SURAU.CO – Allah Swt menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya. Dalam perjalanan hidup, manusia selalu menghadapi ujian. Ujian itu datang dalam berbagai bentuk, salah satunya melalui keturunan dan harta benda. Kedua hal ini sering membuat manusia lupa kepada Allah, padahal sejatinya keduanya hanya titipan sementara. Al-Qur’an menegaskan bahwa harta dan anak merupakan cobaan yang bisa mengantarkan seseorang pada kebahagiaan atau justru kebinasaan, tergantung bagaimana ia menyikapinya.
Ujian Anak: Antara Cinta dan Ketaatan
Sejarah mencatat bagaimana para nabi menghadapi ujian melalui anak-anaknya. Nabi Nuh menghadapi kenyataan pahit ketika anaknya, Kan’an, menolak seruan iman kepada Allah. Meskipun Nuh berdakwah dengan penuh kesungguhan, putranya tetap tidak berubah. Tragedi itu mencerminkan bahwa kecintaan seorang ayah kepada anak tidak dapat mengalahkan ketaatan kepada Allah. Allah pun menegur Nuh ketika beliau meminta agar anaknya selamat dari banjir besar. Teguran ini menunjukkan bahwa keselamatan dan kesejahteraan seseorang bergantung pada iman dan ketaatan, bukan pada keturunan.
Nabi Ibrahim menghadapi ujian yang berbeda. Allah memerintahkannya untuk menyembih anaknya, Ismail. Perintah itu menguji seberapa besar cintanya kepada Allah dibandingkan cintanya kepada anak. Ibrahim lulus dalam ujian itu, demikian pula Ismail yang rela menerima perintah Allah dengan penuh keikhlasan. Kisah ini mengajarkan bahwa anak memang menjadi kenikmatan agung, tetapi ia juga bisa menjadi sarana ujian yang menentukan kualitas iman seseorang.
Ujian Harta: Kekayaan atau Bencana
Selain anak, harta juga menjadi ujian besar bagi manusia. Allah Swt mengingatkan dalam surat at-Taghabun ayat 15:
“Sejujurnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah pahala yang besar.”
Ayat ini menegaskan bahwa kepemilikan harta tidak selalu mendatangkan kebahagiaan. Banyak orang yang merasa aman karena memiliki kekayaan yang melimpah. Namun, harta sering membuat manusia lalai dan melampaui batas. Allah Swt menegaskan dalam surat al-‘Alaq ayat 6-7:
“Sekali-kali tidak. Sungguh, manusia itu benar-benar melampaui batas, jika melihat dirinya serba cukup.”
Kekayaan yang seharusnya menjadi sarana menjadi syukur justru sering berubah menjadi alat kesombongan. Banyak orang yang menggunakan hartanya untuk maksiat, korupsi, menindas sesama, bahkan melupakan kewajiban kepada Allah. Dalam kondisi seperti ini, harta tidak lagi menjadi nikmat, melainkan berubah menjadi bencana yang menyeret pemiliknya kepada azab Allah.
Namun, bila manusia mengelola harta dengan baik, ia bisa menjadi sarana untuk meraih keridhaan Allah. Nabi Sulaiman menjadi contoh bagaimana kekayaan berlimpah tidak membuat seorang hamba lalai. Beliau justru menjadikan kekuasaan dan hartanya sebagai wasilah dakwah. Dengan kekuasaan itu, Nabi Sulaiman berhasil mengajak Ratu Bilqis dan kaumnya untuk beriman kepada Allah. Kisah ini membuktikan bahwa manusia bisa menjadikan kekayaan sebagai ladang amal bila ia menggunakannya di jalan yang benar.
Hadits tentang Ujian Harta
Rasulullah Saw juga memperingatkan umatnya tentang ujian harta. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, At-Tirmidzi, At-Tabrani, dan Hakim dari Ka’ab bin Iyad, beliau bersabda:
“Sebenarnya bagi tiap-tiap umat ada cobaan, dan sesungguhnya cobaan umatku adalah harta.”
Hadits ini menunjukkan bahwa umat Islam menghadapi ujian terberat berupa harta. Banyak orang jatuh karena tidak mampu mengendalikan hawa nafsu dalam mengelola kekayaan. Mereka rela menghalalkan segala cara demi memperoleh harta, bahkan ketika harus menzalimi orang lain.
Jalan Menuju Kebahagiaan Abadi
Ujian anak dan harta menjadi kenyataan yang selalu hadir dalam kehidupan manusia. Allah menguji manusia bukan untuk menyusahkan, melainkan untuk menilai siapa yang paling baik amalnya. Anak bisa mengantarkan orang tuanya ke surga bila dididik dengan benar, atau sebaliknya menyebabkan kecelakaan jika diabaikan. Demikian juga harta, bisa mendekatkan manusia kepada Allah bila digunakan di jalan-Nya, atau berubah menjadi bencana bila ia pakai untuk maksiat.
Keberhasilan menghadapi ujian ini bergantung pada kesungguhan manusia dalam menjaga iman dan kecintaan kepada Allah. Bila manusia mampu menjadikan anak dan hartanya sebagai sarana ibadah, maka Allah akan menganugerahkan pahala dan kebahagiaan abadi di akhirat. Sebaliknya, bila manusia mencintai keduanya secara berlebihan hingga melupakan Allah, maka ujian itu akan membuahkan bencana. Firman Allah Swt dalam surah at-Tagabun ayat 15 menjadi pengingat sekaligus motivasi:
Dengan menjadikan Allah sebagai pusat cinta dan tujuan utama, manusia bisa menjadikan anak dan harta sebagai jalan menuju keridhaan-Nya, bukan sebagai penghalang menuju surga.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
