Khazanah
Beranda » Berita » Sifat Orang Bertaqwa: Inspiratif untuk Menguatkan Hati

Sifat Orang Bertaqwa: Inspiratif untuk Menguatkan Hati

Sifat Orang Bertaqwa: Inspiratif untuk Menguatkan Hati
Sifat Orang Bertaqwa: Inspiratif untuk Menguatkan Hati

 

SURAU.CO – Bismillahirrahmanirrahim. Setiap Muslim mendambakan predikat tertinggi di sisi Allah: muttaqīn, yaitu hamba yang bertaqwa. Predikat ini bukan diwariskan, bukan pula hadiah tanpa usaha. Ia adalah perjalanan hidup, pembinaan diri, dan perjuangan jiwa. Orang bertaqwa adalah hamba yang selalu sadar bahwa Allah mengawasinya, sehingga setiap langkah, ucapan, dan keputusan selalu dipandu oleh iman.

Berikut adalah sifat-sifat utama orang bertaqwa sebagaimana digambarkan dalam Al-Qur’an dan sunnah, sifat-sifat yang dapat menjadi cermin bagi kita untuk terus memperbaiki diri.

Selalu Menjaga Hubungan dengan Allah

Sifat pertama orang bertaqwa adalah kedekatannya dengan Allah. Ia rajin shalat, memperbanyak tilawah, dan membangun hubungan hati yang lembut dengan Rabb-nya.

Allah berfirman:
“Yang beriman kepada yang ghaib, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki…” (QS. Al-Baqarah: 3)

Bunga Pukul Empat, Kembang Indah yang Kaya Manfaat

Shalat baginya bukan rutinitas, tetapi rehat jiwa, tempat ia mengadukan semua keluh dan syukur.

Menahan Amarah dan Memaafkan

Orang bertaqwa tidak dikuasai emosi. Ia boleh marah, tetapi tidak meledak-ledak. Ia tersakiti, tetapi mudah memaafkan.

Allah menyebutkan:
“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan manusia.” (QS. Ali ‘Imran: 134)

Ia tahu bahwa memaafkan bukan kelemahan, tetapi kekuatan yang hanya dimiliki orang besar hatinya.

Selalu Berbuat Kebaikan

Pentingnya Thaharah dalam Islam

Sifat taqwa tidak hanya tampak dalam ibadah, tetapi dalam akhlak dan pelayanan sosial. Ia dermawan, ringan tangan, dan hadir memberi manfaat.

Nabi ﷺ bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”

Ia menjadikan kebaikan sebagai gaya hidup, bukan sekadar momentum.

Cepat Bertaubat Ketika Terjatuh dalam Kesalahan

Orang bertaqwa bukan malaikat. Ia bisa salah, bisa tergelincir. Namun, yang membedakannya adalah kecepatan ia kembali kepada Allah.

Allah menggambarkannya: “Dan (mereka adalah) orang-orang yang apabila melakukan perbuatan keji… segera mengingat Allah lalu memohon ampun atas dosa-dosa mereka.” (QS. Ali ‘Imran: 135)

Tenang: Ukuran Keberhasilan Seorang Imam dalam Shalat

Ia tidak menunda taubat, tidak menumpuk dosa. Ia sadar bahwa waktu tidak selalu panjang.

Menjaga Lisan

Lisan adalah cermin hati. Orang bertaqwa menjaga lisannya dari ghibah, dusta, makian, dan ucapan sia-sia. Ia memilih kata yang lembut, jujur, dan membawa ketenangan.

Nabi ﷺ mengingatkan:
“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”

Jujur dan Amanah

Dua sifat ini adalah mahkota taqwa. Orang bertaqwa jujur dalam ucapan dan amanah dalam tanggung jawab. Ia tidak mengkhianati kepercayaan, tidak bermain curang, tidak memutarbalikkan fakta.

Taqwa melahirkan kepribadian yang kokoh, sehingga masyarakat merasa aman di dekatnya.

Tidak Terlalu Cinta pada Dunia

Bukan berarti hidup miskin, tetapi ia tidak diperbudak oleh harta, jabatan, atau pujian manusia. Dunia ada di tangannya, bukan di hatinya.

Ia memandang dunia sebagai jembatan, bukan tujuan. Karena itu, ia sederhana, qana’ah, dan tidak iri pada orang lain.

Tunduk kepada Kebenaran

Orang bertaqwa tidak sombong. Jika kebenaran datang dari siapa pun, ia menerimanya. Ia tidak membela ego. Ia terbuka untuk nasihat dan siap memperbaiki diri.

Karena itu, orang bertaqwa selalu berkembang; ia tidak berhenti belajar dan memperbaiki jiwa.

Selalu Mengingat Hari Akhir

Inilah penggerak utama taqwa. Ia sadar bahwa ada hisab, ada mizan, ada surga dan neraka. Dengan mengingat akhirat, ia tidak mudah tergoda, tidak mudah lalai.

Setiap langkahnya adalah persiapan pulang.

Mengutamakan Keridhaan Allah di Atas Segalanya

Inilah puncak taqwa: hidup untuk Allah.
Keputusan-keputusan besar dalam hidupnya tidak ditetapkan berdasarkan keuntungan duniawi semata, tetapi apa yang paling diridhai oleh Allah.

Ia rela kehilangan dunia, tetapi tidak rela kehilangan ridha Allah.

Penutup: Taqwa adalah Jalan Hidup

Taqwa bukan status, tetapi perjalanan panjang. Kita bisa memulainya hari ini, dari hal-hal kecil: menjaga shalat, menahan amarah, memperbaiki lisan, jujur, dan cepat bertaubat.

Jika kita melangkah, Allah akan membimbing. Karena Allah berjanji:

“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa.” (QS. At-Taubah: 36)

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang bertaqwa, hingga akhir hayat kita dipanggil dalam keadaan paling mulia. Aamiin. (Tengku Iskandar, M. Pd: Duta Literasi Pena Da’i Nusantara Provinsi Sumatera Barat)

 


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.