SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Khazanah Opinion
Beranda » Berita » Hidayah yang Belum Sempurna: Antara Pakaian dan Lisan

Hidayah yang Belum Sempurna: Antara Pakaian dan Lisan

Hidayah yang Belum Sempurna: Antara Pakaian dan Lisan
Hidayah yang Belum Sempurna: Antara Pakaian dan Lisan

 

SURAU.CO – Abstrak, fenomena hijrah di era modern menunjukkan perkembangan yang signifikan, terutama dalam aspek penampilan lahiriah umat Islam. Namun, perubahan tersebut tidak selalu diiringi dengan transformasi akhlak, khususnya dalam menjaga lisan. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji konsep hidayah secara komprehensif berdasarkan Al-Qur’an, hadis, serta tafsir ulama klasik seperti Ismail ibn Kathir dan Abu Abdillah al-Qurtubi. Dengan pendekatan kualitatif-deskriptif, artikel ini menegaskan bahwa hidayah sejati mencakup keselarasan antara penampilan, hati, dan lisan. Tanpa itu, hijrah hanya menjadi simbol tanpa substansi.

Kata kunci: hidayah, lisan, hijrah, akhlak, tafsir klasik

Pendahuluan

Dalam beberapa tahun terakhir, istilah “hijrah” menjadi fenomena sosial yang luas di tengah masyarakat Muslim. Hijrah tidak lagi sekadar dimaknai sebagai perpindahan fisik, tetapi lebih kepada perubahan menuju kehidupan yang lebih Islami. Perubahan ini paling tampak pada aspek lahiriah: pakaian syar’i, janggut bagi laki-laki, dan berbagai simbol religius lainnya.

Namun, di balik fenomena ini, muncul kegelisahan yang tidak bisa diabaikan. Banyak individu yang telah berubah dalam penampilan, tetapi lisannya masih dipenuhi dengan ucapan yang jauh dari nilai-nilai Islam: ghibah, fitnah, celaan, bahkan ujaran kebencian yang dibungkus dengan dalih agama.

Bijak Mengelola Perkara Kecil: Jalan Menuju Kedewasaan dan Kematangan Sosial

Ungkapan yang disampaikan oleh Abu Yahya Badru Salam menjadi sangat relevan:
“Betapa banyak orang yang mendapat hidayah dalam berpakaian, tapi tidak mendapat hidayah pada lisannya.”

Tulisan ini berupaya mengurai fenomena tersebut secara ilmiah dan reflektif, dengan merujuk kepada Al-Qur’an, hadis, serta pandangan ulama klasik.

Konsep Hidayah dalam Al-Qur’an

Hidayah dalam Islam adalah anugerah terbesar dari Allah ﷻ. Ia bukan sekadar pengetahuan, tetapi cahaya yang menuntun manusia menuju kebenaran. Allah berfirman:

> وَمَن لَّمْ يَجْعَلِ ٱللَّهُ لَهُۥ نُورًا فَمَا لَهُۥ مِن نُّورٍ
“Barang siapa yang tidak diberi cahaya oleh Allah, maka dia tidak mempunyai cahaya sedikit pun.”
(QS. An-Nur: 40)

Menurut Ismail ibn Kathir dalam Tafsir Ibnu Katsir, ayat ini menunjukkan bahwa hidayah adalah cahaya yang Allah tanamkan dalam hati seorang hamba, sehingga ia mampu membedakan antara yang hak dan yang batil. Tanpa cahaya tersebut, manusia akan tetap berada dalam kegelapan, meskipun secara lahiriah tampak baik.

Kisah Hikmah Ilmu “Bulan Syawal Hari ke 16, 17, 18, 19, 20”

Sementara itu, Abu Abdillah al-Qurtubi menjelaskan bahwa hidayah memiliki tingkatan: mulai dari hidayah penjelasan (irsyad) hingga hidayah taufik (pemberian kemampuan untuk mengamalkan). Banyak orang hanya sampai pada tahap mengetahui, tetapi belum sampai pada tahap mengamalkan secara sempurna.

Di sinilah letak persoalan utama: seseorang mungkin telah mengetahui kewajiban berpakaian sesuai syariat, tetapi belum mendapatkan taufik untuk menjaga lisannya.

Lisan sebagai Cerminan Iman

Dalam Islam, lisan memiliki kedudukan yang sangat penting. Ia adalah alat komunikasi, tetapi juga menjadi indikator kualitas iman seseorang. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Imam al-Bukhari dan Imam Muslim)

Hadis ini menunjukkan hubungan langsung antara iman dan ucapan. Jika iman seseorang kuat, maka lisannya akan terjaga. Sebaliknya, jika lisannya liar, maka itu menjadi indikasi adanya kelemahan dalam iman.

