SURAU.CO – Sufisme adalah salah satu dimensi spiritual dalam Islam yang memiliki sejarah panjang dan dinamis. Secara umum, banyak orang memahami Sufisme sebagai upaya seorang hamba untuk membersihkan hatinya, memperbaiki akhlaknya, dan sedekat mungkin dengan Allah SWT. Namun, tahukah Anda bagaimana sejarah perkembangan Sufisme dalam Islam dimulai? Artikel ini akan mengulas secara mendalam perjalanan Sufisme dari waktu ke waktu, mulai dari akar asketisme para sahabat hingga menjadi sistem pemikiran dan praktik yang kompleks.
Akar Spiritual: Sufisme pada Zaman Nabi dan Para Sahabat
Meskipun istilah “Sufi” belum dikenal pada masa Nabi Muhammad SAW, esensi ajaran ini sudah dipraktikkan dalam kenyataan. Kehidupan Nabi yang sangat sederhana, kesukaannya menyendiri di Gua Hira, dan keteguhannya dalam beribadah adalah landasan utama Sufisme . Para sahabat seperti Abu Bakar As-Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Talib juga menunjukkan perilaku yang sama.
Pada masa itu, Sufisme lebih dikenal sebagai zuhud . Gerakan zuhud muncul sebagai reaksi alami terhadap perubahan sosial setelah penaklukan Mekah, di mana kemakmuran ekonomi mulai melanda umat Islam. Para sahabat memilih untuk menjauhkan diri dari kemewahan dunia demi menjaga kesucian iman. Kelompok Ahlus Suffah yang tinggal di serambi Masjidil Haram sering dianggap sebagai prototipe komunitas Sufi pertama dalam sejarah Islam.
Abad Pertama dan Kedua Hijriah: Fase Pembentukan (Zuhud)
Memasuki abad ke-1 dan ke-2 Hijriah, gerakan zuhud semakin mengkristal. Faktor pendorong utamanya adalah gejolak politik yang terjadi di internal umat Islam pasca-wafatnya Khalifah Usman bin Affan. Banyak kaum Muslim yang memilih untuk menarik diri dari konflik politik (’uzlah) dan memusatkan perhatian pada ibadah.
Tokoh kunci pada periode ini adalah Hasan al-Basri. Ia dikenal karena ajarannya tentang khauf (takut kepada Tuhan) dan raja’ (harapan akan rahmat-Nya). Selain itu, muncul pula seorang sufi wanita besar, Rabiah al-Adawiyah, yang memperkenalkan konsep Mahabbah (cinta murni kepada Tuhan). Rabiah mengajarkan bahwa cinta murni kepada Sang Pencipta harus menjadi satu-satunya dasar ibadah, bukan takut akan neraka atau keinginan akan surga.
Abad Ketiga Hijriah: Peralihan Menuju Tasawuf Sistematik
Sejarah Perkembangan Tasawuf dalam Islam abad ke-3 Hijriah, masyarakat mulai mempopulerkan istilah “tasawuf” dan para ulama mulai menyosialisasikan sistematika ajarannya. Para tokoh sufi pada masa ini mulai membicarakan maqamat (tahapan spiritual) dan hal (keadaan jiwa). Pada fase inilah, para pemikir membagi tasawuf ke dalam dua corak utama, yaitu tasawuf yang menekankan aspek moral/praktis dan tasawuf yang merambah ranah metafisika.
Satu tokoh yang sangat berpengaruh adalah Junaid al-Baghdadi. Ia dikenal sebagai pemimpin kaum sufi yang sangat moderat. Junaid menekankan bahwa pengalaman spiritual harus tetap berlandaskan pada Al-Qur’an dan Sunnah. Di sisi lain, muncul pula tokoh seperti Abu Yazid al-Busthami yang memperkenalkan konsep fana dan baqa, sebuah keadaan di mana ego manusia melebur dalam kebesaran Tuhan.
