SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
CM Corner Ramadan
Beranda » Berita » Beda Awal Ramadan, Kapan Lailatul Qadar Datang?

Beda Awal Ramadan, Kapan Lailatul Qadar Datang?

 

 

Beda Awal Ramadan, Kapan Lailatul Qadar Datang?

Setiap Ramadan tiba, umat Islam di Indonesia hampir selalu memulai puasa dengan situasi yang tidak sepenuhnya sama. Pemerintah melalui sidang isbat menetapkan awal Ramadan setelah mempertimbangkan hasil rukyat dan perhitungan hisab yang dihimpun dari berbagai titik pengamatan hilal di seluruh Indonesia. Pada saat yang sama, sebagian organisasi keagamaan telah lebih dahulu menetapkan awal bulan berdasarkan metode hisab yang mereka gunakan. Perbedaan ini biasanya hanya terpaut satu hari.

Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat Indonesia relatif terbiasa dengan situasi tersebut. Kadang-kadang awal puasa berlangsung serentak, tetapi tidak jarang pula berbeda satu hari. Data Kementerian Agama menunjukkan bahwa sejak awal 2000-an hingga sekarang, perbedaan awal Ramadan atau Idul Fitri beberapa kali terjadi karena perbedaan kriteria penentuan hilal. Meski demikian, perbedaan itu umumnya dapat diterima secara sosial sebagai bagian dari keragaman praktik keagamaan di Indonesia.

Namunjika awal Ramadan tidak sama, lalu bagaimana dengan Lailatul Qadar? Apakah malam itu juga berbeda, atau tetap satu bagi semua orang?

STUDI KRITIS TERHADAP EKSISTENSI HADITS SHALAT KAFARAT DI AKHIR JUM’AT BULAN RAMADHAN: PERSPEKTIF AL-QUR’AN, TAKHRIJ HADITS, DAN STUDI KOMPARATIF ULAMA’ FIQIH EMPAT MADZHAB*

Pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menyentuh persoalan yang lebih luas: hubungan antara praktik keagamaan, tradisi fikih, dan pengalaman spiritual umat Islam. Dalam masyarakat religius seperti Indonesia, Lailatul Qadar bukan hanya konsep teologis yang dibahas dalam kitab tafsir dan hadis, tetapi juga harapan spiritual yang sangat dinanti setiap Ramadan.

Al-Qur’an menyebut Lailatul Qadar sebagai malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu Al-Qur’an diturunkan, dan para malaikat turun membawa rahmat serta ketenteraman sampai terbit fajar. Karena itu sejak masa awal Islam, umat Muslim memandang malam ini sebagai kesempatan yang sangat istimewa untuk memperbanyak ibadah, memperdalam doa, dan melakukan muhasabah diri.

Namun Al-Qur’an tidak menyebutkan secara eksplisit tanggal pasti terjadinya Lailatul Qadar. Petunjuk mengenai waktunya lebih banyak ditemukan dalam hadis Nabi. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muhammad melalui periwayatan Al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj, Nabi menganjurkan agar umat Islam mencari Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir Ramadan, terutama pada malam-malam ganjil.

Petunjuk ini penting untuk dicermati. Nabi tidak memberikan satu tanggal yang pasti. Sebaliknya, beliau justru mengarahkan umatnya untuk menghidupkan seluruh sepuluh malam terakhir Ramadan. Dalam perspektif pendidikan spiritual Islam, cara ini menunjukkan bahwa ibadah tidak diarahkan hanya pada satu malam tertentu, tetapi pada kesungguhan yang berlangsung secara berkelanjutan.

Al-Qur’an sendiri menggambarkan keagungan malam tersebut secara singkat tetapi sangat kuat: “Lailatul qadr khairun min alfi syahr”—malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan (QS. Al-Qadr: 3). Ungkapan ini memberi gambaran bahwa satu malam yang dipenuhi kesungguhan ibadah dapat melampaui nilai waktu yang sangat panjang dalam kehidupan manusia.

Calibration, Credibility, and Confidence. Tiga Hal yang Diperhalus oleh Puasa Ramadhan Kita

Di sinilah persoalan perbedaan awal Ramadan menjadi menarik untuk dibahas. Jika sebagian umat Islam memulai puasa lebih dahulu satu hari dibandingkan yang lain, maka hitungan malam ganjil juga otomatis berbeda. Malam ke-21 bagi satu kelompok bisa saja bertepatan dengan malam ke-20 bagi kelompok yang lain. Demikian pula malam ke-27 yang sering dianggap sebagai malam yang paling kuat kemungkinan terjadinya Lailatul Qadar.

Lalu apakah Lailatul Qadar mengikuti satu hitungan tertentu?

