Sosok
Beranda » Berita » KH. Ahmad Azhar Basyir: Ulama Intelektual yang Menjembatani Tradisi dan Modernitas

KH. Ahmad Azhar Basyir: Ulama Intelektual yang Menjembatani Tradisi dan Modernitas

KH. Ahmad Azhar Basyir: Ulama Intelektual yang Menjembatani Tradisi dan Modernitas
KH. Ahmad Azhar Basyir: Ulama Intelektual yang Menjembatani Tradisi dan Modernitas

 

SURAU.CO – KH. Ahmad Azhar Basyir adalah contoh nyata ulama pembelajar yang memadukan ketajaman analisis filsafat dengan kedalaman nilai-nilai Islam. Beliau mengajar di beberapa universitas ternama, seperti IAIN Sunan Kalijaga, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dan Fakultas Hukum UGM.

Bagi Azhar, ilmu bukan sekadar sarana untuk berpikir, melainkan jalan untuk beribadah dan memuliakan kehidupan manusia. Rihlah ilmiahnya dari Yogyakarta ke Baghdad, lalu ke Kairo, menunjukkan bahwa baginya, ilmu bukan sekadar gelar atau kedudukan, melainkan jalan menuju pengabdian dan pencerahan umat.

Berbicara Jernih dan Penuh Makna

Azhar Basyir dikenal sebagai dosen dan ilmuwan yang teliti, disiplin, dan rendah hati. Beliau digambarkan sebagai sosok yang terbuka terhadap dialog dan memiliki kemampuan berbicara yang jernih dan penuh makna. Dalam setiap kuliah dan pidatonya, Azhar selalu menekankan pentingnya menjadikan agama sebagai sumber pencerahan, bukan dogma yang menakutkan.

Di luar dunia akademik, Azhar Basyir juga aktif dalam organisasi Muhammadiyah. Beliau terpilih menjadi Ketua Pemuda Muhammadiyah pada tahun 1954 dan kembali dikukuhkan dalam Muktamar di Palembang tahun 1956. Kepemimpinannya yang tenang, rasional, dan tegas membuatnya dihormati oleh berbagai kalangan. Karier organisasinya terus menanjak hingga ia dipercaya menduduki posisi penting di Majelis Tarjih Muhammadiyah.

Islam dalam Sorotan: Menjawab Retorika “Islam Membenci Kita”

Azhar Basyir memainkan peran penting dalam mengembangkan hukum Islam di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah, menampilkan wajah fiqh yang kontekstual dan terbuka terhadap realitas sosial. Ia memimpin Majelis Tarjih pada 1985-1990 dan terpilih sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada Muktamar ke-42 di Yogyakarta tahun 1995. Sebagai Ketua Umum, Azhar Basyir membawa corak kepemimpinan yang menyeimbangkan rasionalitas dan spiritualitas, menegaskan bahwa Muhammadiyah memiliki dimensi tasawuf dan menekankan pentingnya akal dan dzikir dalam perjalanan iman.

Tokoh Berpengaruh Dalam Pengembangan Islam

Di bawah arahannya, Muhammadiyah semakin intens menggelar pengajian, seminar, dan kajian pemikiran Islam yang membuka ruang dialog antara ulama, cendekiawan, dan masyarakat. Azhar Basyir tampil sebagai ulama intelektual yang mampu menjembatani antara ortodoksi dan modernitas, membuatnya disegani di berbagai forum nasional maupun internasional.

Selain aktif di Muhammadiyah, Azhar Basyir juga memegang sejumlah posisi penting, seperti Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, anggota Dewan Pengawas Syariah Bank Muamalat Indonesia, dan anggota MPR-RI. Kiprahnya yang meluas ini menunjukkan bahwa ia adalah tokoh yang berpengaruh dalam pengembangan Islam di Indonesia.

KH. Ahmad Azhar Basyir adalah contoh nyata ulama yang memiliki integritas moral dan, oleh karena itu, kapasitas intelektual yang tinggi. Beliau diakui sebagai ahli fikih yang disegani, baik di dalam maupun luar negeri, dan menjadi anggota Lembaga Fiqh Islam Organisasi Konferensi Islam (OKI). Azhar Basyir juga produktif menulis dan beberapa karyanya menjadi rujukan akademik di perguruan tinggi Islam di Indonesia.

Beberapa karya terkenal Azhar Basyir antara lain:
– Hukum Adat Bagi Umat Islam (1983)
– Hukum Perkawinan Islam (1990)
– Asas-Asas Hukum Muamalat Dan Hukum Perdata Islam (2000)
– Pokok-Pokok Persoalan Filsafat Hukum Islam (1992)
– Hukum Waris Islam (2001)
– Ikhtisar Fikih Jinayat Hukum Pidana Islam (2001).

Warisan Intelektual dan Keteladanan KH. Achmad Siddiq

Peran Ulama Sebagai Pusat Penafsir Zaman

Azhar Basyir membuktikan bahwa kecendekiaan Islam dapat berjalan beriringan dengan semangat rasionalitas modern, sekaligus, tanpa kehilangan kedalaman spiritualnya. Beliau menegaskan peran ulama bukan sekadar penjaga moral umat, tetapi juga penafsir zaman.

KH. Ahmad Azhar Basyir menekankan pentingnya peran ulama dalam Muhammadiyah. Selanjutnya, ulama harus mampu menggali ajaran Islam dari sumber aslinya. Mereka juga harus mengamalkan ilmunya dalam kehidupan nyata. Ulama sejati memiliki kesanggupan untuk menjadi pembimbing umat agar menjalani kehidupan sesuai dengan tuntunan ajaran Islam. Azhar Basyir memandang perlu pertemuan ulama dan intelektual Muslim. Dengan demikian, pertemuan ini untuk memahami ajaran Islam secara holistik dan multidisipliner. Selanjutnya, ulama dan intelektual dari berbagai disiplin ilmu dilibatkan dalam proses ini.

Gagasan regenerasi ulama di Muhammadiyah diwujudkan dalam Seminar Nasional 1992. “Ulama Muhammadiyah: Membangun Laboratorium Keilmuan”. Selanjutnya, Azhar Basyir wafat pada 28 Juni 1994, meninggalkan warisan penting bagi Muhammadiyah dan umat Islam. Beliau dimakamkan di Pemakaman Umum Karangkajen, Yogyakarta, setelah dirawat di rumah sakit karena komplikasi penyakit. (Basnang Said), (CM)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.