Dunia media sosial saat ini sangat ramai dengan istilah “spill the tea”. Istilah ini merujuk pada aksi membongkar rahasia atau aib seseorang ke publik. Banyak netizen menganggap aktivitas ini sebagai hiburan yang seru. Namun, apakah kita menyadari dampak spiritual dari kebiasaan ini? Jika kita melihat dari sudut pandang kitab legendaris Riyadus Shalihin, fenomena ini memiliki konsekuensi yang sangat berat Bahaya Spill the Tea.
Fenomena Spill the Tea di Media Sosial
Budaya “spill the tea” biasanya bermula dari sebuah konflik atau rasa penasaran netizen. Seseorang akan mengunggah bukti berupa tangkapan layar percakapan atau foto tersembunyi. Ribuan orang kemudian memberikan komentar dan membagikan unggahan tersebut. Dalam sekejap, reputasi seseorang hancur di depan jutaan pasang mata.
Banyak orang merasa bangga saat berhasil mengungkap “kebenaran” versi mereka. Padahal, seringkali informasi tersebut hanya bertujuan untuk mempermalukan pihak lain. Media sosial mempercepat penyebaran berita negatif ini secara masif. Kita perlu bertanya, apakah kesenangan sesaat ini sebanding dengan risikonya?
Definisi Ghibah dalam Kitab Riyadus Shalihin
Imam An-Nawawi dalam kitab Riyadus Shalihin memberikan penjelasan tegas tentang ghibah. Beliau mengutip hadis Rasulullah SAW yang sangat populer.
“Tahukah kalian apa itu ghibah?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Engkau menyebutkan sesuatu yang ada pada diri saudaramu yang tidak ia sukai.” (HR. Muslim).
Berdasarkan kutipan ini, “spill the tea” jelas termasuk dalam kategori ghibah. Meskipun informasi yang Anda bagikan adalah fakta, hal itu tetap dilarang. Agama melarang kita membicarakan kekurangan orang lain yang mereka benci jika orang dengar. Jika informasi itu bohong, maka perbuatan tersebut berubah menjadi fitnah atau buhtan.
Ancaman Dosa Jariyah di Era Digital
Salah satu bahaya terbesar dari “spill the tea” adalah potensi dosa jariyah. Dosa jariyah adalah dosa yang terus mengalir meskipun pelakunya sudah berhenti atau meninggal dunia. Media sosial membuat jejak digital sangat sulit untuk dihapus.
Setiap kali orang lain membagikan (share) konten ghibah tersebut, Anda mendapatkan aliran dosanya. Bayangkan jika sebuah unggahan viral dan ditonton satu juta orang. Anda akan menanggung beban dosa dari setiap mata yang melihat aib tersebut. Kitab Riyadus Shalihin mengajarkan kita untuk sangat berhati-hati dalam menjaga lisan atau jari kita.
Larangan Mencari Kesalahan Orang Lain (Tajassus)
Budaya “spill the tea” seringkali melibatkan tindakan tajassus. Tajassus berarti mencari-cari kesalahan atau memata-matai privasi orang lain. Allah SWT secara tegas melarang hal ini dalam Al-Qur’an.
“Dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain.” (QS. Al-Hujurat: 12).
Orang yang gemar melakukan “spill the tea” biasanya sengaja menggali informasi pribadi targetnya. Mereka merasa memiliki hak untuk menghakimi hidup orang lain. Padahal, setiap manusia pasti memiliki kesalahan yang Allah tutupi. Menyingkap penutup tersebut adalah bentuk kelancangan terhadap ketetapan Allah yang Maha Menutupi Aib (Al-Sattar).
Pentingnya Menjaga Lisan Menurut Rasulullah SAW
Kitab Riyadus Shalihin menekankan bahwa menjaga lisan adalah kunci keselamatan. Rasulullah SAW menjanjikan surga bagi siapa saja yang mampu menjamin lisannya.
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam konteks digital, “berkata baik” berarti mengunggah konten yang bermanfaat. Jika kita tidak memiliki sesuatu yang positif untuk dibagikan, maka diam adalah pilihan terbaik. Menahan diri dari godaan memberikan komentar pedas adalah bentuk jihad di zaman modern.
Dampak Sosial dan Kerusakan Hubungan
“Spill the tea” tidak hanya merusak pahala, tetapi juga menghancurkan tatanan sosial. Hubungan persaudaraan bisa putus seketika karena sebuah unggahan yang tidak bertanggung jawab. Masyarakat menjadi penuh dengan rasa curiga dan dendam.
Al-Qur’an mengibaratkan orang yang melakukan ghibah seperti memakan daging saudaranya yang sudah mati. Perumpamaan ini menggambarkan betapa menjijikkannya perbuatan tersebut. Kita seharusnya saling menutupi aib, bukan malah memamerkannya demi engagement atau followers.
Kesimpulan: Hiburan yang Mematikan Hati
Budaya “spill the tea” mungkin terasa seperti hiburan yang segar dan menarik. Namun, secara spiritual, ia adalah racun yang mematikan hati. Kitab Riyadus Shalihin mengajak kita kembali pada etika Islam yang luhur. Kita harus lebih bijak dalam menggunakan teknologi media sosial.
Jangan sampai jempol kita menjadi jembatan menuju dosa jariyah yang tidak berujung. Mulailah fokus pada aib diri sendiri daripada sibuk membongkar aib orang lain. Menjaga lisan dan jari adalah bukti nyata kualitas iman seorang Muslim. Marilah kita jadikan media sosial sebagai ladang amal, bukan ladang dosa.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