Abad Keempat Hijriah: Masa Kodifikasi dan Tantangan
Para ulama menandai abad ke-4 Hijriah dengan upaya membukukan ajaran-ajaran tasawuf. Mereka melakukan hal ini agar tasawuf memiliki landasan literatur yang kuat dan para ahli fikih tidak menganggapnya menyimpang. Buku-buku klasik seperti Al-Luma’ karya Abu Nashr as-Sarraj dan Qut al-Qulub karya Abu Thalib al-Makki lahir pada periode ini.
Meskipun demikian, ketegangan antara ahli tasawuf dan ahli fikih mulai menajam. Kasus yang paling fenomenal adalah eksekusi Al-Hallaj karena ucapannya “Ana al-Haq” (Akulah Kebenaran). Peristiwa ini menjadi titik balik penting dalam sejarah perkembangan tasawuf, di mana para sufi setelahnya menjadi lebih berhati-hati dalam mengungkapkan pengalaman spiritual mereka ke publik.
Abad Kelima Hijriah: Rekonsiliasi oleh Imam Al-Ghazali
Puncak dari sejarah perkembangan tasawuf terjadi pada abad ke-5 Hijriah. Pada masa ini, Imam al-Ghazali muncul sebagai sang “Hujjatul Islam” yang berhasil mendamaikan tasawuf dengan syariat. Melalui karya monumentalnya, Ihya’ Ulumuddin, Al-Ghazali membuktikan bahwa tasawuf adalah ruh dari ajaran Islam dan tidak bertentangan dengan fikih maupun akidah.
Sejak saat itu, tasawuf mendapatkan legitimasi luas di dunia Islam. Al-Ghazali mengajarkan tasawuf sunni, sebuah ajaran yang lebih menekankan pada perbaikan akhlak dan pensucian jiwa (tazkiyatun nafs) tanpa mengabaikan kewajiban-kewajiban formal dalam agama.
Abad Keenam Hijriah dan Seterusnya: Munculnya Tarekat
Setelah masa Al-Ghazali, para penganut tasawuf tidak lagi sekadar menjalankan praktik individual, melainkan mulai mengorganisasi tasawuf ke dalam lembaga yang bernama tarekat (thariqah). Dalam sistem ini, seorang mursyid (guru) memimpin metode atau jalan spiritual tersebut untuk membimbing murid-muridnya.
Beberapa ordo utama yang muncul dan masih bertahan hingga saat ini meliputi:
-
Tarekat Qadiriyah: Didirikan oleh Syekh Abdul Qadir al-Jailani.
-
Tarekat Rifa’iyah: Didirikan oleh Syekh Ahmad al-Rifa’i.
-
Tarekat Syadziliyah: Didirikan oleh Syekh Abu Hasan al-Syadzili.
-
Tarekat Naqshbandiyya : Yang menekankan pada zikir batin (rahasia).
Pada masa ini juga lahir tokoh tasawuf falsafi seperti Ibnu Arabi dengan konsep Wahdatul Wujud-nya. Meskipun konsep ini memicu perdebatan panjang, pengaruhnya terhadap sastra dan pemikiran Islam sangatlah luas.
Relevansi Tasawuf di Era Modern
Sejarah perkembangan tasawuf dalam Islam menunjukkan bahwa ajaran ini selalu relevan di tengah perubahan zaman. Dari gerakan zuhud yang sederhana hingga menjadi institusi tarekat yang kompleks, esensinya tetap sama: mengarahkan manusia untuk kembali kepada Allah SWT.
Di tengah hiruk-pikuk dunia modern yang materialistik, mempelajari sejarah dan ajaran tasawuf dapat memberikan ketenangan batin. Tasawuf mengajarkan kita bahwa kita tidak menemukan kebahagiaan sejati dalam tumpukan harta, melainkan dalam kedekatan hubungan antara seorang hamba dengan Tuhannya. Dengan memahami sejarahnya, kita dapat mengambil hikmah dari para cendekiawan terdahulu untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
