Khazanah
Beranda » Berita » Validasi Sosial vs Ridha Ilahi: Perang Batin Manusia Modern

Validasi Sosial vs Ridha Ilahi: Perang Batin Manusia Modern

Kehidupan manusia modern saat ini tidak lepas dari layar ponsel. Kita hidup dalam era yang mementingkan citra visual. Setiap detik, jutaan orang mengunggah momen terbaik mereka ke media sosial. Tujuannya sangat sederhana, yaitu mencari pengakuan atau validasi sosial. Namun, fenomena ini sering memicu konflik batin yang besar. Manusia mulai terjebak antara mengejar pujian makhluk atau mencari ridha Ilahi.

Godaan Validasi Sosial di Era Digital

Media sosial telah mengubah cara manusia berinteraksi secara fundamental. Kini, kebahagiaan sering kali diukur melalui jumlah pengikut dan tanda suka. Kita merasa berharga saat orang lain memberikan pujian pada kolom komentar. Sebaliknya, kita merasa hampa ketika unggahan tidak mendapat respon meriah. Fenomena ini menciptakan ketergantungan emosional yang sangat berbahaya bagi kesehatan mental.

Psikolog sering menyebut kondisi ini sebagai rasa butuh akan validasi eksternal. Kita membiarkan opini orang lain menentukan standar kebahagiaan pribadi kita. Padahal, pujian manusia bersifat sangat semu dan cepat menghilang. Hari ini mereka memuji, namun besok mereka bisa saja mencaci. Inilah jebakan utama dari pengejaran validasi sosial yang tidak pernah berakhir.

Esensi Ridha Ilahi dalam Tindakan

Di sisi lain, setiap mukmin memiliki kewajiban mencari ridha Ilahi. Ridha Allah adalah tujuan tertinggi dalam setiap hela nafas manusia. Berbeda dengan validasi manusia, ridha Allah memberikan ketenangan jiwa yang hakiki. Seseorang yang mengejar ridha Tuhan tidak akan haus akan pujian dunia. Ia tetap berbuat baik meski tidak ada kamera yang merekamnya.

Niat memegang peranan kunci dalam setiap perbuatan manusia. Jika niat bergeser untuk pamer, maka nilai ibadah akan hilang. Keikhlasan menjadi barang mewah di tengah riuhnya panggung pencitraan digital. Kita perlu memeriksa kembali hati kita setiap kali ingin berbagi sesuatu. Apakah kita ingin menginspirasi atau hanya sekadar ingin terlihat lebih hebat?

Bunga Pukul Empat, Kembang Indah yang Kaya Manfaat

Benturan Kepentingan di Dalam Hati

Perang batin sering muncul saat kita berada di persimpangan jalan. Satu sisi hati ingin menunjukkan kesalehan agar orang lain kagum. Sisi lain mengingatkan kita untuk tetap rendah hati dan tersembunyi. Pertarungan ini terjadi setiap hari dalam ruang privat maupun publik. Manusia modern harus berjuang keras menjaga kejujuran niat mereka dari racun riya.

Seorang tokoh agama pernah memberikan pesan yang sangat mendalam terkait hal ini:

“Janganlah engkau mencari kemuliaan di mata manusia dengan merendahkan dirimu di hadapan Allah.”

Kutipan tersebut mengingatkan kita bahwa pujian manusia tidak akan menambah kemuliaan di sisi Tuhan. Justru, haus akan validasi bisa menjerumuskan kita pada kesengsaraan batin yang amat dalam.

Dampak Psikologis Mengejar Pujian

Mengejar validasi sosial secara berlebihan dapat memicu stres dan kecemasan. Kita terus merasa kurang jika standar kehidupan kita berada di bawah orang lain. Perbandingan sosial menjadi racun yang mematikan rasa syukur dalam hati. Kita lupa menikmati nikmat yang ada karena sibuk melihat pencapaian orang lain. Akibatnya, jiwa kehilangan arah dan terjebak dalam rasa iri yang melelahkan.

Pentingnya Thaharah dalam Islam

Sebaliknya, fokus pada ridha Ilahi akan melahirkan rasa qana’ah atau merasa cukup. Kita yakin bahwa Allah maha melihat setiap usaha hamba-Nya. Pengakuan dari langit jauh lebih penting daripada pengakuan dari penduduk bumi. Keyakinan ini memberikan kekuatan mental yang luar biasa dalam menghadapi berbagai ujian hidup.

Cara Menyeimbangkan Niat di Era Modern

Lantas, bagaimana cara kita memenangkan perang batin ini? Langkah pertama adalah dengan memperbaiki niat secara konsisten. Kita harus sering melakukan audit spiritual terhadap aktivitas harian kita. Sebelum mengunggah sesuatu, tanyakan pada diri sendiri mengenai motif utamanya. Jika tujuannya hanya untuk sombong, sebaiknya kita menahan diri sejenak.

Langkah kedua adalah dengan memperbanyak amal ibadah secara sembunyi-sembunyi. Amal rahasia sangat ampuh untuk melatih keikhlasan hati manusia. Biarkan hanya Allah yang mengetahui kebaikan-kebaikan kecil yang kita lakukan. Hal ini akan membangun koneksi spiritual yang lebih kuat dan murni.

Ketiga, batasi konsumsi media sosial jika mulai merasa cemas. Luangkan waktu untuk merenung dan berkomunikasi dengan sang Pencipta dalam keheningan. Ketenangan sejati tidak akan pernah kita temukan dalam riuhnya notifikasi ponsel. Ia hanya ada dalam sujud yang panjang dan dzikir yang tulus.

Kesimpulan: Memilih Jalan Ketenangan

Pertarungan antara validasi sosial vs ridha Ilahi akan terus berlangsung selamanya. Kita adalah pemegang kendali penuh atas keputusan hati kita sendiri. Jangan biarkan layar digital merampas ketulusan dan kedamaian spiritual kita. Pilihlah jalan yang menuntun pada ridha Allah agar hidup lebih bermakna.

Tenang: Ukuran Keberhasilan Seorang Imam dalam Shalat

Seorang ulama bijak pernah berkata:

“Siapa yang memperbaiki hubungannya dengan Allah, maka Allah akan memperbaiki hubungannya dengan manusia.”

Kutipan ini menjadi janji nyata bagi mereka yang memprioritaskan Tuhan. Saat kita mengejar cinta Allah, maka kasih sayang manusia akan datang dengan sendirinya. Fokuslah pada kualitas diri, bukan sekadar kuantitas apresiasi dari dunia luar. Ketenangan yang hakiki hanya milik jiwa yang tidak lagi diperbudak oleh pujian sesama.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.