SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Khazanah
Beranda » Berita » Bedanya Selamat dengan Islam

Bedanya Selamat dengan Islam

Bedanya Selamat dengan Islam
Bedanya Selamat dengan Islam

 

SURAU.CO – Di suatu sore yang tenang, seorang murid bertanya kepada gurunya, “Guru, apakah setiap yang Islam itu pasti selamat?”

Sang guru tersenyum, lalu mengambil segenggam pasir dan menaburkannya perlahan ke tanah.

“Lihatlah pasir ini,” katanya. “Semua ini berasal dari tanah, tapi tidak semua menjadi bangunan yang kokoh.”

Murid itu mengernyit, belum paham.
Guru melanjutkan,
“Islam itu seperti pintu. Ia adalah jalan, petunjuk, dan penyerahan diri kepada Alloh.

Islam “Biasa Saja”: Ketika Surau Mulai Sepi dan Prinsip Diminta Menyingkir

Sedangkan selamat adalah tujuan dari perjalanan itu.”
“Jadi, apakah berbeda, Guru?” tanya murid.
“Berbeda,” jawabnya lembut.

“Islam adalah keadaan lahir dan batin seseorang yang berserah. Tapi selamat adalah hasil dari bagaimana ia menjalani keislamannya.”

Guru lalu menunjuk jalan di depan mereka.
“Bayangkan ada jalan menuju desa yang aman. Semua orang yang masuk ke jalan itu disebut ‘orang yang menuju keselamatan’.

Tapi tidak semua sampai dengan selamat.”
“Kenapa begitu?” tanya murid lagi.
“Karena ada yang berhenti di tengah jalan, ada yang tersesat, ada yang lalai, dan ada pula yang berjalan dengan sungguh-sungguh hingga sampai tujuan.”

Murid mulai Memahami

“Jadi, menjadi Islam itu seperti memilih jalan.

Asal Mula Kata Lebaran, Bukan Panjangan, Luasan, atau Kelilingan

Tapi untuk selamat, kita harus berjalan dengan benar, niat yang lurus, dan istiqamah?”

Guru tersenyum bangga.
“Benar. Islam adalah awal dari perjalanan, sedangkan selamat adalah buah dari keikhlasan, amal, dan rahmat Alloh.”

Angin sore berhembus pelan. Murid itu menunduk, merenung dalam.

Dalam hatinya ia berkata,
“Bukan hanya menjadi Islam yang penting, tapi bagaimana aku menjaganya hingga akhir.”
Hikmah:
Islam adalah jalan, bukan sekadar identitas.

Selamat adalah tujuan, bukan otomatis didapat.
Kesungguhan, keikhlasan, dan rahmat Alloh adalah kunci sampai pada keselamatan.

Kisah Hikmah Ilmu “Syafaat dan Sholawat”

Dan dari situlah kita belajar, bahwa perjalanan iman bukan hanya dimulai dengan syahadat, tetapi dijaga hingga akhir hayat.

 

 

 


Kisah Hikma Ilmu “Asal Kata Lepet”

Di sebuah desa tua di tanah Jawa, setiap menjelang hari raya masyarakat tidak hanya membuat ketupat dan lontong. Mereka juga membuat makanan lain yang dibungkus daun kelapa atau janur, namanya lepet.

Bentuknya panjang, terikat rapi dengan tali bambu, dan rasanya manis gurih.

Banyak orang memakannya tanpa bertanya maknanya.

Namun para orang tua dahulu sering mengatakan bahwa setiap tradisi memiliki pesan yang tersembunyi.

Dalam cerita dakwah budaya yang sering dikaitkan dengan ajaran Sunan Kalijaga, makanan tradisional sering dijadikan simbol pengingat moral dan kehidupan.
Asal makna kata “Lepet”

Dalam pemahaman filosofi Jawa, kata lepet sering dimaknai dari ungkapan:
“sing luput kudu dilepet.”
Artinya: kesalahan yang terlanjur terjadi harus diperbaiki dan dirapatkan kembali.

Kata lepet sendiri berarti melekat atau merapat.

Maknanya adalah hubungan manusia yang sempat renggang karena kesalahan harus direkatkan kembali dengan saling memaafkan.

Simbol bentuk lepet
Lepet dibuat dari ketan yang dicampur kelapa, lalu dibungkus daun kelapa muda dan diikat kuat.

Bentuk ini mengandung simbol:

ketan melambangkan persaudaraan yang lengket atau erat ikatannya melambangkan komitmen menjaga hubungan
bungkus daun melambangkan perlindungan dan kesederhanaan hidup.

Lepet dalam tradisi Lebaran

Masyarakat Jawa sering menyajikan lepet bersama ketupat ketika Eid al-Fitr setelah bulan Romadhon.

Kita memaknai ketupat sebagai pengakuan kesalahan, dan lepet melambangkan upaya merekatkan kembali hubungan yang retak.

Seolah tradisi ini memberi pesan:
manusia mengakui kesalahan
manusia saling memaafkan
manusia kembali merajut persaudaraan

Hikmah kehidupan
Seorang guru tua pernah berkata kepada muridnya:

“Ketupat mengajarkan kita mengakui salah,
lontong mengosongkan kesalahan, opor membuka pintu maaf, dan lepet merekatkan kembali persaudaraan.”

Maka orang yang memahami hikmah tidak hanya menikmati makanan tradisi, tetapi juga membaca pesan kehidupan yang tersimpan di dalamnya.

Karena pada akhirnya, manusia hidup bukan hanya untuk kenyang di perut, tetapi juga tenang di hati dan rukun dalam persaudaraan. (Bambang JB)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.