SURAU.CO – Sejarah Islam tidak hanya berisi tentang narasi peperangan dan ekspansi wilayah, tetapi juga menyimpan catatan emas mengenai toleransi dan inklusivitas. Salah satu kisah yang sangat menarik untuk diulas adalah kebijakan personal dari Muawiyah bin Abi Sufyan. Sebagai pendiri Dinasti Umayyah, kisah Khalifah Muawiyah menikahi perempuan non-muslim menjadi bukti nyata bagaimana Islam sejak dini telah berinteraksi secara harmonis dengan pemeluk agama lain.
Artikel ini akan mengupas tuntas latar belakang, sosok istri Muawiyah yang berasal dari kalangan Nasrani, serta relevansi nilai-nilai toleransi tersebut dalam konteks kehidupan berbangsa saat ini.
Siapakah Sosok Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan?
Sebelum membahas mengenai pernikahannya, penting bagi kita untuk mengenal siapa Muawiyah bin Abi Sufyan. Beliau adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang memiliki kecerdasan politik luar biasa. Di bawah kepemimpinannya, administrasi negara Islam mulai tertata rapi.
Namun, di balik ketegasan politiknya, Muawiyah dikenal sebagai sosok yang sangat terbuka terhadap kemajemukan. Di wilayah Syam (Suriah), yang saat itu menjadi pusat kekuasaannya, penduduknya terdiri dari berbagai latar belakang etnis dan agama, termasuk Kristen dan Yahudi. Dalam lingkungan yang heterogen inilah, Muawiyah menunjukkan kualitas kepemimpinannya yang inklusif.
Maysun binti Bahdal: Sosok Istri Non-Muslim di Sisi Khalifah
Dalam catatan sejarah, Khalifah Muawiyah diketahui menikahi seorang perempuan bernama Maysun binti Bahdal. Maysun berasal dari klan Banu Kalb, sebuah suku Arab yang sangat berpengaruh di wilayah Suriah. Menariknya, pada saat pernikahan tersebut berlangsung, Maysun adalah seorang penganut agama Nasrani (Kristen).
Pernikahan ini bukan sekadar urusan asmara, melainkan juga memiliki dimensi politik dan sosial yang kuat. Dominasi Suku Banu Kalb di perbatasan dimanfaatkan Muawiyah untuk mempererat hubungan pemerintahan Islam dengan warga Kristen melalui pernikahannya dengan Maysun.
Kehidupan Maysun di Istana Damaskus
Meskipun menyandang status sebagai istri seorang pemimpin besar umat Islam, Maysun tetap mempertahankan identitas pribadinya. Beliau dikenal sebagai sosok perempuan yang cerdas dan ahli dalam bersyair. Namun, ada satu sisi unik dari kisah ini: Maysun sering merasa tidak betah hidup dalam kemewahan istana di Damaskus.
Beliau lebih merindukan kehidupan gurun pasir yang bebas dan sederhana. Salah satu bait syairnya yang terkenal menggambarkan kerinduannya pada kampung halaman dan ketidaksukaannya pada kemegahan istana. Muawiyah memberikan kebebasan berekspresi kepada istrinya tanpa memaksakan kehendak maupun merenggut jati diri sang istri.
Mengapa Pernikahan Ini Menjadi Penting dalam Sejarah?
Kisah Khalifah Muawiyah menikahi perempuan non-muslim ini memberikan beberapa poin penting bagi pemahaman kita tentang Islam klasik:
-
Pengakuan Terhadap Ahli Kitab: Islam secara syariat memang membolehkan pria Muslim menikahi wanita dari kalangan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani). Tindakan Muawiyah adalah implementasi nyata dari hukum tersebut di tingkat pemimpin tertinggi.
-
Diplomasi Melalui Pernikahan: Pernikahan ini menjadi jembatan komunikasi antara penguasa Muslim dengan rakyatnya yang non-muslim. Hal ini menciptakan stabilitas keamanan di wilayah Syam.
-
Penghormatan Terhadap Hak Individu: Muawiyah tidak memaksa istrinya untuk segera berpindah keyakinan. Hubungan mereka didasarkan pada rasa saling menghormati.
Kelahiran Yazid bin Muawiyah
Dari pernikahan dengan Maysun binti Bahdal inilah lahir Yazid bin Muawiyah, yang kelak akan meneruskan takhta ayahnya. Fakta bahwa ibu dari seorang Khalifah adalah seorang perempuan yang memiliki latar belakang keluarga Nasrani menunjukkan betapa cairnya interaksi antaragama pada masa itu. Yazid bahkan banyak menghabiskan masa kecilnya di lingkungan suku ibunya di padang pasir, yang memberikan pengaruh besar pada karakter dan kemampuan bahasa Arabnya yang fasih.
Pelajaran Toleransi untuk Indonesia Saat Ini
Jika kita merefleksikan kisah Khalifah Muawiyah ini ke dalam konteks Indonesia saat ini, terdapat pesan moral yang sangat kuat. Saat ini, sering muncul narasi-narasi kelompok tertentu yang mencoba membatasi peran non-muslim atau menutup diri dari interaksi lintas iman dalam ranah sosial-politik.
Kisah Muawiyah membuktikan bahwa:
-
Inklusivitas adalah Bagian dari Tradisi Islam: Sejak masa sahabat, Islam sudah terbiasa hidup berdampingan dengan pemeluk agama lain, bahkan dalam ikatan keluarga penguasa.
-
Toleransi Bukan Berarti Mengorbankan Akidah: Muawiyah tetaplah seorang pemimpin Muslim yang taat, namun beliau mampu menempatkan toleransi sebagai instrumen untuk menjaga keharmonisan negara.
-
Melawan Narasi Eksklusivisme: Jika seorang Khalifah besar saja bisa membangun rumah tangga dengan perempuan non-muslim, maka tidak ada alasan bagi kita untuk menolak kerja sama dengan sesama warga negara yang berbeda agama demi kemajuan bangsa.
Warisan Kebijaksanaan Muawiyah
Kisah Khalifah Muawiyah menikahi perempuan non-muslim, Maysun binti Bahdal, adalah fragmen sejarah yang harus terus diingat. Ini adalah pengingat bahwa Islam adalah agama yang fleksibel dalam urusan sosial dan sangat menghargai kemanusiaan.
Dalam membangun peradaban yang besar, diperlukan hati yang lapang dan pikiran yang terbuka. Sebagaimana Muawiyah yang berhasil menstabilkan wilayah Syam dengan merangkul berbagai elemen masyarakat, kita pun di Indonesia harus mengedepankan dialog dan toleransi di atas perbedaan.
Sejarah mengajarkan kita bahwa kita hanya bisa mencapai perdamaian dan kemajuan jika kita berhenti memandang perbedaan sebagai ancaman dan mulai melihatnya sebagai kekayaan yang saling melengkapi. Semoga kisah ini menjadi inspirasi bagi kita semua untuk terus menjaga persatuan di tengah keberagaman.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
