SURAU.CO – Dalam khazanah keilmuan Islam, kita menemukan untaian hikmah yang tidak lekang oleh waktu. Salah satunya adalah nasihat dari Ibnu Jauzi rahimahullah, yang menyatakan bahwa orang berakal adalah mereka yang tidak mempermasalahkan setiap hal kecil maupun besar dalam hubungan dengan keluarga, orang terkasih, teman, dan tetangga. Kalimat ini tampak sederhana, namun sejatinya merupakan prinsip besar dalam membangun kehidupan yang harmonis dan penuh keberkahan.
Berpaling dari Kebodohan
Di era modern saat ini, manusia hidup dalam tekanan yang tidak ringan. Media sosial, kesibukan pekerjaan, dan tuntutan kehidupan seringkali membuat emosi menjadi lebih sensitif. Hal-hal kecil yang dahulu dianggap sepele, kini bisa menjadi pemicu konflik besar. Ucapan yang sedikit menyinggung, sikap yang tidak sesuai harapan, bahkan keterlambatan membalas pesan, dapat memicu prasangka dan pertengkaran.
Padahal, Islam sebagai agama yang sempurna telah memberikan panduan bagaimana seharusnya seorang mukmin bersikap dalam menghadapi dinamika kehidupan sosial. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
> خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
“Jadilah engkau pemaaf, perintahkanlah yang ma’ruf, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf: 199)¹
Ayat ini merupakan prinsip emas dalam interaksi sosial. Menjadi pemaaf berarti tidak mudah tersinggung, tidak cepat marah, dan tidak gemar membalas setiap kesalahan. Bahkan, Allah memerintahkan untuk berpaling dari kebodohan—artinya tidak semua hal perlu ditanggapi.
Orang-orang yang Mencapai Derajat Ihsan
Lebih lanjut, Allah juga berfirman:
> وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“(yaitu) orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali ‘Imran: 134)²
Ayat ini mengajarkan dua hal penting: menahan amarah (kāẓimīn al-ghayẓ) dan memaafkan manusia (‘āfīn ‘ani an-nās). Menahan amarah adalah langkah pertama, sedangkan memaafkan adalah tingkat yang lebih tinggi. Inilah akhlak para muhsinin—orang-orang yang mencapai derajat ihsan.
Menurut penafsiran Ibnu Katsir, ayat ini menunjukkan bahwa orang yang mampu menahan amarah dan memaafkan adalah mereka yang memiliki jiwa yang bersih dan hati yang luas. Mereka tidak dikuasai oleh emosi, melainkan mengendalikan emosi itu sendiri. Sementara Al-Qurtubi menegaskan bahwa memaafkan adalah bentuk kemuliaan akhlak yang dapat mengangkat derajat seseorang di sisi Allah dan manusia.
Kemampuan Mengendalikan Diri
Rasulullah ﷺ sebagai teladan utama umat Islam telah memberikan contoh nyata dalam kehidupan beliau. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, beliau bersabda:
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Orang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.”³
Hadis ini membalik cara pandang manusia tentang kekuatan. Kekuatan sejati bukan pada fisik, tetapi pada kemampuan mengendalikan diri. Orang yang mampu menahan amarah adalah orang yang telah menaklukkan dirinya sendiri.
Dalam hadis lain, Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”⁴
Hadis ini sangat relevan dengan kehidupan kita hari ini. Banyak konflik terjadi karena lisan yang tidak terjaga. Kata-kata yang seharusnya bisa ditahan justru diucapkan, sehingga melukai hati orang lain. Padahal, diam dalam kondisi tertentu adalah bentuk kebijaksanaan.
Menyelamatkan Kebahagiaan yang Besar
Jika kita tarik ke dalam kehidupan keluarga, maka nasihat ini menjadi sangat penting. Rumah tangga bukan tempat mempertajam ego, tetapi tempat belajar saling memahami. Tidak semua kesalahan pasangan harus dibesar-besarkan. Terkadang, mengalah dalam hal kecil justru menyelamatkan kebahagiaan yang besar.
