SURAU.CO – Ramadhan telah berlalu. Berbagai kenikmatan dan keutamaan yang Allah hamparkan sepanjang bulan itu kini sudah terhenti. Tinggal bagaimana kaum Muslim menghadapi sebelas bulan berikutnya sambil berharap Ramadhan berikutnya akan tiba.
Meski Ramadhan telah usai, ketakwaan tentu harus terus disemai. Bukankah tujuan ibadah shaum sepanjang Ramadhan lalu adalah untuk melahirkan pribadi-pribadi yang bertakwa? Bukan ketakwaan musiman yang hanya ada pada bulan Ramadhan saja. Akan tetapi, ketakwaan yang terus mengisi kehidupan umat sepanjang zaman.
Tiga Kelompok Manusia
Berkaitan dengan Ramadhan, ada tiga kelompok manusia. Pertama: Kelompok Muslim yang sebelum dan sesudah Ramadhan sama saja. Sama-sama mengabaikan ketaatan kepada Allah SWT. Ada atau tidak adanya Ramadhan tidak berdampak apa pun kepada mereka. Manusia dalam kelompok ini adalah yang paling celaka. Hati mereka telah terkunci akibat banyaknya perbuatan dosa yang mereka lakukan. Panggilan agung menuju ketakwaan tidak berpengaruh pada mereka. Inilah yang disebut oleh Allah SWT sebagai kelompok binatang ternak:
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِۖ لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اٰذَانٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ كَالْاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْغٰفِلُوْ
Sungguh, Kami benar-benar telah menyediakan untuk Neraka Jahanam kebanyakan makhluk dari kalangan jin dan manusia (karena kesesatan mereka). Mereka memiliki hati yang tidak mereka gunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah). Mereka memiliki mata yang tidak mereka gunakan untuk melihat (ayat-ayat Allah). Merekapun memiliki telinga yang tidak mereka gunakan untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah (TQS al-A’raf [7]: 179).
Rangkaian Amal Shalih
Kedua: Kelompok Muslim yang sebelum Ramadhan jauh dari Allah SWT dan sering mengabaikan ibadah. Akan tetapi, ketika Ramadhan tiba mereka bersungguh-sungguh mengerjakan ibadah (shaum, tadarus dan tarawih sepanjang Ramadhan). Lalu saat bulan mulia itu berlalu, rangkaian amal shalih itu kembali menghilang. Mereka yang termasuk golongan ini adalah yang oleh ulama salafus-shalih disebut sebagai “Hamba Ramadhan”. Mereka baru mau mendekati Allah hanya pada bulan Ramadhan saja. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahulLaah berkata, “Seburuk-buruk kaum adalah yang tidak mengenal hak Allah, kecuali hanya pada bulan Ramadhan saja. Sungguh seorang yang benar-benar shalih itu adalah orang yang istiqamah beribadah dan bersungguh-sungguh (taat kepada Allah SWT) sepanjang tahun.” (Ibnu Rajab, Lathaa’if al-Ma’aarif, hlm. 222).
Ketiga: Kelompok Muslim yang sebelum Ramadhan memang sudah dekat dengan Allah SWT. Mereka selalu bersungguh-sungguh menjalankan aturan Allah. Saat datang bulan Ramadhan ketaatan mereka semakin bertambah. Usai Ramadhan pun mereka tetap bekerja keras menjaga ketaatan tersebut. Inilah golongan yang beruntung karena mereka terus-menerus memelihara ketakwaan mereka sepanjang tahun. Bahkan setiap kali datang Ramadhan, bertambah lagi ketakwaan mereka.
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن تَتَّقُوا۟ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّكُمْ فُرْقَانًۭا وَيُكَفِّرْ عَنكُمْ سَيِّـَٔاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ ذُو ٱلْفَضْلِ ٱلْعَظِيمِ
Wahai orang-orang yang beriman! Jika kalian bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan furqān (kemampuan membedakan antara yang haq dan yang batil) kepada kalian, menghapus segala kesalahan kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah memiliki karunia yang besar (TQS al-Anfal [8]: 29).
