SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Opinion
Beranda » Berita » Kisah Hikmah Ilmu “Di antara Organ Tubuh Manusia, yang Paling Utama Diminta Pertanggungjawaban adalah Qolbu (Jantung)”

Kisah Hikmah Ilmu “Di antara Organ Tubuh Manusia, yang Paling Utama Diminta Pertanggungjawaban adalah Qolbu (Jantung)”

Kisah Hikmah Ilmu “Di antara Organ Tubuh Manusia, yang Paling Utama Diminta Pertanggungjawaban adalah Qolbu (Jantung)”
Kisah Hikmah Ilmu “Di antara Organ Tubuh Manusia, yang Paling Utama Diminta Pertanggungjawaban adalah Qolbu (Jantung)”

SURAU.CO – Dalam suatu majelis ilmu, seorang penuntut ilmu bertanya kepada gurunya,

“Wahai guru, di antara sekian banyak organ tubuh manusia, manakah yang paling utama diminta pertanggungjawaban di hadapan Alloh?”

Guru itu terdiam sejenak, lalu berkata, “Semua anggota tubuh akan dimintai pertanggungjawaban.

Mata, telinga, lidah, tangan, kaki, bahkan kulit manusia kelak akan menjadi saksi atas perbuatannya.”

Sebagaimana firman Alloh dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabannya.” (QS. Al-Isra: 36)

Air Mata Perpisahan Dipenghujung Ramadhan: Refleksi Iman di Akhir Bulan Penuh Rahmat

Namun sang guru melanjutkan penjelasannya, “Di antara semua anggota tubuh itu, para ulama sering mengatakan bahwa yang paling utama adalah qolbu, yang secara fisik berada pada jantung manusia.”

Pusat Keputusan Manusia

Para murid mendengarkan dengan penuh perhatian.

Guru itu berkata, “Qolbu adalah pusat niat, pusat keinginan, dan pusat keputusan manusia. Dari qolbulah lahir niat baik maupun niat buruk. Anggota tubuh lainnya hanya mengikuti keputusan yang berasal dari qolbu.”

Rasululloh SAW bersabda:
“Ketahuilah, dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh, dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati (qolbu).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari hadits ini para ulama memahami bahwa qolbu ibarat raja, sedangkan anggota tubuh lainnya adalah prajuritnya.

Tidak Ada Yang Terlewat Dihadapan Allah (Refleksi atas QS. Al-Qamar: 53)

Niat yang Tersembunyi dalam Qalbu

Jika qolbu dipenuhi iman, maka mata akan senang melihat kebaikan.

Lidah akan mudah berkata jujur dan berdzikir.
Tangan akan ringan membantu orang lain.
Kaki akan melangkah menuju tempat-tempat yang diridhai Alloh.

Namun jika qolbu dipenuhi kesombongan, iri, dan kebencian, maka seluruh anggota tubuh akan mengikuti kerusakan itu.

Karena itulah, pada hari kiamat kelak manusia tidak hanya diminta pertanggungjawaban atas perbuatannya, tetapi juga niat yang tersembunyi dalam qolbunya.

Alloh tidak hanya melihat amal lahiriah manusia, tetapi juga apa yang tersimpan di dalam hati.

Dzikir Al-Ma’tsurat: Perisai Spiritual Pagi dan Petang Selama Bulan Puasa

Sumber Semua Amal

Sang guru menutup majelis dengan sebuah nasihat:

“Jagalah qolbumu, karena di sanalah sumber semua amal.

Jika qolbu bersih, maka seluruh hidup akan menuju kebaikan. Tetapi jika qolbu rusak, maka amal sebesar apa pun bisa kehilangan nilainya.”

Hikmahnya, manusia hendaknya tidak hanya memperbaiki perbuatannya di hadapan manusia, tetapi juga memperbaiki qolbunya di hadapan Alloh.

Sebab pada akhirnya, yang paling utama dinilai oleh Alloh bukan hanya gerakan tubuh, tetapi ketulusan hati yang menggerakkannya.

 

 

 

 


 

Kisah Hikmah Romadhon: “Perjalanan Hari Kedua Puluh dan Dua Puluh Satu”

 

Hari kedua puluh Romadhon sering terasa berbeda dari hari-hari sebelumnya. Jika di awal Romadhon manusia masih menata niat, dan di pertengahan mulai menguatkan ibadah, maka memasuki hari kedua puluh seakan terdengar panggilan halus dari langit: bersiaplah memasuki sepuluh malam terakhir.

Seorang guru pernah berkata kepada murid-muridnya,
“Romadhon itu seperti perjalanan menyeberangi sungai.

Dua puluh hari pertama adalah mendayung, sedangkan sepuluh hari terakhir adalah saat menentukan apakah kita sampai di seberang dengan selamat atau tidak.”

Pada hari kedua puluh, banyak orang mulai menyadari waktu

Romadhon tidak lagi panjang. Hati yang sebelumnya merasa masih banyak kesempatan, perlahan mulai gelisah. Sebab di depan telah menunggu malam-malam yang dimuliakan Alloh, malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Ketika matahari tenggelam dan masuk malam kedua puluh satu, para pencari hikmah mengatakan: inilah pintu gerbang sepuluh malam terakhir.

Sebagian orang mulai menghidupkan malam dengan shalat, dzikir, dan membaca Al-Qur’an.

Sebagian lainnya mulai memperbanyak doa, berharap bertemu malam kemuliaan yang dikenal sebagai Lailatul Qodar.

Namun seorang alim pernah mengingatkan: “Jangan hanya mencari Lailatul Qodar di langit malam, tetapi carilah juga di dalam hati. Sebab hati yang bersih lebih mudah merasakan kehadiran rahmat Alloh.”

Merindukan Kedekatan dengan Allah

Maka perjalanan hari kedua puluh dan dua puluh satu bukan sekadar perubahan angka dalam kalender Romadhon. Ia adalah perubahan kesadaran dari sekadar menjalankan ibadah menjadi benar-benar merindukan kedekatan dengan Alloh.

Orang yang memahami hikmah ini akan berkata dalam hatinya: “Jika dua puluh hari telah berlalu, mungkin inilah kesempatan terakhirku bertemu Romadhon.”

Dari kesadaran itulah lahir kesungguhan.
Dari kesungguhan itulah lahir keikhlasan.

Dan dari keikhlasan itulah, semoga Alloh mempertemukan seorang hamba dengan malam yang penuh kemuliaan.

Karena perjalanan Romadhon bukan sekadar menghitung hari, tetapi menghitung sejauh mana hati mendekat kepada-Nya. (Bambang JB)

 


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.