SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Khazanah
Beranda » Berita » Pendapat Empat Mazhab tentang Shalat Menghadap Kuburan

Pendapat Empat Mazhab tentang Shalat Menghadap Kuburan

Pendapat Empat Mazhab tentang Shalat Menghadap Kuburan
Pendapat Empat Mazhab tentang Shalat Menghadap Kuburan

 

SURAU.CO – Mazhab Hanafi

Abu Hanifah (w. 150 H) dan ulama Hanafiyah memakruhkan shalat menghadap kuburan. Dalam literatur Hanafi disebutkan: “Dimakruhkan shalat menghadap kuburan.”¹

Al-Kāsānī menjelaskan kemakruhan tersebut karena adanya larangan Nabi ﷺ serta untuk menutup pintu pengagungan terhadap kuburan.²

Mazhab Maliki

Kisah Hikmah Ilmu “Asal Kata Bidadari”

Malik ibn Anas (w. 179 H) memakruhkan shalat menghadap kuburan. Dalam Al-Mudawwanah disebutkan bahwa Imam Malik tidak menyukai praktik tersebut.³

Ad-Dardīr dalam Ash-Sharḥ al-Kabīr juga menegaskan kemakruhan shalat menghadap kuburan apabila tanpa pembatas.⁴

Mazhab Syafi’i

Al-Shafi‘i (w. 204 H) berpendapat bahwa shalat menghadap kuburan hukumnya makruh, tetapi shalatnya tetap sah.⁵

Al-Nawawi (w. 676 H) menegaskan dalam Al-Majmū‘ bahwa makruh hukumnya shalat menghadap kuburan berdasarkan hadis sahih riwayat Muslim.⁶

Menikmati Lelah dalam Ibadah Ramadhan: Jalan Menuju Kemuliaan di Sisi Allah

Mazhab Hanbali

Ahmad ibn Hanbal (w. 241 H) lebih tegas dalam masalah ini. Dalam mazhab Hanbali, haram membangun masjid di atas kuburan.⁷

Ibn Qudāmah menjelaskan bahwa larangan tersebut didasarkan pada hadis laknat terhadap orang-orang yang menjadikan kuburan sebagai masjid.⁸

Dalil Hadis

Di antara hadis yang menjadi dasar adalah:

STUDI KRITIS TERHADAP EKSISTENSI HADITS SHALAT KAFARAT DI AKHIR JUM’AT BULAN RAMADHAN: PERSPEKTIF AL-QUR’AN, TAKHRIJ HADITS, DAN STUDI KOMPARATIF ULAMA’ FIQIH EMPAT MADZHAB*

“Janganlah kalian shalat menghadap kuburan.”⁹

Dan sabda beliau:

“Allah melaknat Yahudi dan Nasrani; mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid.”¹⁰

Footnotes (Chicago Style)

  1. Al-Fatāwā al-Hindiyyah, 1:106.

  2. Al-Kāsānī, Badā’iʿ al-Ṣanā’iʿ fī Tartīb al-Sharā’iʿ, vol. 1 (Beirut: Dār al-Kutub al-ʿIlmiyyah, 1986), 320.

  3. Sahnūn ibn Saʿīd, Al-Mudawwanah al-Kubrā, vol. 1 (Beirut: Dār al-Kutub al-ʿIlmiyyah, 1994), 90.

  4. Aḥmad al-Dardīr, Al-Sharḥ al-Kabīr, vol. 1 (Beirut: Dār al-Fikr, n.d.), 424.

  5. Muḥammad ibn Idrīs al-Shāfiʿī, Al-Umm, vol. 1 (Beirut: Dār al-Maʿrifah, 1990), 246.

  6. Yaḥyā ibn Sharaf al-Nawawī, Al-Majmūʿ Sharḥ al-Muhadhdhab, vol. 5 (Beirut: Dār al-Fikr, 1997), 316.

  7. Manṣūr al-Buhūtī, Kashshāf al-Qināʿ ʿan Matn al-Iqnāʿ, vol. 1 (Beirut: Dār al-Fikr, 1982), 370.

  8. Ibn Qudāmah, Al-Mughnī, vol. 2 (Riyadh: Dār ʿĀlam al-Kutub, 1997), 191.

  9. Muslim ibn al-Ḥajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim, no. 972.

  10. Muḥammad ibn Ismāʿīl al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, no. 435; Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, no. 531.

