SURAU.CO – Bulan Syawal sering diingat di awalnya saja, saat manusia masih merasakan suasana Idul Fitri, masih saling memaafkan, masih menjaga lisan, masih ringan tangan untuk bersedekah, dan masih rajin beribadah. Namun setelah lewat beberapa hari, hati manusia perlahan kembali pada kebiasaan lamanya.
Maka ada hikmah jika kita merenungkan hari-hari setelah pertengahan Syawal, yaitu hari ke 16, 17, 18, 19, dan 20.
Hari ke-16 Syawal
Manusia mulai kembali sibuk dengan urusan dunia, dan mulai lupa dengan janji saat malam takbiran. Hikmahnya: iman harus dijaga, karena yang sulit bukan menjadi baik, tetapi tetap baik.
Hari ke-17 Syawal
Ini mengingatkan pada peristiwa besar dalam sejarah Islam, yaitu perang badar (Battle of Badr). Jumlah yang sedikit bisa mengalahkan yang banyak. Hikmahnya: kemenangan bukan karena jumlah, tetapi karena keyakinan dan pertolongan Alloh.
Hari ke-18 Syawal
Hati manusia mulai diuji dengan perasaan iri, sombong, dan merasa lebih baik dari orang lain setelah merasa ibadahnya banyak di Romadhon. Hikmahnya: ibadah tanpa rendah hati bisa menjadi kesombongan yang halus.
Hari ke-19 Syawal
Manusia mulai kembali pada kebiasaan lama, mungkin lisan mulai tidak dijaga, waktu mulai disia-siakan. Hikmahnya: istiqomah lebih berat daripada memulai.
Hari ke-20 Syawal
Ini menjadi pertanyaan untuk diri sendiri: Apakah setelah Romadhon dan Syawal kita menjadi manusia baru, atau kembali menjadi manusia lama?
Hikmah Besar Bulan Syawal
Romadhon melatih,
Syawal membuktikan.
Romadhon adalah madrasah, Syawal adalah ujian kelulusan.
Romadhon adalah janji, Syawal adalah bukti.
Penutup Hikmah: Jangan ukur kebaikan seseorang di akhir Romadhon, tapi lihatlah kebaikannya di pertengahan Syawal.
Karena banyak orang kuat berlari di awal, tetapi sedikit yang kuat berjalan sampai akhir.
Membersihkan Qolbu untuk Menuju Keselamatan
Pada suatu perjalanan kehidupan, seorang murid bertanya kepada gurunya, “Guru, di manakah letak keselamatan manusia itu? Apakah pada harta, ilmu, jabatan, atau kekuatan?”
Sang guru tersenyum lalu mengambil segelas air jernih dan menjatuhkan setetes tinta hitam ke dalamnya. Air itu menjadi keruh. Kemudian guru menuangkan air jernih sedikit demi sedikit hingga gelas itu kembali jernih.
Guru berkata,
“Keselamatan manusia itu seperti air jernih. Qolbu manusia awalnya bersih, tetapi dosa, iri, sombong, dengki, dan amarah adalah seperti tinta yang mengeruhkan air. Jika dibiarkan, maka gelaplah hati dan manusia tidak bisa melihat kebenaran.”
Murid bertanya lagi,
“Lalu bagaimana membersihkan qolbu, Guru?”
Guru menjawab,
“Seperti air tadi, bersihkan dengan menambahkan air jernih terus menerus. Air jernih itu adalah dzikir, ilmu, sabar, syukur, sedekah, dan memaafkan orang lain. Jika itu terus dilakukan, maka kotoran hati akan hilang sedikit demi sedikit.”
Kemudian guru berkata lagi,
“Orang yang selamat bukanlah orang yang tidak pernah salah, tetapi orang yang selalu membersihkan hatinya setiap kali berbuat salah. Karena hati yang bersih akan mudah menerima kebenaran, mudah bersyukur, tidak sombong, dan tidak membenci.”
Lalu sang guru menutup pelajaran dengan berkata,
“Perjalanan hidup bukan membersihkan dunia, tetapi membersihkan hati.
Karena dunia yang kotor tidak menghalangi keselamatan, tetapi hati yang kotor dapat menghalangi manusia menuju keselamatan.”
Hikmah:
- Qolbu yang bersih lebih berharga daripada harta dan jabatan.
- Dosa mengotori hati, dzikir dan kebaikan membersihkannya.
- Keselamatan hidup berawal dari hati yang bersih.
- Membersihkan hati adalah pekerjaan seumur hidup.
- Orang yang selamat adalah orang yang hatinya bersih ketika kembali kepada Tuhan.
Penutup:
“Jika ingin selamat dalam perjalanan hidup,
jangan sibuk membersihkan kesalahan orang lain,
tetapi sibuklah membersihkan hati sendiri.” (Bambang JB)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