Dalam kajian fikih klasik, persoalan ini sebenarnya tidak terlalu problematis. Para ulama sejak lama telah membahas kemungkinan perbedaan dalam penentuan awal bulan hijriah. Hal ini berkaitan dengan metode penentuan hilal dan juga perbedaan wilayah pengamatan.

Ulama besar seperti Ibn Hajar al-Asqalani dalam penjelasannya tentang hadis-hadis Lailatul Qadar menyebut bahwa malam tersebut tidak selalu tetap pada satu tanggal. Ia dapat berpindah di antara malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir Ramadan. Pendapat ini kemudian diikuti oleh banyak ulama karena dianggap mampu mengompromikan berbagai riwayat hadis yang berbeda-beda.

Pandangan ini memberi ruang bagi realitas yang terjadi dalam masyarakat Muslim di berbagai wilayah. Dalam sejarah Islam sendiri, perbedaan penentuan awal bulan karena perbedaan tempat melihat hilal sudah dikenal sejak masa para sahabat. Karena itu para ulama mengembangkan konsep yang dikenal sebagai ikhtilaf al-mathali’, yaitu perbedaan wilayah penampakan bulan.

Ulama mazhab Syafi’i seperti Imam al-Nawawi menjelaskan bahwa perbedaan semacam ini tidak membatalkan ibadah seseorang. Umat Islam tetap sah menjalankan puasa sesuai dengan penentuan yang diyakininya.

Ganjil – Genap di Sepuluh Malam Terakhir Ramadhan._tak ada yang tahu_

Penjelasan ini juga berlaku dalam persoalan Lailatul Qadar. Malam tersebut tidak harus dipahami sebagai satu tanggal kalender yang sama bagi seluruh umat Islam di dunia. Yang lebih penting adalah bahwa ia berada dalam rentang sepuluh malam terakhir Ramadan yang dijalani oleh seorang Muslim.

Dengan kata lain, siapa pun yang menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah tetap memiliki peluang untuk mendapatkan keutamaannya.

Memang ada riwayat yang menyebutkan malam ke-27 sebagai kemungkinan yang paling kuat. Salah satu sahabat Nabi, Ubayy ibn Ka’b, pernah menyatakan keyakinannya bahwa Lailatul Qadar berada pada malam itu. Namun para ulama tidak menjadikannya sebagai kepastian mutlak. Banyak hadis lain yang menunjukkan bahwa Nabi menganjurkan pencarian pada berbagai malam ganjil dalam sepuluh hari terakhir Ramadan.

Pemikir besar Islam seperti Abu Hamid al-Ghazali menjelaskan bahwa Allah sering menyembunyikan sesuatu yang sangat bernilai di antara banyak kemungkinan. Tujuannya agar manusia terdorong untuk bersungguh-sungguh dalam mencari dan tidak merasa cukup dengan usaha yang minimal.

Pendekatan seperti ini sebenarnya juga relevan dalam kehidupan keagamaan di Indonesia. Dalam beberapa dekade terakhir, masyarakat kita telah terbiasa dengan dua pendekatan utama dalam menentukan awal bulan hijriah: rukyat yang dipraktikkan oleh kalangan Nahdlatul Ulama dan hisab yang digunakan secara konsisten oleh Muhammadiyah. Keduanya memiliki landasan ilmiah dan argumentasi fikih yang kuat.

Upaya untuk mempertemukan berbagai metode tersebut sebenarnya juga terus dilakukan. Pemerintah bersama para ahli falak dan organisasi keagamaan bahkan beberapa kali membahas gagasan penyatuan kalender hijriah nasional agar penentuan awal bulan bisa lebih seragam di masa depan.

Karena itu, perbedaan awal Ramadan seharusnya tidak dipahami sebagai pertentangan teologis. Ia lebih tepat dilihat sebagai variasi metode dalam membaca fenomena astronomi yang sama.

Pada akhirnya, Lailatul Qadar bukan sekadar persoalan kalender. Ia adalah momen spiritual yang mengajak manusia kembali kepada kesadaran terdalam tentang hubungannya dengan Tuhan.

Perbedaan awal Ramadan mungkin akan terus menjadi bagian dari kehidupan umat Islam di Indonesia. Namun selama umat Islam menjaga persaudaraan, menghormati keragaman ijtihad, dan tetap menghidupkan malam-malam Ramadan dengan ibadah, perbedaan itu tidak akan mengurangi makna bulan suci ini.

Justru dari situ kita belajar bahwa keberagamaan yang matang tidak selalu ditandai oleh keseragaman, melainkan oleh kemampuan merawat kebersamaan di tengah perbedaan. Dan dalam suasana seperti itulah, sepuluh malam terakhir Ramadan kembali mengingatkan kita bahwa yang paling penting bukanlah menghitung tanggalnya, melainkan menjaga kesungguhan hati dalam mencari keberkahan Lailatul Qadar.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.