SURAU.CO – Di suatu tempat, ada seorang lelaki yang sepanjang hidupnya dikenal biasa saja.
Ia bukan ulama, bukan pula orang yang dikenal sangat taat. Bahkan, dalam hidupnya, ia pernah jatuh dalam berbagai kesalahan.
Namun ketika ajal mulai mendekat, napasnya tersengal…
orang-orang di sekelilingnya membimbing:
“Ucapkan, Laa ilaaha illallah”
Dengan sisa tenaga yang ada, ia pun berbisik:
“Laa ilaaha illallah”
Lalu ia menghembuskan napas terakhirnya.
Masyarakat pun bertanya:
“Apakah dia pasti masuk surga karena mengucapkan kalimat tauhid di akhir hidupnya?”
Seorang guru bijak menjawab:
“Kalimat itu bukan sekadar ucapan, tetapi pintu.”
Ia melanjutkan:
“Barangsiapa yang akhir ucapannya adalah kalimat tauhid, itu adalah tanda kebaikan.
Namun, apakah langsung masuk surga tanpa hisab atau tidak, itu adalah hak Alloh.”
Kalimat tauhid adalah inti iman.
Mengucapkannya di akhir hayat adalah tanda husnul khotimah (akhir yang baik).
Namun ada hal yang lebih dalam untuk dipahami:
Jika kalimat itu keluar dari hati yang benar-benar beriman, penuh penyesalan, dan keikhlasan… maka itu adalah cahaya besar.
Jika hanya di lisan tanpa kesadaran hati, maka nilainya kembali kepada Alloh yang Maha
Mengetahui isi dada.
Sang guru memberi perumpamaan:
“Kalimat tauhid itu seperti benih.
Jika ditanam di hati yang hidup, ia akan tumbuh menjadi keselamatan.
Namun jika jatuh di tanah yang keras, ia bisa saja tidak berakar.”
Lalu beliau menegaskan:
“Jangan menunda taubat hanya karena berharap bisa mengucapkannya di akhir.
Karena tidak semua orang diberi kesempatan untuk mengucapkannya saat sakaratul maut.”
Hikmah yang dapat dipetik:
Mengucapkan kalimat tauhid di akhir hayat adalah tanda kebaikan, bukan jaminan mutlak.
Nilai kalimat tauhid tergantung pada keikhlasan hati, bukan sekadar lisan.
Alloh Maha Pengampun, juga Maha Adil
Yang terpenting bukan hanya akhir yang baik, tapi perjalanan menuju akhir itu.
Penutupnya, sang guru berkata:
“Jangan hanya berharap akhir yang indah,
tapi bangunlah kehidupan yang mengarah ke sana.
Karena kalimat terakhir bukan sesuatu yang dibuat-buat…
ia adalah cerminan dari apa yang sering kita hidupkan di dalam hati.”
Maka jangan sekadar bertanya:
“Apakah dia masuk surga?”
Tapi tanyakan pada diri:
“Jika hari ini adalah akhirku…
apakah lisanku akan mengingat-Nya, atau justru melupakan-Nya?”
Kisah Hikmah Ilmu “Sesuatu yang Seharusnya Tidak Diperselisihkan, Mengapa Justru Diperselisihkan?”
Di sebuah majelis kecil, seorang murid bertanya kepada gurunya,
“Guru, jika suatu kebenaran itu jelas, mengapa manusia masih saja berselisih? Apakah karena manusia tidak jujur?”
Sang guru tersenyum, lalu mengambil segelas air jernih.
Ia letakkan di tengah-tengah mereka.
“Menurutmu, apa warna air ini?” tanya sang guru.
“Tidak berwarna, jernih,” jawab murid itu mantap.
Guru itu kemudian memindahkan gelas itu ke bawah cahaya lampu kuning.
“Sekarang bagaimana?”
“Terlihat kekuningan,” jawab murid.
Lalu guru memindahkannya lagi ke dekat kain merah.
“Sekarang?”
“Seperti agak kemerahan,” kata murid mulai ragu.
Guru pun berkata pelan,
“Airnya tetap sama. Yang berubah adalah sudut pandang dan pengaruh sekitarnya.”
Murid itu terdiam.
“Begitu pula dengan kebenaran,” lanjut sang guru.
“Ada hal-hal yang sebenarnya tidak layak diperselisihkan, karena hakikatnya jelas. Namun manusia melihatnya melalui ‘cahaya’ yang berbeda: kepentingan, ego, tradisi, bahkan ketakutan.”
“Jadi bukan semata karena tidak jujur, Guru?” tanya murid.
Guru menggeleng.
“Ketidakjujuran memang ada, tetapi bukan satu-satunya sebab.
Ada tiga hal yang sering membuat sesuatu diperselisihkan:
Keterbatasan ilmu manusia belum sampai pada pemahaman utuh.
Perbedaan sudut pandang seperti air tadi, dipengaruhi lingkungan dan pengalaman.
Ego dan kepentingan inilah yang paling berbahaya, karena bisa membuat orang menolak kebenaran yang sebenarnya sudah ia tahu.”
Murid itu mengangguk pelan
Guru menutup dengan kalimat yang dalam,
“Perselisihan bukan selalu tanda ketiadaan kebenaran, tetapi sering kali tanda bahwa manusia belum selesai membersihkan dirinya.”
Sejak saat itu, murid itu tidak lagi tergesa menyalahkan orang lain dalam perbedaan.
Ia justru mulai bertanya pada dirinya sendiri,
“Apakah aku sudah melihat dengan jernih, atau masih terpengaruh ‘warna-warna’ di sekitarku?”
Hikmah:
Tidak semua yang diperselisihkan itu salah, dan tidak semua yang jelas itu mudah diterima.
Karena terkadang, yang perlu diluruskan bukan hanya pemahaman, tetapi juga hati. (Bambang JB)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
