Khazanah
Beranda » Berita » Fenomena Narsisme Generasi Selfie: Menelaah Kritik Imam Nawawi terhadap Obsesi Popularitas

Fenomena Narsisme Generasi Selfie: Menelaah Kritik Imam Nawawi terhadap Obsesi Popularitas

Dunia digital saat ini sedang mengalami pergeseran perilaku yang sangat masif. Fenomena “selfie” bukan lagi sekadar aktivitas mengambil foto diri, melainkan telah bertransformasi menjadi identitas budaya. Masyarakat modern, terutama generasi muda, sering terjebak dalam pusaran narsisme generasi selfie. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam demi mendapatkan pengakuan melalui jumlah “likes” dan komentar di media sosial. Sayangnya, keinginan untuk terus tampil dan dipuji ini sering kali mengikis nilai-nilai kerendahan hati.

Secara psikologis, narsisme mencerminkan kebutuhan seseorang akan kekaguman yang berlebihan. Dalam konteks digital, perilaku ini termanifestasi lewat unggahan yang memamerkan kemewahan, kecantikan, hingga kesalehan semu. Namun, jauh sebelum teknologi internet lahir, ulama besar Imam Nawawi telah memberikan peringatan keras mengenai penyakit hati ini. Beliau menyoroti bahaya hubbur riyasah atau kecintaan terhadap popularitas dan kekuasaan.

Akar Masalah: Cinta Terhadap Kedudukan

Imam Nawawi dalam berbagai literaturnya, seperti Riyadhus Shalihin dan Al-Adzkar, sangat menekankan pentingnya menjaga niat. Beliau memandang bahwa mencari perhatian manusia merupakan pintu masuk bagi rusaknya amal seseorang. Generasi selfie saat ini sering terjebak pada keinginan untuk dianggap “paling” di mata publik. Hal ini sejalan dengan kekhawatiran para ulama terdahulu tentang hilangnya keikhlasan akibat haus pujian.

Keinginan untuk populer sering kali membuat seseorang kehilangan akal sehat. Mereka berani melakukan tindakan ekstrem atau pamer ibadah hanya demi konten viral. Imam Nawawi mengingatkan bahwa popularitas (syuhrah) yang dikejar secara sengaja dapat membinasakan karakter spiritual seseorang. Beliau mengutip pandangan ulama salaf yang menyatakan bahwa ketenaran adalah ujian berat yang jarang sekali orang mampu melewatinya dengan selamat.

Kritik Imam Nawawi Terhadap Popularitas

Salah satu kutipan penting yang relevan untuk merenungkan fenomena ini berasal dari nasihat yang sering beliau nukil. Imam Nawawi menekankan pentingnya menjauhi sifat mencari muka di depan manusia. Beliau menuliskan kutipan yang sangat mendalam:

Bunga Pukul Empat, Kembang Indah yang Kaya Manfaat

“Cukuplah seseorang dikatakan buruk jika ia menonjol dalam urusan agama maupun dunia, kecuali orang yang dilindungi oleh Allah SWT.”

Kutipan ini memberikan pesan bahwa menonjolkan diri atau ingin tampak hebat di mata orang lain adalah sebuah keburukan. Dalam konteks narsisme generasi selfie, hal ini menjadi tamparan keras. Ketika seseorang sibuk memoles citra diri di Instagram atau TikTok, mereka sebenarnya sedang membangun penjara ego yang sempit. Imam Nawawi memandang bahwa kemuliaan sejati terletak pada ketersembunyi (khumul), yaitu ketika seseorang beramal tanpa mengharap validasi publik.

Dampak Buruk Hubbur Riyasah di Era Digital

Obsesi terhadap popularitas tidak hanya merusak pahala secara teologis, tetapi juga mengganggu kesehatan mental. Para ahli menyebutkan bahwa ketergantungan pada apresiasi digital meningkatkan risiko kecemasan dan depresi. Imam Nawawi menjelaskan bahwa hati yang terikat pada pujian manusia akan selalu merasa gelisah. Jika pujian tersebut hilang, maka hancurlah kebahagiaan orang tersebut.

Beliau menyarankan agar setiap individu senantiasa memeriksa kembali niat dalam setiap perbuatan. Jika sebuah unggahan di media sosial bertujuan untuk memicu kekaguman, maka itu termasuk dalam kategori riyâ’ (pamer). Hal ini sangat kontras dengan prinsip ikhlas yang menjadi fondasi dalam pemikiran Imam Nawawi. Beliau mengingatkan bahwa Allah hanya menerima amal yang murni karena-Nya, tanpa ada campuran keinginan untuk dikenal atau dipuji oleh makhluk.

Menyeimbangkan Kehidupan Digital dengan Kearifan Islam

Tentu kita tidak bisa sepenuhnya menghindari media sosial di zaman modern ini. Namun, kita dapat mengadopsi cara pandang Imam Nawawi untuk memitigasi dampak buruk narsisme generasi selfie. Langkah pertama adalah melatih diri untuk tidak selalu ingin tampil. Cobalah untuk merahasiakan sebagian kebaikan atau kebahagiaan kita dari ruang publik.

Pentingnya Thaharah dalam Islam

Kedua, kita harus menyadari bahwa popularitas hanyalah fatamorgana yang bersifat sementara. Imam Nawawi mengajarkan bahwa kedudukan sejati adalah posisi di sisi Allah, bukan posisi di puncak algoritma media sosial. Dengan membatasi paparan narsistik, kita memberikan ruang bagi jiwa untuk beristirahat dari rasa haus akan pengakuan.

Sebagai penutup, kritik Imam Nawawi terhadap cinta popularitas tetap sangat relevan hingga hari ini. Meskipun alat komunikasi berubah, penyakit hati manusia tetaplah sama. Kita perlu kembali belajar untuk merasa cukup dengan penilaian Allah. Jangan biarkan layar ponsel merampas ketulusan hati kita. Mari kita gunakan media sosial sebagai sarana menebar manfaat, bukan sebagai panggung untuk memuaskan ego narsistik yang tiada habisnya.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.