SURAU.CO – Neraka tidak selalu dijauhkan oleh harta yang banyak. Kadang ia dicegah oleh sesuatu yang sangat kecil: setengah biji kurma. Di situlah Islam mengajarkan bahwa keselamatan sering lahir dari keikhlasan berbagi.
Di tengah kehidupan yang makin menormalisasi penumpukan harta, Rasulullah ﷺ justru mengajarkan prinsip sebaliknya: berbagi sebagai benteng keselamatan. Sebuah hadis yang masyhur menegaskan, “Lindungilah diri kalian dari neraka walaupun hanya dengan (bersedekah) setengah biji kurma.” (HR. Bukhari dan Muslim). Kalimat ini sederhana, tetapi maknanya mengguncang cara pandang manusia terhadap nilai amal.
Islam tidak mengukur sedekah dari jumlahnya, melainkan dari ketulusan dan dampaknya bagi jiwa. Setengah biji kurma adalah simbol bahwa tidak ada alasan untuk tidak berbagi. Bahkan dalam kondisi paling sempit sekalipun, seseorang tetap memiliki jalan untuk mendekat kepada Allah dan menjauh dari siksa-Nya.
Para ulama menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan luasnya rahmat Allah. Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari menegaskan bahwa Nabi ﷺ sengaja menyebut amalan yang paling ringan agar tidak ada seorang pun yang merasa terhalang untuk berbuat kebaikan.¹ Artinya, keselamatan bukan monopoli orang kaya, tetapi terbuka bagi siapa saja yang memiliki hati hidup.
Memadamkan Murka Allah dan Menolak Bala
Berbagi dalam Islam bukan sekadar aktivitas sosial, tetapi ibadah preventif, penjaga diri dari kebinasaan. Al-Qur’an menegaskan:
“Dan apa saja harta yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.” (QS. al-Baqarah: 273)
Ayat ini menanamkan kesadaran bahwa setiap pemberian, sekecil apa pun, berada dalam pengawasan dan penilaian Allah. Tidak ada sedekah yang sia-sia. Bahkan, dalam banyak hadis, sedekah disebut mampu memadamkan murka Allah dan menolak bala.
Di tengah ketimpangan sosial dan krisis empati, pesan hadis ini menjadi sangat relevan. Banyak orang menunda berbagi karena merasa belum cukup. Padahal, Islam justru mengajarkan bahwa cukup itu sering lahir setelah memberi, bukan sebelum memberi. Setengah biji kurma adalah ajakan untuk mematahkan logika dunia yang menunggu berlebih baru mau peduli.
Menariknya, Nabi ﷺ tidak mengatakan “masuk surga dengan sedekah”, tetapi “lindungi diri dari neraka”. Ini menunjukkan bahwa berbagi adalah bentuk penyelamatan diri, bukan semata kebaikan untuk orang lain. Sedekah membersihkan hati dari kikir, menumbuhkan empati, dan melembutkan jiwa, semua itu adalah sifat yang menjauhkan manusia dari api neraka.
Imam al-Nawawi menjelaskan bahwa sedekah, meski kecil, jika dilakukan dengan ikhlas, dapat menjadi sebab keselamatan karena ia mencerminkan iman yang hidup dan kepedulian sosial.² Dalam Islam, iman tidak berhenti di lisan, tetapi menjelma dalam tindakan nyata, sekecil apa pun bentuknya.
Tindakan Kecil yang Konsisten
Pada akhirnya, menjaga diri tidak selalu dilakukan dengan ibadah besar yang berat. Kadang ia hadir dalam keputusan sederhana: mau berbagi atau menahan. Setengah biji kurma mengajarkan bahwa keselamatan akhirat bisa dimulai dari tindakan kecil yang konsisten.
Di zaman ketika manusia sibuk menyelamatkan aset, Islam mengingatkan untuk menyelamatkan diri. Dan jalan itu sering terbuka melalui tangan yang ringan memberi, hati yang ikhlas, serta kesadaran bahwa apa yang kita bagikan hari ini bisa menjadi pelindung kita kelak.
Karena boleh jadi, di hadapan api neraka, yang berdiri sebagai perisai bukanlah kekayaan besar, melainkan setengah biji kurma yang pernah kita berikan dengan tulus.
Catatan Kaki
- Ibn Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari, Syarah Hadis “Ittaqun Naar walau bisyiqqi tamrah”.
- Al-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, bab keutamaan sedekah meski sedikit. (Oleh: Tengku Iskandar, M. Pd – Duta Literasi Pena Da’i Nusantara Provinsi Sumatera Barat Indonesia)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