Bibliography (Chicago Style)

Al-Bukhārī, Muḥammad ibn Ismāʿīl. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī.

Al-Buhūtī, Manṣūr. Kashshāf al-Qināʿ ʿan Matn al-Iqnāʿ. Beirut: Dār al-Fikr, 1982.

Al-Dardīr, Aḥmad. Al-Sharḥ al-Kabīr. Beirut: Dār al-Fikr, n.d.

Al-Kāsānī. Badā’iʿ al-Ṣanā’iʿ fī Tartīb al-Sharā’iʿ. Beirut: Dār al-Kutub al-ʿIlmiyyah, 1986.

Al-Nawawī, Yaḥyā ibn Sharaf. Al-Majmūʿ Sharḥ al-Muhadhdhab. Beirut: Dār al-Fikr, 1997.

Al-Shāfiʿī, Muḥammad ibn Idrīs. Al-Umm. Beirut: Dār al-Maʿrifah, 1990.

Ibn Qudāmah. Al-Mughnī. Riyadh: Dār ʿĀlam al-Kutub, 1997.

Sahnūn ibn Saʿīd. Al-Mudawwanah al-Kubrā. Beirut: Dār al-Kutub al-ʿIlmiyyah, 1994.

Muslim ibn al-Ḥajjāj. Ṣaḥīḥ Muslim.

 

 

 


Dakwah Muhammadiyah Riau: Mencerahkan Iman, Menggerakkan Amal

Dakwah Muhammadiyah di Provinsi Riau merupakan gerakan tajdid (pembaruan) yang memadukan kemurnian akidah dengan transformasi sosial. Serta Dakwah tidak berhenti pada ceramah, tetapi menjelma menjadi pendidikan, pelayanan kesehatan, pemberdayaan ekonomi, dan aksi kemanusiaan.

Allah ﷻ berfirman:

> ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.” (QS. an-Naḥl: 125)[1]

Ayat ini menjadi dasar metodologis dakwah Muhammadiyah: berbasis hikmah (rasional), mau‘izhah ḥasanah (edukatif), dan dialog yang beradab.

Rasulullah ﷺ bersabda:

> بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً
“Sampaikan dariku walau satu ayat.” (HR. al-Bukhārī)[2]

Semangat tabligh ini mendorong lahirnya gerakan muballigh yang terorganisir dan sistematis, termasuk di daerah-daerah seperti Bengkalis.

Dakwah sebagai Gerakan Peradaban

Allah ﷻ berfirman:

> كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ
“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma‘ruf dan mencegah dari yang munkar.” (QS. Āli ‘Imrān: 110)[3]

Dakwah Muhammadiyah Riau hadir sebagai gerakan peradaban:

Menguatkan tauhid dan ibadah sesuai manhaj tarjih.
Mengembangkan pendidikan berkemajuan.

Menggerakkan amal sosial dan kemanusiaan.
Mendorong etos kerja, ilmu, dan kemandirian umat.

Iman harus melahirkan amal:

> إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh…” (QS. al-Baqarah: 277)[4]

Inilah karakter dakwah Muhammadiyah: integratif antara iman, ilmu, dan aksi nyata.

Catatan Kaki

[1] Al-Qur’an, QS. an-Naḥl (16): 125.
[2] Al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb Aḥādīṡ al-Anbiyā’.
[3] Al-Qur’an, QS. Āli ‘Imrān (3): 110.
[4] Al-Qur’an, QS. al-Baqarah (2): 277. (Penulis: Tengku Iskandar, M.Pd – Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bengkalis)

 


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.