Tanda Kesuksesan Ramadhan
Seorang Muslim yang bertahan dalam ketakwaan usai Ramadhan menunjukkan bahwa amal-amal ibadahnya selama bulan Ramadhan diterima. Sebaliknya, jika ketakwaan ikut pudar bersama berakhirnya Ramadhan, itu tanda amal-amalnya selama bulan Ramadhan tertolak.
Setidaknya, itulah yang dinyatakan oleh Imam Ibnu Rajab al-Hanbali, “Kembali berpuasa (yakni puasa sunah pada Bulan Syawal) setelah menunaikan puasa Ramadhan adalah salah satu tanda amalan puasa Ramadhan itu diterima oleh Allah SWT. Sebabnya, jika Allah menerima amalan seorang hamba, Allah akan memberi dia taufik untuk melakukan amalan shalih selanjutnya setelah itu. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama, ‘Imbalan (pahala) atas kebaikan adalah kebaikan selanjutnya.’ Oleh karena itu, siapa saja yang melakukan kebaikan, lalu dia ikuti dengan kebaikan selanjutnya, maka itu tanda amalan kebaikan sebelumnya diterima oleh Allah SWT. Sebaliknya, siapa saja yang melakukan kebaikan, lalu setelahnya malah dia ikuti dengan kejelekan, maka itu tanda kebaikan tersebut tertolak dan tidak diterima oleh Allah.” (Ibnu Rajab, Lathaa-if al-Ma’aarif, hlm. 388).
Apalagi jika seorang hamba justru merencanakan kembali berbagai kemaksiatan setelah Ramadhan berakhir. Itu adalah keburukan yang luar biasa. Imam Ibnu Rajab an-Hanbali mengingatkan, “Siapa yang meminta ampunan secara lisan, tetapi hatinya bertaut pada kemaksiatan, serta berencana untuk kembali melakukan maksiat setelah bulan puasa, maka puasanya ditolak dan pintu penerimaan tobat ditutup.” (Ibnu Rajab, Lathaa-if al-Ma’aarif, hlm. 484).
Merawat Ketakwaan
Oleh karena itu, siapa saja yang menginginkan amal-amalnya sepanjang Ramadhan diterima oleh Allah SWT, ia harus merawat dan mewujudkan ketakwaan hakiki dalam dirinya. Ada sejumlah langkah yang harus dilakukan. Pertama: Menjadikan ridha Allah sebagai tujuan tertinggi dalam hidupnya. Orang yang bertakwa akan berjuang keras mendapatkan ridha Allah meskipun ia harus mengorbankan dunianya dan mendapatkan celaan dari manusia. Rasulullah saw. bersabda:
مَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ
Siapa saja yang mencari ridha Allah meski dia harus dimurkai oleh manusia, maka Allah akan menjaga dirinya dari gangguan manusia. Siapa saja yang mencari ridha manusia, tetapi dengan membuat Allah murka, maka Allah akan menyerahkan dirinya kepada manusia (HR at-Tirmidzi dan Ibnu Hibban).
Kedua: Mewujudkan rasa takut hanya kepada Allah SWT. Dengan memiliki rasa takut kepada Allah SWT maka seorang Muslim akan terjaga dari perbuatan maksiat. Selanjutnya ia akan bersungguh-sungguh menjalankan perintah-Nya. Allah SWT berfirman:
تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
Lambung mereka jauh dari tempat tidur mereka. Mereka selalu berdoa kepada Tuhan mereka dengan penuh rasa takut dan harap. Mereka pun menafkahkan rezeki yang Kami berikan (di jalan Allah) (TQS as-Sajdah [32]:16).
Berusaha Menjalankan Hukum Islam
Ketiga: Menerima Islam secara kaaffah dan tidak memilah-milah aturan Allah SWT. Ia akan selalu berusaha khusyuk dalam beribadah, sekaligus berusaha sungguh-sungguh menjalankan hukum-hukum Islam dalam bidang sosial, ekonomi, militer, politik dan pemerintahan, dll. Allah SWT berfirman:
أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ ٱلْكِتَٰبِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَآءُ مَن يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنكُمْ إِلَّا خِزْىٌ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰٓ أَشَدِّ ٱلْعَذَابِ ۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
Apakah kalian mengimani sebagian Al-Kitab dan mengingkari sebagian yang lain? Tidak ada balasan bagi orang yang berbuat demikian di antara kalian, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada Hari Kiamat mereka dikembalikan pada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kalian perbuat (TQS al-Baqarah [2]: 85).