Merawat Ketaqwaan Pasca Bulan Ramadhan

Dalam Ihya Ulumuddin, Abu Hamid al-Ghazali menjelaskan bahwa lisan adalah anggota tubuh yang paling berbahaya. Ia kecil secara fisik, tetapi dampaknya sangat besar. Banyak dosa besar yang bersumber dari lisan: dusta, ghibah, namimah, dan sebagainya.

Fenomena Hijrah Simbolik di Era Digital

Era digital mempercepat penyebaran nilai-nilai keagamaan, tetapi juga membuka ruang bagi munculnya fenomena “hijrah simbolik”. Media sosial menjadi panggung utama di mana identitas religius ditampilkan, namun tidak selalu diiringi dengan kedalaman spiritual.

Kita sering menyaksikan seseorang yang tampil religius, tetapi di kolom komentar mudah mencela, menghina, bahkan mengkafirkan orang lain. Hal ini menunjukkan adanya ketimpangan antara penampilan dan akhlak.

Fenomena ini tidak hanya berbahaya secara individu, tetapi juga berdampak pada citra Islam secara kolektif. Islam yang seharusnya tampil sebagai agama rahmat, justru terlihat keras dan penuh konflik.

Mengapa Lisan Sulit Dijaga?

Ada beberapa faktor yang menyebabkan lisan lebih sulit dijaga dibandingkan penampilan:

  1. Keterkaitan dengan Hati
    Lisan adalah cerminan hati. Jika hati belum bersih dari penyakit seperti hasad, riya, dan ujub, maka lisan akan sulit dikendalikan.

  2. Kebiasaan Sosial
    Budaya bergosip, bercanda berlebihan, dan mengomentari orang lain telah menjadi kebiasaan yang mengakar dalam masyarakat.

  3. Kurangnya Kesadaran Spiritual
    Banyak orang tidak menyadari bahwa setiap ucapan akan dimintai pertanggungjawaban.

Allah ﷻ berfirman:

> مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tidak ada satu kata pun yang diucapkannya melainkan ada malaikat yang mencatatnya.”
(QS. Qaf: 18)

Bahaya Lisan yang Tidak Terjaga

Lisan yang tidak dijaga dapat membawa kehancuran. Rasulullah ﷺ bersabda:

> “Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang ia anggap remeh, namun karenanya ia terjatuh ke dalam neraka sejauh antara timur dan barat.”
(HR. Imam al-Bukhari dan Imam Muslim)

Dalam penjelasan Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari, hadis ini menunjukkan betapa besar dampak satu ucapan, bahkan yang dianggap sepele.

Menyempurnakan Hidayah: Dari Lahir ke Batin

Hidayah sejati adalah yang menyentuh seluruh aspek kehidupan. Untuk mencapainya, diperlukan upaya yang sungguh-sungguh:

  1. Muhasabah
    Evaluasi diri setiap hari, terutama dalam hal ucapan.

  2. Dzikir
    Dzikir dapat melembutkan hati dan menjaga lisan.

  3. Menuntut Ilmu
    Ilmu yang benar akan membimbing seseorang dalam berakhlak.

  4. Lingkungan yang Baik
    Lingkungan sangat mempengaruhi kebiasaan lisan seseorang.

Kesimpulan

Fenomena hijrah yang hanya berfokus pada penampilan tanpa diiringi dengan perbaikan lisan adalah bentuk hidayah yang belum sempurna.

Hidayah sejati mencakup perubahan total: hati, lisan, dan perbuatan.

Sebagaimana dijelaskan oleh para ulama seperti Ismail ibn Kathir dan Abu Abdillah al-Qurtubi, iman yang benar pasti melahirkan akhlak yang mulia. Oleh karena itu, menjaga lisan bukan sekadar adab, tetapi bagian dari kesempurnaan iman.

Penutup Reflektif

Hari ini, kita mungkin telah berubah dalam berpakaian. Namun, mari kita bertanya dengan jujur: apakah lisan kita juga telah berhijrah?

Jangan sampai kita termasuk orang yang tampak baik di luar, tetapi menyakiti orang lain dengan ucapan kita. Karena pada akhirnya, yang akan menyelamatkan kita bukanlah apa yang kita kenakan, tetapi apa yang kita imani, ucapkan, dan amalkan.

Daftar Pustaka

Al-Qur’an al-Karim

Ismail ibn Kathir. Tafsir Ibnu Katsir.

Abu Abdillah al-Qurtubi. Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an.

Imam al-Bukhari. Shahih al-Bukhari.

Imam Muslim. Shahih Muslim.

Abu Hamid al-Ghazali. Ihya Ulumuddin.

Ibn Hajar al-Asqalani. Fath al-Bari. (Tengku Iskandar)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.