SURAU.CO – Dalam khazanah keilmuan Islam, kita mengenal berbagai sumber hukum dan tuntunan hidup. Selain Al-Qur’an sebagai mukjizat utama, umat Islam juga merujuk pada hadits. Namun, taukah Anda bahwa hadits sendiri terbagi menjadi beberapa jenis? Salah satu yang paling istimewa adalah Hadits Qudsi. Banyak orang masih bingung perbedaan antara Hadits Qudsi, Hadits Nabawi, dan Al-Qur’an. Padahal, pemahaman yang tepat mengenai hal ini sangat penting agar kita bisa memosisikan setiap dalil sesuai dengan porsinya. Artikel ini akan membahas secara mendalam apa itu Hadits Qudsi, karakteristiknya, hingga perbedaannya dengan Hadits Nabawi.
Apa Itu Hadits Qudsi?
Secara etimologi, kata “Qudsi” berasal dari akar kata bahasa Arab qudus yang berarti suci atau bersih. Penamaan ini merujuk pada sifat Allah SWT yang Maha Suci (Al-Quddus). Jadi, secara bahasa, Hadits Qudsi dapat diartikan sebagai hadits yang disandarkan kepada Zat yang Maha Suci.
Secara terminologi, para ulama ahli hadits mendefinisikan Hadits Qudsi sebagai firman Allah SWT yang Nabi Muhammad SAW sampaikan menggunakan redaksi atau pilihan kata beliau sendiri. Dalam hal ini, wahyu yang turun kepada Nabi berupa makna atau ide dasarnya saja, kemudian Rasulullah SAW menyampaikannya kepada umat dengan bahasa beliau.
Oleh karena itu, dalam penyampaiannya, Hadits Qudsi biasanya diawali dengan kalimat, “Rasulullah SAW bersabda, Allah SWT berfirman…” atau “Allah SWT berfirman dalam apa yang diriwayatkan oleh Rasulullah SAW…”
Perbedaan Mendasar Hadits Qudsi dan Hadits Nabawi
Meskipun keduanya sama-sama keluar dari lisan Nabi Muhammad SAW, terdapat perbedaan fundamental antara Hadits Qudsi dan Hadits Nabawi yang harus dipahami oleh setiap Muslim.
1. Sumber Makna dan Lafaz
Ini adalah perbedaan yang paling mencolok. Pada Hadits Nabawi, baik makna maupun lafaznya (redaksi bahasanya) berasal dari Nabi Muhammad SAW sendiri berdasarkan bimbingan wahyu. Sedangkan pada Hadits Qudsi, maknanya murni dari Allah SWT, namun lafaz atau susunan kalimatnya disusun oleh Rasulullah SAW.
2. Penisbatan (Penyandaran)
Para ulama menyandarkan Hadits Nabawi secara langsung kepada sosok Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa risalah. Sebaliknya, mereka menyandarkan Hadits Qudsi langsung kepada Allah SWT. Alasan inilah yang membuat banyak orang sering menyebut Hadits Qudsi dengan istilah Hadits Ilahi atau Hadits Rabbani.
3. Ruang Lingkup Materi
Umumnya, Hadits Nabawi mencakup seluruh aspek kehidupan, mulai dari hukum fikih (ibadah dan muamalah), tata cara salat, hingga masalah warisan. Sementara itu, isi dari Hadits Qudsi lebih spesifik. Kebanyakan Hadits Qudsi berisi tentang masalah ketauhidan, penyucian jiwa (tazkiyatun nufus), kasih sayang Allah, ampunan, serta motivasi untuk beribadah.
4. Jumlah Hadits
Dari segi kuantitas, Hadits Nabawi berjumlah sangat banyak, mencapai puluhan ribu yang tersebar di berbagai kitab kutubus sittah. Di sisi lain, jumlah Hadits Qudsi relatif jauh lebih sedikit, diperkirakan hanya berjumlah ratusan saja.
Perbedaan Hadits Qudsi dengan Al-Qur’an
Sering muncul pertanyaan: “Jika Hadits Qudsi adalah firman Allah, lalu apa bedanya dengan Al-Qur’an?” Meskipun sama-sama bersumber dari Allah, kedudukan keduanya sangat berbeda:
-
Aspek Mukjizat: Al-Qur’an adalah mukjizat yang tidak ada satu makhluk pun mampu menandinginya. Sedangkan Hadits Qudsi bukan merupakan mukjizat yang digunakan untuk menantang kaum kafir.
-
Nilai Ibadah dalam Membaca: Membaca satu huruf Al-Qur’an bernilai sepuluh kebaikan dan merupakan ibadah khusus. Membaca Hadits Qudsi memang berpahala sebagai aktivitas menuntut ilmu, namun tidak mendapatkan keutamaan pahala per huruf sebagaimana Al-Qur’an.
-
Penggunaan dalam Salat: Ayat Al-Qur’an wajib dibaca dalam salat (terutama Al-Fatihah), sedangkan Hadits Qudsi tidak boleh dibaca sebagai pengganti bacaan salat.
-
Metode Periwayatan: Jalan mutawatir (periwayatan oleh banyak orang yang mustahil berbohong) menyampaikan seluruh ayat Al-Qur’an kepada kita dengan jaminan kepastian yang absolut. Sementara Hadits Qudsi ada yang berstatus shahih, hasan, bahkan dhaif (lemah), tergantung kekuatan sanadnya.
Contoh Hadits Qudsi yang Populer
Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, berikut adalah salah satu contoh Hadits Qudsi yang sangat masyhur mengenai kasih sayang Allah:
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي ، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ، ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي ، وَإِنْ ذَكَرنِي فِي مَلَأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ )) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku pun mengingatnya dalam diri-Ku…” (HR. Bukhari & Muslim).
Dalam hadits di atas, kita bisa melihat bahwa meskipun narasinya disampaikan oleh Nabi, isi pesannya menggunakan kata ganti orang pertama (“Aku”) yang merujuk langsung kepada Allah SWT.
Mengapa Mempelajari Hadits Qudsi Itu Penting?
Memahami Hadits Qudsi memberikan dimensi spiritual yang berbeda bagi seorang Muslim. Hadits-hadits ini seringkali menyentuh sisi emosional hamba dengan Tuhannya. Dengan mempelajari Hadits Qudsi, kita bisa lebih mengenal betapa luasnya ampunan Allah, betapa besarnya perhatian Allah kepada hamba-Nya yang berdoa, dan bagaimana Allah mengatur urusan hamba-Nya dengan penuh kebijaksanaan.
Selain itu, dengan mengetahui klasifikasi hadits, kita tidak akan terjebak dalam salah kutip atau salah memosisikan sebuah dalil. Kita menjadi tahu mana yang merupakan aturan hukum praktis (Nabawi) dan mana yang merupakan pesan cinta serta kesucian dari Allah (Qudsi).
Hadits Qudsi adalah jembatan maknawi antara Al-Qur’an dan Hadits Nabawi. Ia membawa pesan ketuhanan dengan balutan bahasa kenabian. Memahami perbedaan antara Hadits Qudsi dan Hadits Nabawi adalah langkah awal untuk memperdalam ilmu agama secara sistematis.
Semoga penjelasan ini bermanfaat bagi Anda dalam menambah wawasan keislaman. Dengan memahami sumber-sumber ajaran Islam secara benar, kita dapat menjalankan ibadah dengan lebih mantap dan penuh keyakinan.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