Keempat: Tidak menunda-nunda pengerjaan amal shalih, terutama amal-amal yang wajib. Nabi saw. memerintahkan kita agar bersegera dalam mengerjakan amal shalih sebelum datang fitnah yang menyulitkan kehidupan. Sabda beliau:
بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ
Bersegeralah melakukan amalan shalih sebelum datang fitnah (kesulitan) seperti potongan malam yang gelap (HR Muslim).
Bersabar Menghadapi Semua Tantangan
Kelima: Memberikan al-walaa’ (loyalitas) hanya kepada Allah dan Rasul-Nya, serta al-baraa’ (berlepas diri) dari orang-orang kafir. Ketakwaan menuntut dua hal ini. Mustahil mencapai derajat takwa, sementara masih setia bersekutu/beraliansi dengan kaum kuffaar, seperti Amerika Serikat dan zionis Yahudi. Padahal Allah SWT telah berfirman:
لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ
Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang mengimani Allah dan Hari Kiamat itu saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya (TQS al-Mujadilah [58]: 22).
Keenam: Bersabar dalam ketaatan. Sesungguhnya menjadi hamba Allah yang bertakwa akan menghadapi berbagai ujian. Termasuk cemoohan dan permusuhan dari kaum kuffaar dan kaum fasik. Setiap Muslim yang ingin mewujudkan ketakwaan usai Ramadhan harus bersabar menghadapi semua tantangan tersebut. Nabi saw. bersabda:
يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ القَابِضُ عَلَى دِيْنِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْر
Akan datang kepada manusia suatu zaman saat orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api (HR at-Tirmidzi).
Syaikh Al-Mubarakfuri menukil perkataan Al-Qari, “Tidak mungkin menggenggam bara api kecuali dengan kesabaran yang luar biasa dan menanggung kesusahan yang sangat berat. Ini bisa terjadi pada zaman yang tidak bisa terbayangkan lagi bagaimana bisa menjaga agama, kecuali dengan kesabaran yang besar.” (Al-Mubarakfuri,Tuhfah al-Ahwadzi, 6/444, Maktabah Syamilah).
Penutup
Semoga Allah SWT mengokohkan keimanan dan ketakwaan kita usai Ramadhan. Semoga Allah SWT pun mengokohkan diri kita dalam perjuangan menegakkan syariah Islam secara kaaffah dalam seluruh aspek kehidupan, dalam institusi pemerintahan Islam (Khilafah). Hanya dengan itulah kehidupan islami kembali terlaksana dan kita pun kembali meraih kemuliaan.
Hikmah, Rasulullah saw. bersabda:
»إِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ لِلْمُتَمَسِّكِ فِيهِنَّ يَوْمَئِذٍ بِمَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْكُمْ«
Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari kesabaran. Orang yang tetap berpegang teguh pada ajaran agamanya di zaman itu akan mendapatkan pahala yang setara dengan amal-amal 50 orang dari kalian (para Sahabat Nabi saw). (HR Abu Dawud).
Prajurit Indonesia Gugur diserang Israel, Saatnya Indonesia Keluar dari BOP
Situasi terkini menunjukkan krisis kemanusiaan di Gaza yang semakin parah, dengan total korban tewas mencapai puluhan ribu dan ratusan ribu lainnya luka-luka sejak Oktober 2023. Bahkan setelah gencatan senjata, korban masih terus berjatuhan, sementara banyak jenazah belum dapat dievakuasi akibat keterbatasan akses.
