Khazanah
Beranda » Berita » Belajar dengan Hati: Menanamkan Cinta Al-Qur’an Sejak Dini

Belajar dengan Hati: Menanamkan Cinta Al-Qur’an Sejak Dini

Belajar dengan Hati: Menanamkan Cinta Al-Qur'an Sejak Dini

Belajar dengan Hati: Menanamkan Cinta Al-Qur’an Sejak Dini.

Dibalik wajah mungil yang tampak serius itu, tersimpan semangat yang luar biasa untuk memahami huruf demi huruf dalam Al-Qur’an. Seorang anak kecil dengan seragam rapi dan pandangan penuh perhatian duduk di depan buku Iqra’. Di hadapannya, seorang guru membimbing dengan penuh kelembutan, menuntunnya membaca huruf-huruf hijaiyah dengan ketelitian. Sebuah proses sederhana namun sangat bermakna: inilah langkah awal menuju cinta sejati terhadap kitab suci.

Momen seperti ini terlihat sepele bagi sebagian orang. Tapi bagi dunia pendidikan Islam, inilah detik-detik yang sangat menentukan. Mengajarkan huruf hijaiyah bukan hanya sekadar proses mengenal bentuk dan bunyi, tetapi juga bagian dari menanamkan akidah, disiplin, dan kecintaan kepada agama.

Pendidikan Awal, Pondasi yang Kokoh

Usia dini adalah masa emas. Apa yang diajarkan dan ditanamkan pada saat ini akan menetap kuat di memori dan jiwa anak. Mengenalkan Al-Qur’an sejak kecil adalah investasi spiritual jangka panjang. Setiap huruf yang dia kenali, setiap bunyi yang dia lafalkan, kelak akan membentuk jiwanya menjadi insan yang dekat dengan Allah dan cinta pada syariat-Nya.

Pendidikan Islam tidak hanya menargetkan aspek intelektual, tapi juga menyentuh hati. Anak-anak diajak berinteraksi dengan huruf-huruf Allah, bukan dengan tekanan, tetapi dengan kasih sayang. Mereka tidak dipaksa, tetapi ditumbuhkan rasa senang terhadap bacaan Qur’ani.

Kepastian Hukum dan Jalan Demokrasi Desa Balusu

Peran Guru sebagai Penuntun Cahaya

Dalam foto tersebut tampak seorang guru, dengan spidol di tangan, sedang membimbing bacaan anak didiknya. Guru ini bukan sekadar pengajar. Ia adalah pembimbing ruhani yang menyulut cahaya di hati generasi penerus Islam. Dengan sabar dan telaten, ia mengarahkan jari kecil muridnya ke huruf-huruf hijaiyah—seperti menyalakan lentera di tengah kegelapan zaman.

Guru-guru seperti inilah yang menjadi pahlawan sejati di balik bangkitnya umat. Mereka bukan sekadar membacakan pelajaran, tetapi menanamkan iman. Setiap detik yang mereka habiskan untuk mengajar huruf hijaiyah adalah kontribusi besar dalam menjaga warisan nubuwah.

Membangun Rasa Cinta, Bukan Rasa Takut

Salah satu kesalahan pendekatan dalam pendidikan agama kadang terletak pada penekanan yang berlebihan pada hukuman dan rasa takut. Padahal, mengenalkan Al-Qur’an dan agama Islam haruslah berangkat dari rasa cinta. Ketika anak mencintai sesuatu, maka mereka akan menjaganya sendiri tanpa perlu dipaksa.

Dalam proses pembelajaran seperti dalam foto ini, anak belajar dengan rasa aman. Ia tidak takut salah, karena gurunya membimbing dengan penuh kesabaran. Inilah lingkungan ideal dalam pendidikan Islam: tempat di mana anak-anak merasa dicintai dan dimuliakan, karena mereka sedang belajar kalam Ilahi.

Teknologi dan Tradisi, Berjalan Bersama

Di era digital saat ini, banyak yang menganggap metode belajar tradisional seperti ini sudah usang. Namun kenyataannya, metode langsung tatap muka seperti ini tetap memiliki kekuatan luar biasa. Sentuhan langsung, interaksi mata, dan perhatian personal tidak bisa digantikan oleh layar gawai.

Taman Laut dan Amanah yang Terlupakan: Refleksi Ekologis dari Pesisir Bengkalis

Namun bukan berarti kita menolak teknologi. Justru, teknologi bisa menjadi pendukung. Misalnya, setelah anak belajar langsung, orang tua bisa mendampingi di rumah melalui aplikasi belajar Iqra’, atau mendengarkan murottal sebagai penguatan hafalan. Kuncinya ada pada sinergi: bukan mengganti, tetapi melengkapi.

Keluarga: Madrasah Pertama dan Utama

Tidak cukup jika hanya guru yang bekerja. Keluarga, khususnya orang tua, memiliki peran besar dalam menjadikan anak-anak cinta Al-Qur’an. Membiasakan anak mendengar lantunan Qur’an di rumah, mengajak mereka ke masjid, atau sekadar menanyakan pelajaran hari ini—itu semua adalah bentuk keterlibatan yang sangat berarti.

Bayangkan, jika setiap rumah menjadikan Al-Qur’an sebagai pusat perhatian harian, maka masyarakat kita akan penuh cahaya. Anak-anak yang dibiasakan dekat dengan Qur’an sejak kecil, akan tumbuh menjadi pemuda yang tangguh dan berakhlak mulia.

Menatap Masa Depan dengan Harapan

Apa yang kita lihat dalam foto ini bukan hanya proses belajar membaca huruf. Ini adalah cikal bakal perubahan peradaban. Dari anak-anak kecil seperti inilah akan lahir ulama, dai, pemimpin, dan penentu arah bangsa di masa depan.

Maka tak berlebihan jika kita katakan: setiap huruf yang mereka pelajari hari ini, adalah langkah menuju kebangkitan umat esok hari. Setiap kali seorang anak mampu membaca “ba”, “ta”, “tsa” dengan benar, berarti satu langkah lebih dekat kepada pemahaman terhadap firman Allah.

Keutamaan Malam Nisyfu Sya’ban: Teladan Ibadah Rasulullah dan Warisan Para Ulama

Penutup: Mari Kita Dukung dan Doakan

Sebagai umat Islam, sudah sewajarnya kita mendukung pendidikan Qur’an untuk anak-anak. Baik dengan menjadi orang tua yang aktif mendampingi, guru yang sabar membimbing, atau masyarakat yang memberi perhatian kepada pendidikan dini. Jangan biarkan generasi ini tumbuh tanpa cahaya Al-Qur’an.

Doakan anak-anak ini agar terus istiqamah. Doakan para guru agar senantiasa diberi kekuatan dan keikhlasan. Doakan keluarga-keluarga Muslim agar menjadikan rumah mereka sebagai taman Al-Qur’an.

Karena dari sinilah kebangkitan Islam akan bermula: dari tangan-tangan mungil yang sedang mengeja huruf-huruf wahyu, dengan bimbingan penuh cinta dari mereka yang peduli akan masa depan umat. #PendidikanIslam #CintaQuran #BelajarSejakDini #MadrasahAwal #GuruPahlawanUmat. (Tengku Iskandar)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.