Selasa sore kemarin, dalam satu acara penganugerahan BUMN terbaik tahun 2026 yang dilaksanakan di Hotel Borobudur Jakarta, bersama seorang kolega, pak Arif Yahya, kami sempat berbincang ringan tentang Calibration Credibility Confidence._ Tiga istilah yang cukup akrab di ruang manajemen ketika orang mencoba membaca kualitas kepemimpinan sebuah korporasi. Di sana penghargaan diberikan kepada mereka yang dianggap berhasil menjaga ukuran kinerja, merawat kepercayaan publik, dan memimpin organisasi dengan keyakinan arah. Percakapan itu sendiri sebenarnya tidak panjang, hanya bagian kecil dari suasana sebuah acara resmi yang kebetulan berlangsung di bulan Ramadhan. Namun entah mengapa, setelah acara selesai dan malam berjalan seperti biasanya, tiga kata itu terasa masih tinggal dalam ingatan, seolah meminta dilihat kembali dari tempat yang sedikit berbeda.
Dalam dunia organisasi, calibration biasanya dimaknai sebagai usaha merapikan kembali ukuran agar sebuah sistem tetap tepat membaca kenyataan. Dari ukuran yang terjaga itu perlahan tumbuh credibility, yaitu kepercayaan yang lahir karena keselarasan antara apa yang dikatakan dan apa yang dijalankan. Dan dari kepercayaan yang terpelihara itulah sering muncul confidence, semacam keyakinan yang membuat seseorang mampu memimpin arah dan mengambil keputusan. Tiga istilah itu terdengar sederhana ketika disebutkan dalam forum manajemen, tetapi di baliknya tersimpan perjalanan yang cukup panjang bagi sebuah organisasi untuk menjaganya tetap hidup.
Karena Ramadhan sedang berjalan, pikiran pun menoleh pada pengalaman orang yang berpuasa. Ada sesuatu yang terasa berdekatan, meskipun jalannya tidak sama. Puasa menghadirkan jeda kecil dalam ritme kehidupan yang biasanya bergerak cepat. Lapar dan haus itu kadang membuat seseorang berhenti sejenak dari kebiasaan-kebiasaan yang ada. Dalam tradisi para ulama lama, kebiasaan menoleh kembali ke perjalanan diri seperti ini sering disebut sebagai muhasabah, semacam upaya merapikan kembali arah langkah sebelum waktu membawa manusia terlalu jauh, yang mirip dengan istilah calibration dalam kepemimpinan dan manajemen organisasi.
Dari pengalaman yang sederhana itu dapat muncul kesadaran lain yang tidak selalu mudah dijelaskan.
Orang yang berpuasa menjaga batas-batas puasanya tanpa banyak saksi. Tidak ada pengawas yang benar-benar memastikan apakah ia menahan diri atau tidak. Namun sebagian orang tetap menjaganya dengan tenang. Di situ terasa seperti ada bentuk kepercayaan yang tumbuh dengan cara yang berbeda. Dalam kehidupan organisasi kepercayaan dibangun melalui sistem yang rapi dan dapat dilihat banyak orang, sementara dalam puasa ia tumbuh dari kesediaan menjaga sesuatu yang tidak selalu terlihat, sesuatu yang serupa dengan apa yang disebut credibility.
Lalu ada pula pengalaman lain yang pelan-pelan mengikuti perjalanan itu. Ketika seseorang terbiasa menunda makan, minum, dan berbagai dorongan yang biasanya datang begitu cepat, ada semacam ketenangan baru semacam confidence yang perlahan muncul. Tidak selalu dramatis, bahkan sering hampir tidak terasa. Hanya saja, dari waktu ke waktu seseorang akan mulai memahami batas dirinya dengan cara yang lebih jernih. Dari situ pula tumbuh keyakinan yang lebih tenang tentang bagaimana ia sebaiknya melangkah.
_
Jika dilihat dengan cara seperti itu, dunia kepemimpinan dan pengalaman puasa seperti saling memberi isyarat kecil. Organisasi memerlukan ukuran yang terjaga agar langkahnya tidak keliru. Ia membutuhkan kepercayaan agar tetap dipercaya, dan keyakinan agar mampu bergerak ke depan. Sementara puasa, dengan caranya seolah mengingatkan manusia untuk juga merapikan ukuran hidupnya sendiri, menjaga kejujuran pada dirinya, dan menumbuhkan keteguhan yang tidak selalu perlu diumumkan.
Di situlah Ramadhan terasa memiliki ruang perenungan yang luas. Ia tidak banyak berbicara, tetapi menghadirkan pengalaman yang pelan. Di dalamnya orang bisa belajar merapikan kembali ukuran hidupnya, menjaga kepercayaan dalam amal yang tidak terlihat, dan menemukan keyakinan yang tumbuh tanpa tergesa. Selebihnya, semua itu adalah bagian dari usaha manusia untuk tetap berjalan dengan lebih hati-hati di hadapan Allah.
21 Ramadhan 1447 M
Yudha Heryawan Asnawi
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