Di saat yang sama, eskalasi militer antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat terus meningkat melalui serangan langsung maupun balasan rudal, disertai pengerahan pasukan dan kerusakan infrastruktur strategis. Konflik ini juga meluas ke berbagai wilayah seperti Lebanon, Yaman, Irak, dan kawasan Teluk, sehingga memperbesar dampak korban sipil serta memicu kenaikan harga minyak dunia dan risiko gangguan jalur energi global.
Gugurnya tiga prajurit terbaik Indonesia dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) akibat serangan entitas penjajah yahudi bukan sekadar tragedi militer biasa. Ini adalah tamparan keras yang menyingkap hakikat pahit: keterlibatan Indonesia dalam operasi penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa hanyalah ilusi keamanan dalam sistem yang rapuh dan penuh kepalsuan.
Entitas penjajah yahudi kembali menunjukkan wajah aslinya sebagai entitas penjajah brutal yang tidak tunduk pada hukum apa pun. Serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian—yang secara resmi berada di bawah mandat PBB—membuktikan bahwa Israel tidak pernah menghormati hukum internasional. Lebih dari itu, ini menegaskan bahwa keberadaan pasukan PBB sama sekali tidak memiliki daya cegah terhadap agresi Zionis.
Namun yang lebih memalukan adalah sikap Perserikatan Bangsa-Bangsa itu sendiri. Lembaga yang selama ini diagungkan sebagai penjaga perdamaian dunia justru gagal melindungi pasukannya sendiri. Tidak ada tindakan tegas, tidak ada sanksi nyata. Semua ini memperlihatkan bahwa PBB hanyalah alat politik negara-negara besar.
Di balik semua ini berdiri Amerika Serikat sebagai pelindung utama Israel. Dukungan politik, militer, dan diplomatik yang terus mengalir menjadikan Israel kebal dari hukuman. Dunia menyaksikan bagaimana kejahatan demi kejahatan dibiarkan tanpa konsekuensi. Ini bukan sekadar kegagalan sistem, tetapi bukti nyata adanya standar ganda dan kezaliman global yang terstruktur.
Kemampuan yang Dapat Melindungi
Dalam kondisi seperti ini, kehadiran Indonesia dalam misi PBB demikian juga BOP, bukan hanya tidak bermanfaat, tetapi justru memperkuat legitimasi sistem yang zalim. Fakta bahwa pasukan Indonesia tetap menjadi korban menunjukkan bahwa keikutsertaan dalam misi ini tidak memberi perlindungan, tidak memberi pengaruh, dan tidak menghentikan agresi.
Karena itu, sudah saatnya Indonesia mengambil langkah tegas dan berani: keluar dari operasi penjaga perdamaian PBB. Termasuk keluar dari Board of Peace, yang menjadi alat politik Trump. Indonesia tidak boleh terus menjadi bagian dari mekanisme global yang gagal melindungi bahkan pasukannya sendiri. Lebih dari itu, Indonesia harus mengecam keras entitas yahudi sebagai pelaku kejahatan genosida , sekaligus mengecam Amerika Serikat sebagai pihak yang memungkinkan kejahatan itu terus terjadi.
Sebagai negeri yang berdiri di atas prinsip anti-penjajahan, Indonesia seharusnya tidak terjebak dalam sistem internasional yang justru melanggengkan penjajahan. Tragedi ini menjadi bukti bahwa tanpa kekuatan politik dan militer yang mandiri, negeri-negeri Muslim akan terus menjadi korban.
Sudah saatnya umat Islam bersatu dalam satu kepemimpinan politik yang kuat dan independen, yang tidak tunduk pada tekanan Barat dan tidak bergantung pada lembaga seperti PBB. Kepemimpinan yang mampu melindungi darah kaum Muslim, menjaga kehormatan negeri-negeri Islam, dan menghadapi agresi dengan kekuatan nyata. Kepemimpinan di bawah naungan Khilafah ala Minhajinnubuwah. Ini bukan lagi soal diplomasi. Ini soal keberanian mengambil posisi. Saatnya Indonesia keluar dari ilusi, dan berdiri di barisan perjuangan melawan kezaliman global Bersatu bersama negeri-negeri islam lainnya. Allahu Akbar. (Hermawan)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
