Khazanah
Beranda » Berita » Renungan Diri: Komunikasi dengan Jiwa, Setelah Ruh Pulang dan Jasad Dikebumikan

Renungan Diri: Komunikasi dengan Jiwa, Setelah Ruh Pulang dan Jasad Dikebumikan

Renungan Diri: Komunikasi dengan Jiwa, Setelah Ruh Pulang dan Jasad Dikebumikan
Renungan Diri: Komunikasi dengan Jiwa, Setelah Ruh Pulang dan Jasad Dikebumikan

 

SURAU.CO – Ketika ruh telah dipanggil pulang oleh Pemiliknya, dan jasad dititipkan kembali ke tanah, maka berakhirlah seluruh komunikasi lahiriah yang selama ini kita kenal. Tidak ada lagi suara, tidak ada lagi isyarat tubuh, tidak ada lagi pembelaan atau alasan. Yang tersisa hanyalah jiwa, berdiri sendiri di hadapan kebenaran yang mutlak.
Di saat itulah, jiwa mulai “berkomunikasi” bukan dengan manusia, bukan dengan dunia, tetapi dengan dirinya sendiri, dan dengan ketetapan Alloh.

Tidak ada dialog yang bisa direkayasa. Dan Tidak ada kata yang bisa diperindah.

Tidak ada citra yang bisa ditampilkan.
Jiwa berbicara dengan bahasa kejujuran mutlak.

Semua yang dahulu kita sembunyikan di balik senyum, jabatan, gelar, amal yang dipamerkan, dan dosa yang dirahasiakan kini tampil apa adanya. Jiwa menyadari bahwa selama hidup, sering kali jasad yang berbicara, bukan hati.

Bunga Pukul Empat, kembang Indah yang Kaya Manfaat

Komunikasi Jiwa Pasca Kematian

Pikiran yang sibuk membela ego, bukan nurani. Lisan yang lantang berdakwah, tetapi jiwa diam dalam keikhlasan.
Di alam itu, jiwa tidak lagi bertanya: “Bagaimana pandangan manusia kepadaku?” Tetapi bertanya: “Siapakah aku sebenarnya di hadapan Tuhanku?”

Komunikasi jiwa pasca kematian bukanlah dialog dua arah yang bisa ditawar, melainkan kesadaran penuh.

Kesadaran bahwa setiap niat pernah tercatat. Setiap getaran hati pernah disaksikan. Bahkan doa yang diucap tanpa sungguh-sungguh pun pernah diketahui hakikatnya.

Di sanalah jiwa memahami satu hal yang sering kita abaikan saat hidup: Bahwa Alloh tidak menilai banyaknya kata, tetapi kejernihan hati.

Tidak Dinilai ramainya ibadah, tetapi kehadiran jiwa di Dalamnya

Jiwa juga menyadari, bahwa waktu yang dahulu terasa panjang, ternyata amat singkat.

Pentingnya Thaharah dalam Islam

Kesempatan yang dulu bisa ditunda, ternyata hanya datang sekali. Dan komunikasi yang paling menentukan yakni komunikasi antara hati dan Alloh sering kali kita ganggu dengan urusan dunia yang tak pernah selesai.

Maka renungan ini bukan untuk mereka yang telah dikuburkan, tetapi untuk kita yang masih diberi napas.

Sebab komunikasi jiwa setelah kematian hanyalah pantulan dari komunikasi jiwa semasa hidup.

Hadapkan Hati dengan Jujur

Jika hari ini jiwa kita jarang kita dengarkan, jika sholat kita lebih sibuk dengan gerakan daripada kehadiran, jika doa kita lebih banyak meminta daripada berserah, maka jangan heran jika kelak jiwa berbicara dalam penyesalan yang sunyi.

Sebelum ruh benar-benar pulang,
sebelum jasad benar-benar diturunkan ke liang, belajarlah berkomunikasi dengan jiwa sekarang. Dengarkan bisik nurani.

Tenang: Ukuran Keberhasilan Seorang Imam dalam Shalat

Hadapkan hati dengan jujur. Beribadahlah seolah tidak ada yang melihat kecuali Alloh.

Agar kelak, saat komunikasi dengan jiwa tak bisa dihindari, yang terdengar bukan ratapan, melainkan ketenangan dalam ridhaNya.

 

 


Menjadi Diri Sendiri dan Manusia Seutuhnya

Menjadi diri sendiri bukanlah perkara sederhana. Ia bukan sekadar menolak topeng kepura-puraan, tetapi keberanian untuk jujur pada suara hati terdalam. Dalam perjalanan hidup, sering kali manusia lebih sibuk menjadi apa yang diharapkan dunia, keluarga, lingkungan, bahkan sistem, hingga lupa bertanya: siapakah aku sebenarnya? Diri sejati bukan dibentuk oleh gelar, jabatan, atau pengakuan orang lain. Diri sejati tumbuh dari kesadaran akan asal-usul, tujuan hidup, dan hubungan kita dengan Sang Pencipta. Ketika hati, pikiran, dan tindakan selaras, di situlah manusia mulai menemukan keutuhan dirinya.

Manusia seutuhnya adalah manusia yang utuh akalnya, lembut hatinya, dan jernih ruhnya. Ia berpikir dengan ilmu, merasakan dengan empati, dan bertindak dengan nilai. Ia tidak terjebak pada ego semata, tetapi juga tidak mematikan potensi dirinya demi menyenangkan semua orang. Ia berdiri tegak sebagai dirinya sendiri, namun tetap menunduk dalam kerendahan hati.

Dalam keheningan renungan, kita belajar bahwa luka, kegagalan, dan keterbatasan bukan musuh, melainkan guru. Dari sanalah kesadaran tumbuh. Dari sanalah manusia belajar memanusiakan dirinya sendiri sebelum memanusiakan orang lain.

Bertanggungjawab Atas Pilihan Hidup

Menjadi manusia seutuhnya berarti berani bertanggung jawab atas pilihan hidup, berdamai dengan masa lalu, bersyukur di masa kini, dan melangkah dengan harapan di masa depan. Ia tidak hidup reaktif, tetapi reflektif. Tidak hanyut oleh arus, tetapi juga tidak memusuhi dunia.

Pada akhirnya, menjadi diri sendiri adalah proses pulang. Pulang ke fitrah. Pulang ke niat awal. Dan pulang ke nilai kebenaran yang ditanamkan Tuhan dalam setiap jiwa. Dan ketika seseorang telah pulang pada dirinya, ia akan hadir di dunia sebagai manusia yang memberi makna, bukan sekadar ada.

Semoga renungan ini menjadi pengingat lembut bahwa perjalanan menjadi manusia seutuhnya adalah perjalanan seumur hidup perlahan, jujur, dan penuh kesadaran. (Bambang JB)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.