SURAU.CO – Momen menjelang Idul Fitri selalu identik dengan kegembiraan, takbir yang berkumandang, dan tentu saja tradisi mengenakan pakaian terbaik. Bagi anak-anak, baju baru adalah simbol kebahagiaan yang tak tergantikan. Namun, tahukah Anda bahwa cucu kesayangan Rasulullah SAW, Hasan dan Husain, pernah mengalami momen mengharukan di mana mereka tidak memiliki baju baru saat lebaran hampir tiba?
Kisah ini bukan sekadar cerita sejarah, melainkan pelajaran mendalam tentang kesederhanaan, kasih sayang orang tua, dan bagaimana Allah SWT memuliakan keluarga Nabi. Mari kita simak ulasan lengkapnya.
Kesederhanaan Keluarga Sayyidah Fatimah dan Ali bin Abi Thalib
Meskipun Hasan dan Husain adalah cucu dari pemimpin besar umat Islam, kehidupan orang tua mereka, Sayyidah Fatimah Az-Zahra dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib, sangatlah sederhana. Mereka hidup jauh dari kemewahan. Seringkali, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari pun mereka harus bekerja keras.
Mendekati hari raya Idul Fitri, Hasan dan Husain melihat anak-anak di Madinah mulai bersiap dengan pakaian baru yang indah. Sebagai anak-anak pada umumnya, muncul keinginan yang sama dalam hati mereka. Keduanya kemudian menghampiri sang ibu, Sayyidah Fatimah.
“Wahai Ibunda, anak-anak di Madinah telah dihiasi dengan pakaian baru untuk lebaran, mengapa kami belum memiliki pakaian seperti mereka?” tanya mereka dengan polos.
Jawaban Bijak Seorang Ibu yang Menahan Kesedihan
Mendengar pertanyaan tersebut, hati Sayyidah Fatimah tentu tersayat. Sebagai seorang ibu, beliau sangat ingin membahagiakan putra-putranya, namun kenyataannya mereka tidak memiliki uang untuk membeli kain maupun menjahit baju baru.
Agar tidak membuat anak-anaknya sedih, Sayyidah Fatimah menjawab dengan tenang dan penuh kasih, “Anak-anakku, baju kalian masih ada di tukang jahit. Sabarlah.”
Jawaban ini diberikan untuk menenangkan hati Hasan dan Husain. Namun, di balik senyuman itu, Sayyidah Fatimah merasa bimbang dan terus berdoa kepada Allah SWT agar diberikan jalan keluar. Beliau tidak ingin melihat air mata di wajah kedua cucu kesayangan Rasulullah tersebut.
Malam Takbir yang Penuh Haru
Waktu terus berjalan hingga malam Idul Fitri tiba. Suara takbir mulai menggema di seluruh penjuru Madinah. Kegembiraan menyelimuti kota, namun di rumah Sayyidah Fatimah, suasana terasa berbeda. Hasan dan Husain kembali bertanya tentang baju baru yang dijanjikan.
“Ibu, ini sudah malam takbir, apakah baju kami sudah selesai?” tanya mereka lagi.
Sayyidah Fatimah tidak mampu lagi menahan kesedihannya. Beliau menangis dalam diam, merasa pilu karena belum bisa mewujudkan keinginan sederhana anak-anaknya. Beliau hanya bisa bersandar pada pertolongan Allah SWT di malam yang suci tersebut.
Keajaiban dari Langit: Kedatangan “Tukang Jahit” Misterius
Di tengah kesedihan yang mendalam, tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu rumah. Sayyidah Fatimah segera menghampiri dan bertanya, “Siapakah di luar?”
Seorang pria menjawab dari balik pintu, “Wahai putri Rasulullah, aku adalah tukang jahit yang membawakan pakaian untuk putra-putramu.”
Begitu pintu dibuka, seorang pria menyerahkan sebuah bingkisan yang harum dan indah. Setelah menyerahkannya, pria itu pun pergi. Sayyidah Fatimah dengan tergesa-gesa membuka bungkusan tersebut. Betapa terkejutnya beliau saat melihat isinya: dua setel pakaian lengkap dengan gamis, mantel, sorban, hingga sepatu yang sangat indah—bahkan jauh lebih indah dari pakaian manapun yang ada di dunia saat itu.
Beliau segera membangunkan Hasan dan Husain yang sudah tertidur. Betapa bahagianya kedua anak itu saat mengenakan pakaian tersebut. Mereka terlihat sangat tampan dan gagah dalam balutan baju baru itu.
Penjelasan Rasulullah SAW: Malaikat Ridwan yang Datang
Keesokan paginya, Rasulullah SAW berkunjung ke rumah Sayyidah Fatimah untuk merayakan Idul Fitri. Beliau melihat kedua cucunya mengenakan pakaian yang sangat indah dan memancarkan cahaya. Rasulullah kemudian bertanya kepada putrinya.
“Wahai Fatimah, apakah engkau tahu siapa yang membawakan baju-baju ini?”
Sayyidah Fatimah menjawab, “Benar Ayahanda, kemarin malam ada seorang tukang jahit yang mengantarkannya.”
Sambil tersenyum haru, Rasulullah SAW menjelaskan, “Ketahuilah wahai putriku, dia bukanlah tukang jahit biasa. Dia adalah Malaikat Ridwan, penjaga surga. Allah SWT tidak ingin melihat kedua cucuku bersedih di hari raya ini.”
Hikmah yang Bisa Kita Petik
Kisah ini memberikan banyak pelajaran berharga bagi umat Islam, terutama dalam menyambut hari raya Idul Fitri:
-
Kemuliaan Kesederhanaan: Keluarga Rasulullah mengajarkan bahwa kemuliaan tidak diukur dari harta, melainkan dari ketakwaan dan kesabaran dalam menghadapi ujian hidup.
-
Pentingnya Membahagiakan Anak: Sayyidah Fatimah menunjukkan kasih sayang yang luar biasa. Berusaha membahagiakan anak di hari raya adalah bagian dari ibadah.
-
Kekuatan Doa: Di saat manusia merasa tidak memiliki daya, Allah SWT adalah sebaik-baiknya penolong. Keajaiban bisa datang dari arah yang tidak disangka-sangka bagi hamba-Nya yang sabar.
-
Baju Baru Bukan Segalanya: Meski Hasan dan Husain mendapatkan baju dari surga, pesan moralnya adalah bahwa kebahagiaan sejati saat lebaran adalah kembalinya kita kepada fitrah dan kesucian hati.
Tradisi baju baru saat lebaran memang sudah ada sejak zaman dahulu, namun kisah Hasan dan Husain ini mengingatkan kita untuk tidak berlebih-lebihan. Jika kita mampu, bersyukurlah dan jangan lupa berbagi kepada mereka yang membutuhkan. Jika belum mampu, yakinlah bahwa Allah SWT selalu memperhatikan hamba-Nya yang bersabar. Semoga kisah cucu Rasulullah SAW ini menginspirasi kita semua untuk lebih memaknai Idul Fitri dengan rasa syukur dan kasih sayang kepada sesama.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