Begitu pula dalam pertemanan. Hubungan yang langgeng bukan karena tidak pernah ada masalah, tetapi karena adanya kemampuan untuk memaafkan dan melupakan. Orang yang berakal tidak akan merusak hubungan hanya karena perkara sepele.
Dalam kehidupan bertetangga, Islam mengajarkan toleransi yang tinggi. Rasulullah ﷺ bahkan mewasiatkan untuk berbuat baik kepada tetangga hingga para sahabat mengira tetangga akan mendapatkan hak warisan. Ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga hubungan sosial dengan penuh kesabaran.
Nasihat Ibnu Jauzi juga mengandung pelajaran tentang manajemen energi jiwa. Tidak semua hal layak mendapatkan perhatian kita. Jika setiap perkara dipikirkan dan dipermasalahkan, maka hati akan menjadi sempit dan hidup terasa berat. Sebaliknya, dengan memilih untuk mengabaikan hal-hal kecil, kita sedang menjaga ketenangan batin.
Hati yang Ringan dan Pikiran yang Jernih
Dalam perspektif tasawuf, sikap ini dikenal sebagai ḥusnuzhan (berbaik sangka) dan salamatush-shadr (kelapangan dada). Orang yang memiliki kelapangan dada tidak mudah tersinggung, tidak cepat marah, dan tidak menyimpan dendam. Ia hidup dengan hati yang ringan dan pikiran yang jernih.
Lebih jauh lagi, sikap tidak mempermasalahkan hal kecil juga merupakan bentuk kecerdasan emosional (emotional intelligence). Dalam psikologi modern, orang yang memiliki kecerdasan emosional tinggi adalah mereka yang mampu mengelola emosi, memahami orang lain, dan menjaga hubungan sosial dengan baik. Hal ini sejalan dengan ajaran Islam yang telah ada sejak berabad-abad yang lalu.
Namun demikian, perlu dipahami bahwa tidak mempermasalahkan hal kecil bukan berarti membiarkan kemungkaran atau mengabaikan prinsip. Dalam perkara prinsip agama dan kebenaran, seorang mukmin tetap harus tegas. Yang dimaksud dalam nasihat ini adalah perkara-perkara duniawi yang bersifat pribadi dan tidak prinsipil.
Akhirnya, kita sampai pada satu kesimpulan penting: kedewasaan iman tercermin dari cara seseorang menyikapi masalah. Orang yang matang secara spiritual tidak mudah bereaksi terhadap hal kecil. Ia lebih memilih untuk menjaga hubungan, memperbaiki diri, dan mendekatkan diri kepada Allah.
Berapa banyak rumah tangga yang hancur karena hal sepele? Berapa banyak persahabatan yang retak karena kesalahpahaman kecil? Dan berapa banyak hati yang terluka karena kata-kata yang tidak perlu?.
Mengamalkan Nasihat dan Tuntunan Syari’at
Semua itu bisa dihindari jika kita mampu mengamalkan nasihat para ulama dan tuntunan syariat. Belajar untuk menahan diri, memaafkan, dan tidak memperbesar masalah adalah kunci kebahagiaan dunia dan akhirat.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang berakal, yang mampu mengendalikan diri, menjaga lisan, dan menghiasi kehidupan dengan akhlak mulia. Aamiin.
Footnote
- Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, QS. Al-A’raf: 199.
-
Ibid., QS. Ali ‘Imran: 134.
-
Imam Bukhari, Shahih Bukhari, no. 6114; Imam Muslim, Shahih Muslim, no. 2609.
- Imam Bukhari, Shahih Bukhari, no. 6018; Imam Muslim, Shahih Muslim, no. 47. Penulis: Tengku Iskandar, S.Pd.I – (Penyuluh Agama Islam & Duta Literasi Dakwah) Padang, Sumatera Barat
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
