SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beranda » Berita » Syekh Shinhaji: Ulama Besar Pengarang Kitab al-Ajurumiyyah

Syekh Shinhaji: Ulama Besar Pengarang Kitab al-Ajurumiyyah

Syekh Shinhaji
Ilustrasi

SURAU.CO – Maroko, negeri yang masyhur dengan sebutan Negeri Seribu Benteng, tanah kelahiran banyak ulama besar dan para wali yang berpengaruh dalam khazanah keilmuan Islam. Di antara tokoh yang namanya harum hingga Nusantara adalah pengarang kitab Al-Ajurumiyyah, sebuah kitab dasar ilmu nahwu yang menjadi pilihan utama di berbagai pesantren. Kitab yang memiliki nama lengkap Al-Muqaddimah al-Ajurrumiyyah fi Mabadi’ Ilm al-Arabiyyah ini terus bertahan selama berabad-abad sebagai rujukan penting bagi para pelajar pemula dalam bidang tata bahasa Arab.

Pengarang kitab ini memiliki nama lengkap Abu Abdillah Muhammad bin Muhammad bin Dawud al-Shinhaji. Nisbah al-Shinhaji merujuk pada kabilah besar di wilayah Maghrib, yaitu kabilah Shinhajah. Dari nisbah ini kemudian muncul julukan yang lebih populer, yaitu Ibnu Ajurrum. Nama “Ajurrum” sendiri diyakini sebagian ulama sebagai istilah dalam bahasa Berber yang berarti orang miskin atau orang zuhud.

Ibnu Imad dalam kitab Syadzaratudz Dzahab mencatat bahwa Syekh al-Shinhaji lahir di Kota Fes pada tahun 672 H. Kota ini menjadi salah satu pusat ilmu terbesar di Maroko, sehingga tidak mengherankan jika beliau tumbuh dalam lingkungan yang kaya akan tradisi keilmuan. Beliau wafat pada hari Senin setelah zuhur, tepatnya tanggal 20 Safar 723 H, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ibnul Hajj, Imam al-Halawi, dan Imam Ibnul Imad. Menurut pendapat Imam Ibnul Hajj, makam Syekh Ibnu Ajurrum terletak di kawasan Babul Jizayn.

Perjalanan Menuntut Ilmu

Syekh al-Shinhaji memulai petualangan intelektualnya di kota kelahirannya, Fes. Di kota itu ia mempelajari berbagai cabang ilmu agama hingga mencapai tingkat kematangan ilmiah. Setelah itu, beliau melanjutkan perjalanan ke Kairo untuk memperdalam ilmu nahwu bersama sosok ulama besar yang sangat berpengaruh dalam tradisi gramatika Arab, yaitu Abu Hayyan al-Andalusi, pengarang kitab monumental al-Bahru al-Muhith. Abu Hayyan dikenal sebagai ahli nahwu yang kritis dan memiliki keluasan wawasan, sehingga pengaruhnya sangat besar terhadap perkembangan keilmuan Syekh al-Shinhaji.

Setelah menimba ilmu di Kairo, Syekh al-Shinhaji mendapat izin mengajar dan mulai menyampaikan ilmu tata bahasa Arab kepada para muridnya. Keahlian beliau tidak hanya terbatas pada nahwu. Ia juga menguasai ilmu fikih, matematika, tajwid, serta seni lukis, kaligrafi, dan sastra. Keluasan bidang keilmuan ini memperlihatkan betapa komprehensifnya pendidikan yang beliau tempuh.

Perspektif Ulama Nusantara: Ijtihad dalam Bingkai Kebersamaan

Karya-karya Syekh Shinhaji yang terkenal adalah:

  1. Farâ’id al-Ma’âni fî Syarhi Hirzi al-Amâni
    Sebuah karya dalam bidang qira’at yang menunjukkan keluasan ilmu beliau dalam disiplin al-Qur’an.
  2. Al-Muqaddimah al-Ajurrumiyyah
    Kitab yang menjadi warisan paling monumental. Hingga kini kitab ini menjadi pintu gerbang pembelajaran nahwu di dunia Islam, terutama di pesantren-pesantren Nusantara.

Keistimewaan kitab al-Ajurumiyyah terletak pada penyajiannya yang ringkas, sistematis, dan mudah dihafal. Para ulama memuji kitab ini karena mampu menjelaskan kaidah dasar ilmu nahwu dengan bahasa yang singkat namun padat makna.

Peristiwa Menarik di Balik Penulisan Al-Ajurumiyyah

Proses penulisan kitab al-Ajurumiyyah diwarnai beberapa kisah istimewa yang menjadi catatan dalam literatur klasik. Dalam Hasyiyah al-Hamidi ‘ala Syarh al-Kafrawi diceritakan bahwa ketika Syekh al-Shinhaji berada di depan Ka’bah, naskah kitabnya tiba-tiba terbang tertiup angin. Pada saat itu beliau berdoa dengan penuh keikhlasan:

اللّهمّ إن كان خالصًا لوجهك فردّه عليّ

“Ya Allah, jika kitab ini aku tulis dengan tulus karena mengharap keridhaan-Mu, maka kembalikanlah ia kepadaku.”

Kalimat Terakhir: Jaminan atau Harapan?

Menurut riwayat tersebut, kitab itu benar-benar kembali kepadanya tanpa cacat.

Kisah lain menyebutkan bahwa setelah selesai menulis kitabnya, Syekh al-Shinhaji melemparkan naskah al-Ajurumiyyah ke laut. Ia berkata:

إن كان خالصًا لله فلا يبل

“Ya Allah, jika karya ini lahir dari keikhlasan untuk-Mu, maka jangan biarkan ia basah.”

Kitab itu pun kembali ke tepi pantai dalam keadaan kering, sebagaimana disebutkan dalam referensi yang sama.

Sepuluh Ramadhan: Meluruskan Niat, Menyiapkan Hati

Warisan Keilmuan yang Tak Tergerus Zaman

Keberkahan dan ketulusan yang mengiringi penyusunan al-Ajurumiyyah tampaknya menjadi rahasia mengapa kitab ini bertahan hingga ratusan tahun. Di Indonesia, hampir tidak ada pesantren yang tidak mengenal kitab ini. Para santri mempelajarinya sebagai pondasi sebelum masuk pada kitab-kitab nahwu yang lebih kompleks.

Syekh al-Shinhaji bukan hanya seorang ahli nahwu, tetapi juga sosok ulama yang menunjukkan ketekunan, keikhlasan, dan kecintaan yang mendalam terhadap ilmu. Biografinya mengajarkan bahwa kejernihan niat menjadi faktor penting dalam keberlanjutan sebuah karya.

Hingga hari ini, al-Ajurumiyyah terus menjadi saksi betapa besar kontribusi seorang ulama dari Fes yang namanya tetap harum di dunia Islam, termasuk di Nusantara.

 


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.