Dunia psikologi modern mengenal istilah “Grit”. Istilah ini dipopulerkan oleh Angela Duckworth. Grit adalah kombinasi antara passion (hasrat) dan perseverance (kegigihan). Orang sukses biasanya memiliki mentalitas ini. Mereka tidak mudah menyerah saat menghadapi kegagalan. Mereka terus berlari mengejar tujuan jangka panjang.
Menariknya, Islam telah mengajarkan konsep ini sejak lama. Kita bisa menemukannya dalam kitab legendaris Riyadus Shalihin. Imam An-Nawawi menulis satu bab khusus tentang hal ini. Beliau menamainya Bab Mujahadah.
Mujahadah memiliki makna bersungguh-sungguh. Ini adalah upaya melawan hawa nafsu. Seorang Muslim harus memaksa dirinya untuk taat. Konsep ini sangat relevan dengan teori Grit. Kita akan membedah bagaimana membangun karakter Grit melalui perspektif Mujahadah.
Memahami Esensi Mujahadah
Mujahadah bukan sekadar usaha biasa. Ini adalah perjuangan melawan kenyamanan diri sendiri. Hawa nafsu manusia cenderung mengajak pada kemalasan. Jiwa kita sering kali menyukai hal instan. Mujahadah hadir untuk melawan kecenderungan negatif tersebut.
Anda ingin membangun karakter tangguh? Anda harus berani melawan rasa malas. Imam An-Nawawi menempatkan bab ini di awal kitabnya. Beliau ingin menekankan pentingnya kesungguhan sebelum melangkah lebih jauh. Tanpa kesungguhan, ilmu hanyalah wawasan semata.
Sikap ini membentuk mental baja. Seseorang tidak akan berhenti beramal meski lelah. Dia akan terus bangkit meski terjatuh. Inilah inti dari karakter Grit yang sebenarnya.
Landasan Al-Qur’an tentang Kegigihan
Allah SWT menjanjikan jalan keluar bagi mereka yang gigih. Imam An-Nawawi mengutip ayat yang sangat kuat dalam bab ini. Allah berfirman dalam Surah Al-Ankabut ayat 69:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 69)
Ayat ini menggunakan kalimat aktif yang tegas. Allah mengaitkan hidayah dengan usaha (jihad/mujahadah). Anda tidak bisa menunggu hidayah sambil berpangku tangan. Anda harus bergerak menjemputnya.
Orang yang memiliki Grit memahami prinsip ini. Mereka tahu hasil berbanding lurus dengan usaha. Mereka tidak mengharapkan keajaiban tanpa kerja keras. Ayat ini menjadi motivasi spiritual yang sangat kuat. Keyakinan akan pertolongan Allah membuat stamina mereka tidak pernah habis.
Teladan Ketangguhan Rasulullah SAW
Teori tanpa praktik sering kali membosankan. Imam An-Nawawi menghadirkan contoh nyata. Beliau mengutip hadis tentang ibadah Rasulullah SAW. Aisyah Radhiyallahu Anha menceritakan ketangguhan Nabi.
كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ . فَقُلْتُ لَهُ : لِمَ تَصْنَعُ هَذَا يَا رَسُولَ اللَّهِ ، وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ ؟ قَالَ : ” أَفَلاَ أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا “
“Nabi saw. berdiri (shalat malam) hingga kedua telapak kaki beliau pecah-pecah. Maka aku (Aisyah) berkata kepada beliau, ‘Mengapa engkau melakukan ini wahai Rasulullah? Padahal Allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang?’ Beliau menjawab, ‘Apakah aku tidak suka menjadi hamba yang bersyukur?'” (Muttafaq ‘alaih)
Perhatikan narasi hadis di atas. Rasulullah SAW sudah mendapat jaminan surga. Namun, beliau tetap beribadah hingga kakinya bengkak. Ini adalah level tertinggi dari Grit. Beliau melakukan itu bukan karena takut neraka. Beliau melakukannya sebagai bentuk rasa syukur.
Karakter Grit dalam Islam melampaui ambisi duniawi. Motivasi utamanya adalah keridhaan Allah. Hal ini membuat energi seorang mukmin tidak terbatas. Fisik mungkin lelah, namun semangat tetap menyala.
Aplikasi Mujahadah di Era Modern
Bagaimana kita menerapkan ini sekarang? Kita hidup di zaman yang serba mudah. Fasilitas modern sering melemahkan mental juang kita. Kita perlu kembali menghidupkan semangat Mujahadah.
-
Lawan Penundaan
Karakter Grit menolak prokrastinasi. Segeralah beramal saat niat baik muncul. Jangan menunggu semangat datang. Gerakkan badan Anda terlebih dahulu. Semangat biasanya akan mengikuti tindakan fisik. -
Konsistensi (Istiqamah)
Grit bukan lari cepat. Grit adalah lari maraton. Mujahadah menuntut kontinuitas. Lakukan amalan kecil secara rutin. Jangan berhenti meski hasilnya belum terlihat. -
Fokus pada Tujuan Akhir
Seorang yang bermujahadah memiliki visi jauh ke depan. Visi mereka menembus batas kematian (akhirat). Kesulitan dunia menjadi terasa kecil. Ini membuat mental menjadi sangat tangguh.
Membangun karakter Grit membutuhkan latihan. Anda bisa memulainya dengan membaca Bab Mujahadah. Renungkan setiap dalil yang dibawakan Imam An-Nawawi. Jadikan itu bahan bakar semangat Anda.
Kesimpulannya, Grit dan Mujahadah adalah dua sisi mata uang. Keduanya mengajarkan ketahanan dan kerja keras. Sebagai Muslim, kita memiliki keuntungan lebih. Kita memiliki sandaran spiritual yang kokoh. Mari bangun ketangguhan diri mulai hari ini. Lawan rasa malas dan jadilah pribadi yang produktif.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
