SURAU.CO – Di tengah kehidupan yang kian riuh oleh citra dan simbol, manusia semakin mudah menilai dari apa yang tampak. Pakaian, gelar, jabatan, bahkan retorika keagamaan sering dijadikan ukuran kemuliaan. Padahal Islam sejak awal mengajarkan ukuran yang sama sekali berbeda. Allah tidak menilai manusia dari apa yang terlihat di mata sesama, melainkan dari sesuatu yang tersembunyi namun menentukan segalanya: hati dan akhlak.
Rasulullah SAW menegaskan prinsip ini dengan sangat jelas, “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim). Hadis ini bukan sekadar pengingat moral, melainkan koreksi mendasar atas cara manusia memandang keberagamaan. Banyak yang tampak baik di luar, tetapi rapuh di dalam. Dan tidak sedikit yang sederhana penampilannya, namun mulia di sisi Allah.
Al-Qur’an menegaskan bahwa pada akhirnya seluruh kebanggaan dunia akan runtuh. “Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.” (QS. Asy-Syu‘ara’: 88–89). Hati yang selamat (qalbun salim) menjadi satu-satunya modal keselamatan. Ia bersih dari kesombongan, dengki, dan kebencian, serta tunduk sepenuhnya kepada Allah.
Taqwa Berakar di Hati dan Menjelma Dalam Sikap
Masalahnya, hati adalah wilayah yang paling sunyi sekaligus paling rawan. Ia bisa tampak lurus di hadapan manusia, tetapi menyimpan penyakit di hadapan Allah. Dari hati yang sakit itulah lahir akhlak yang merusak: gemar merendahkan, mudah menghakimi, dan merasa lebih benar dari yang lain. Karena itu Al-Qur’an dengan tegas melarang segala bentuk penghinaan sosial. “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain, boleh jadi mereka yang direndahkan lebih baik dari mereka.” (QS. Al-Hujurat: 11).
Ayat ini tidak hanya menyoal ejekan verbal, tetapi seluruh sikap dan gestur yang melukai martabat manusia. Mengucilkan, mencibir, atau memperlakukan orang lain dengan hina adalah tanda ada yang rusak di dalam hati. Islam memandang tindakan semacam itu bukan sekadar pelanggaran etika sosial, tetapi cacat akhlak yang serius.
Islam juga tidak pernah memisahkan iman dari akhlak. Keduanya adalah satu kesatuan yang utuh. Nabi SAW menegaskan, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi). Dengan kata lain, kualitas iman seseorang dapat dilihat dari caranya memperlakukan orang lain, terutama ketika berbeda pendapat atau sedang emosi.
Di sinilah pentingnya memahami bahwa takwa bukan sekadar simbol atau jargon. Rasulullah SAW bersabda, “Takwa itu di sini,” sambil menunjuk ke dadanya (HR. Muslim). Takwa berakar di hati, lalu menjelma dalam sikap. Jika hati lurus, akhlak akan lembut. Jika hati dikuasai kesombongan, maka yang lahir adalah kekerasan sikap.
Teladan Rasulullah: Kemuliaan Hati
Kesombongan adalah penyakit hati yang paling berbahaya karena sering tidak disadari. Seseorang bisa merasa sedang membela kebenaran, padahal yang dibela sesungguhnya adalah ego. Nabi SAW memberi peringatan keras, “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walau sebesar biji sawi.” (HR. Muslim). Kesombongan sekecil apa pun cukup untuk merusak seluruh bangunan amal.
Ironisnya, kesombongan sering bersembunyi di balik simbol-simbol kesalehan: pengetahuan agama, aktivitas dakwah, bahkan klaim menjaga kemurnian iman. Seseorang bisa fasih berbicara tentang kebenaran, tetapi gagal menghadirkan rahmat. Padahal kebenaran yang disampaikan tanpa akhlak hanya akan melahirkan luka baru di tengah masyarakat.
Teladan Rasulullah SAW menunjukkan bahwa kemuliaan hati selalu melahirkan kelembutan sikap. Beliau adalah manusia paling benar risalahnya, paling tinggi kedudukannya, namun paling rendah hati. Tidak pernah menghina, tidak merendahkan, dan tidak membalas keburukan dengan keburukan. Akhlak beliau adalah tafsir hidup dari Al-Qur’an.
Dalam konteks kebangsaan Indonesia yang majemuk, pesan ini menjadi semakin relevan. Perbedaan pandangan, pilihan, dan ekspresi keagamaan adalah keniscayaan. Tanpa kejernihan hati dan keluhuran akhlak, perbedaan mudah berubah menjadi konflik. Agama yang seharusnya menjadi sumber kedamaian justru tampak keras dan menakutkan.
Sikap yang Santun, Berwibawa dan Menentramkan
Padahal Allah sendiri menegaskan, “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13). Kemuliaan bukan ditentukan oleh siapa kita di hadapan manusia, melainkan oleh bagaimana hati kita di hadapan Allah dan bagaimana akhlak kita terhadap sesama.
Tulisan ini bukan ajakan untuk melemahkan prinsip atau mengaburkan aqidah. Islam tetap berdiri di atas keyakinan yang tegas. Namun ketegasan aqidah tidak pernah meniscayakan kekasaran akhlak. Justru aqidah yang lurus seharusnya melahirkan sikap yang santun, berwibawa, dan menenteramkan.
Pada akhirnya, kita perlu terus bercermin. Apakah keberagamaan kita semakin memurnikan hati atau justru menebalkan ego? Apakah dakwah kita mendidik atau melukai? Sebab Allah tidak menilai seberapa lantang suara kita, tetapi seberapa jujur hati kita dan seberapa mulia akhlak kita.
Ketika seluruh topeng dunia runtuh, yang tersisa hanyalah hati dan amal. Dan di situlah nilai manusia ditentukan. (Tengku Iskandar: Penyuluh Agama Islam
Sumatra Barat, Indonesia)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
