).
Dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda bahwa menjelang hari kiamat, bangsa Romawi akan menjadi jumlah manusia terbanyak. Ini memberikan petunjuk bahwa mereka adalah bangsa yang memiliki kekuatan demografi dan militer yang sangat besar sebelum munculnya Dajjal.
Kronologi Aliansi dan Pengkhianatan di Akhir Zaman
Berdasarkan berbagai riwayat hadis shahih, hubungan antara umat Islam dan bangsa Rum di akhir zaman akan melewati beberapa fase penting:
1. Fase Perdamaian dan Aliansi Strategis
Umat Islam dan bangsa Rum akan mengadakan perjanjian perdamaian (shulhan aminan). Tidak hanya berdamai, kedua pihak akan membentuk aliansi militer untuk memerangi musuh bersama. Musuh ini digambarkan sebagai kekuatan besar yang mengancam stabilitas dunia saat itu.
Dalam peperangan tersebut, aliansi Islam-Rum akan meraih kemenangan besar dan memperoleh harta rampasan perang yang melimpah. Fase ini menunjukkan betapa kuatnya posisi tawar umat Islam pada waktu itu sehingga bangsa sebesar Rum bersedia melakukan kerja sama.
2. Pemicu Pengkhianatan: Klaim Simbol Keagamaan
Setelah kemenangan diraih, aliansi ini akan berkumpul di sebuah padang rumput yang luas bernama Dzi Tulul. Di sinilah benih perpecahan muncul. Seorang prajurit dari bangsa Rum akan mengangkat salib dan berteriak, “Salib telah menang!”
Mendengar klaim tersebut, seorang prajurit muslim akan marah dan menghancurkan salib tersebut. Insiden ini menjadi pemicu pecahnya perdamaian. Bangsa Rum merasa terhina dan akhirnya memutuskan untuk mengkhianati perjanjian damai yang telah disepakati sebelumnya.
3. Persiapan Perang Al-Malhamah Al-Kubra
Setelah pengkhianatan terjadi, bangsa Rum akan mulai menghimpun kekuatan militer yang belum pernah ada tandingannya. Mereka akan datang dengan 80 panji (bendera), dan di bawah setiap panji terdapat 12.000 pasukan. Jika dijumlahkan, total pasukan mereka mencapai 960.000 personel.
Al-Malhamah Al-Kubra: Perang Terdahsyat dalam Sejarah
Perang besar ini akan berlangsung di wilayah Syam, khususnya di daerah yang disebut Al-Ghoutah, dekat Damaskus. Ini adalah perang yang sangat mematikan. Hadis menggambarkan bahwa jika seekor burung terbang melintasi medan laga, ia akan jatuh mati sebelum sampai ke ujungnya karena banyaknya jenazah yang bergelimpangan.
Dalam pertempuran ini, umat Islam akan terbagi menjadi tiga kelompok:
-
Sepertiga pasukan akan melarikan diri dari medan perang (mereka tidak akan diampuni Allah).
-
Sepertiga pasukan akan gugur sebagai syuhada terbaik di sisi Allah.
-
Sepertiga pasukan sisanya akan meraih kemenangan dan menaklukkan Konstantinopel untuk kedua kalinya.
Mengapa Bangsa Romawi Sangat Penting dalam Nubuat?
Kisah mengenai bangsa Rum bukan sekadar dongeng masa lalu, melainkan peringatan bagi umat Islam untuk selalu waspada terhadap dinamika politik global. Banyak pakar dan literatur menggambarkan bangsa Rum sebagai bangsa yang tangguh, cerdas dalam berperang, namun mudah berkhianat jika kepentingan ideologis mereka terusik.
Amru bin Ash pernah memuji karakter bangsa Rum dengan menyebutkan bahwa mereka adalah orang yang paling tenang saat terjadi fitnah (kekacauan), paling cepat bangkit setelah musibah, dan paling baik terhadap fakir miskin di kalangan mereka. Namun, semua kebaikan itu tidak menghalangi mereka untuk memerangi umat Islam di fase puncak akhir zaman.
Relevansi Bangsa Rum dengan Kondisi Geopolitik Saat Ini
Banyak pengamat mengaitkan nubuat ini dengan kondisi politik dunia saat ini. Sebagian berpendapat bahwa bangsa Rum adalah blok Barat (NATO), sementara yang lain melihat Rusia (Romawi Timur yang baru) sebagai kandidat kuat. Namun, para ulama memperingatkan kita agar tidak terburu-buru memastikan negara mana yang dimaksud, karena perjalanan waktu yang akan membuktikan kebenaran nubuat akhir zaman sebagai perkara gaib.
Yang paling penting bagi umat Islam bukanlah sibuk menebak-nebak nama negara, melainkan mempersiapkan diri dengan iman dan amal saleh. Perang melawan bangsa Rum adalah ujian loyalitas dan kesabaran bagi kaum mukmin sebelum menghadapi fitnah yang lebih besar, yaitu Dajjal.
Bangsa Rum adalah entitas yang memegang peranan kunci dalam skenario akhir zaman. Mereka adalah cerminan dari kekuatan besar dunia yang akan bersekutu namun akhirnya mengkhianati umat Islam. Pemahaman atas nubuat ini mendorong kita untuk lebih peka terhadap tanda-tanda zaman dan memperkuat persatuan umat agar tidak mudah terombang-ambing oleh pengkhianatan serta konspirasi di masa depan.
Kemenangan akhir tetap berada di tangan umat Islam, namun jalan menuju ke sana penuh dengan tetesan darah, air mata, dan ujian keimanan yang sangat berat. Semoga kita termasuk golongan yang istiqamah dalam kebenaran hingga akhir hayat.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
