Ibadah Khazanah
Beranda » Berita » Memahami Teologi Islam Transformatif: Kritik Atas Istilah Wahabi Lingkungan

Memahami Teologi Islam Transformatif: Kritik Atas Istilah Wahabi Lingkungan

Teologi Islam Transformatif
Teologi Islam Transformatif

SURAU.CO – Isu kerusakan alam di Indonesia belakangan ini menjadi sorotan tajam, terutama setelah serangkaian bencana hidrometeorologi yang melanda berbagai wilayah. Fenomena ini memicu diskusi hangat mengenai bagaimana perspektif agama, khususnya Teologi Islam Transformatif, memandang hubungan antara manusia, industri ekstraktif, dan pelestarian lingkungan. Salah satu istilah yang mendadak viral dalam perdebatan ini adalah “Wahabi Lingkungan.”

Tragedi Ekologis di Sumatra: Alarm Bagi Kita Semua

Pada penghujung tahun 2025, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan rentetan bencana banjir dan tanah longsor yang dahsyat di Sumatra. Wilayah seperti Aceh, Sumatera Barat, hingga Sumatera Utara mengalami dampak yang sangat memilukan. Ribuan rumah terendam, ratusan jiwa melayang, dan infrastruktur vital lumpuh total.

Meskipun curah hujan ekstrem sering dituding sebagai penyebab utama, masyarakat mulai kritis. Muncul pertanyaan besar: apakah ini murni bencana alam atau ada campur tangan manusia melalui deforestasi dan pertambangan yang tidak bertanggung jawab? Di sinilah relevansi Teologi Islam Transformatif mulai diuji untuk membedah akar permasalahan secara moral dan struktural.

Polemik Istilah Wahabi Lingkungan

Sebelum bencana ini mencapai puncaknya, sebuah perdebatan di televisi nasional sempat mencuri perhatian publik. Diskusi tersebut mempertemukan tokoh agama dan aktivis lingkungan mengenai izin tambang nikel. Dalam momen tersebut, muncul label “Wahabi Lingkungan” yang ditujukan kepada para aktivis yang menolak total aktivitas pertambangan (zero-mining).

Istilah ini digunakan sebagai metafora untuk menggambarkan sikap yang dianggap puritan, ekstrem, dan tidak kompromi terhadap pembangunan ekonomi. Namun, apakah pelabelan ini tepat secara teologis? Ataukah ini hanya sekadar alat retorika untuk membungkam kritik ekologis?

Keutamaan Malam Nisyfu Sya’ban: Teladan Ibadah Rasulullah dan Warisan Para Ulama

Apa Itu Teologi Islam Transformatif?

Teologi Islam Transformatif bukan sekadar kajian tentang keesaan Tuhan (tauhid) di atas kertas. Sebaliknya, pendekatan ini melihat agama sebagai kekuatan etis yang harus mendorong perubahan sosial dan keadilan. Teologi ini berupaya membela kelompok yang lemah dan mengoreksi struktur kekuasaan yang merusak tatanan kehidupan.

Dalam konteks lingkungan, Teologi Islam Transformatif berpijak pada prinsip Maqasid al-Syari’ah (tujuan-tujuan syariat). Salah satu pilar utamanya adalah Hifz al-Bi’ah atau menjaga lingkungan. Manusia dipandang bukan sebagai pemilik alam semesta yang bebas mengeksploitasi, melainkan sebagai khalifah (wakil Tuhan) yang diberi amanah untuk merawat bumi.

Kritik Teologis Terhadap Label Wahabi Lingkungan

Menurut pandangan Teologi Islam Transformatif, penggunaan istilah “Wahabi Lingkungan” adalah sebuah kesalahan kategori (category error). “Wahabi” adalah label teologis yang berkaitan dengan paham keagamaan tertentu, sementara isu lingkungan adalah wilayah ilmiah dan etika kemanusiaan.

Menyamakan aktivisme lingkungan dengan ekstremisme agama merupakan sebuah analogi yang keliru (false equivalence). Berikut adalah beberapa alasan mengapa label tersebut dianggap problematis:

  1. Delegitimasi Perjuangan Ekologis: Label ini berpotensi merendahkan upaya tulus para aktivis dalam menjaga keberlangsungan hidup manusia.

    Membangun Narasi Persatuan di Tengah Polarisasi: Belajar dari Kitab Al-Fashl Ibnu Hazm

  2. Pengalihan Isu: Fokus perdebatan beralih dari kerusakan nyata di lapangan menjadi perdebatan istilah atau sentimen keagamaan.

  3. Mengabaikan Peran Profetik Agama: Agama seharusnya menjadi pengawas (amar ma’ruf nahi munkar) terhadap perusakan bumi (fasad fi al-ardh), bukan justru memberi stempel negatif pada mereka yang peduli alam.

Al-Qur’an dan Tanggung Jawab Ekologis

Islam secara tegas melarang segala bentuk kerusakan di muka bumi. Dalam QS. Al-A’raf ayat 56, Allah SWT memerintahkan manusia untuk tidak berbuat kerusakan setelah Allah memperbaikinya. Selain itu, QS. Ar-Rum ayat 41 menegaskan bahwa kerusakan di darat dan di laut adalah akibat ulah tangan manusia sendiri.

Oleh karena itu, sikap kritis terhadap tambang yang destruktif bukanlah bentuk “Wahabisme.” Justru, sikap tersebut adalah manifestasi dari iman yang peduli pada keselamatan generasi mendatang. Teologi Islam Transformatif menegaskan bahwa menjaga keseimbangan alam (mizan) adalah bagian integral dari ketauhidan.

Pembangunan vs Pelestarian: Mencari Jalan Tengah

Seringkali, narasi pembangunan dipertentangkan dengan pelestarian lingkungan. Pihak yang pro-eksploitasi menganggap perlindungan alam yang ketat akan menghambat kesejahteraan. Namun, Teologi Islam Transformatif menolak dikotomi palsu ini.

Politik Harapan: Menggerakkan Perubahan Tanpa Kekerasan melalui Keteguhan Iman

Moderasi (wasatiyyah) dalam perspektif ekologi bukan berarti mengambil jalan tengah antara merusak dan menjaga. Moderasi yang sesungguhnya adalah memastikan pembangunan bersifat etis, berkelanjutan, dan berpihak pada kehidupan. Pembangunan yang menghancurkan daya dukung lingkungan sebenarnya adalah bentuk “ekstremisme pembangunan” yang mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan demi keuntungan jangka pendek.

Agama Sebagai Penjaga Kehidupan

Bencana banjir dan longsor yang terjadi di berbagai pelosok negeri adalah pengingat bahwa alam memiliki batas. Teologi Islam Transformatif memberikan kerangka berpikir bahwa membela lingkungan adalah bagian dari ibadah dan tanggung jawab moral yang paling tinggi.

Istilah seperti “Wahabi Lingkungan” sebaiknya ditinggalkan karena tidak memiliki dasar teologis yang kuat dan hanya berfungsi sebagai alat politik. Sebaliknya, kita perlu memperkuat kolaborasi antara nilai-nilai agama dan data ilmiah untuk menyelamatkan bumi. Sebagai penutup, tugas utama manusia adalah menjadi penjaga kehidupan, memastikan bahwa setiap tindakan kita di muka bumi tidak meninggalkan warisan kehancuran bagi anak cucu kita.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.