Bulan Ramadhan merupakan momentum emas bagi umat Muslim di seluruh dunia. Seluruh umat berlomba-lomba mengejar pahala dan ampunan Allah SWT. Namun, ibadah puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga semata. Ustadz Abdul Somad (UAS) menekankan satu hal yang sangat krusial dalam ceramahnya. Hal tersebut adalah menjaga dan mempererat tali ukhuwah islamiyah atau persaudaraan sesama Muslim.
Menurut UAS, ibadah personal tidak akan sempurna tanpa hubungan sosial yang baik. Ramadhan seharusnya menjadi jembatan untuk memperbaiki hubungan yang sempat retak. Beliau mengajak seluruh jamaah untuk menanggalkan ego pribadi demi persatuan umat. Mari kita simak poin-poin penting pesan UAS mengenai ukhuwah di bulan suci ini.
Esensi Puasa dan Persaudaraan
Ustadz Abdul Somad menjelaskan bahwa puasa memiliki dimensi spiritual dan sosial. Secara spiritual, kita mendekatkan diri kepada sang Pencipta. Secara sosial, kita harus merasakan penderitaan saudara-saudara yang berkekurangan. UAS menekankan bahwa persatuan merupakan kekuatan utama umat Islam.
Dalam sebuah kesempatan, beliau memberikan kutipan yang sangat mendalam bagi kita semua:
“Jangan sampai puasa kita hanya mendapat lapar dan haus saja. Sementara itu, hati kita masih menyimpan dendam dan kebencian kepada saudara sendiri.”
Kutipan tersebut menjadi pengingat keras bagi setiap Muslim. Kita tidak boleh membiarkan perbedaan pandangan merusak tali persaudaraan. Ramadhan adalah waktu terbaik untuk saling memaafkan dan membuka lembaran baru yang lebih bersih.
Menghindari Perpecahan di Media Sosial
UAS juga menyoroti fenomena perpecahan di era digital saat ini. Seringkali, perdebatan di media sosial memicu kemarahan dan memutus silaturahmi. Ustadz Abdul Somad menghimbau agar umat lebih bijak dalam berkomunikasi. Puasa lisan bukan hanya menahan diri dari ghibah secara langsung. Kita juga harus menjaga jempol kita dari mengetik kata-kata kasar atau fitnah.
Beliau menegaskan pentingnya menjaga keharmonisan di tengah perbedaan. UAS memberikan pesan yang sangat lugas terkait hal ini:
“Ukhuwah Islamiyah itu ibarat satu tubuh. Jika satu bagian sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan sakitnya juga.”
Oleh karena itu, menjaga ukhuwah adalah kewajiban bagi setiap individu. Jangan biarkan isu-isu kecil memecah belah kekuatan umat yang besar. Ramadhan harus menjadi ajang konsolidasi hati bagi seluruh kaum Muslimin.
Langkah Praktis Menjaga Ukhuwah
Bagaimana cara praktis menjaga ukhuwah islamiyah selama bulan puasa? UAS menyarankan beberapa langkah sederhana namun berdampak besar. Pertama, mulailah dengan memberi makanan berbuka bagi orang lain. Kegiatan ini menumbuhkan rasa kasih sayang dan kepedulian antarsesama.
Kedua, utamakan shalat berjamaah di masjid, terutama shalat tarawih. Berkumpulnya umat di masjid menciptakan atmosfer persatuan yang kuat. Ketiga, jangan ragu untuk menyapa dan memberikan senyuman kepada sesama Muslim.
Ustadz Abdul Somad mengingatkan sebuah hadits melalui ceramahnya:
“Senyummu di depan saudaramu adalah sedekah. Ramadhan adalah bulan sedekah, maka perbanyaklah senyum dan perdamaian.”
Dengan melakukan hal-hal kecil ini, ukhuwah akan tetap terjaga dengan baik. Kita pun bisa meraih predikat takwa yang sesungguhnya di akhir Ramadhan nanti.
Penutup: Meraih Ridha Allah melalui Persatuan
Menjaga ukhuwah islamiyah merupakan jalan menuju ridha Allah SWT. Tanpa persatuan, umat akan menjadi lemah dan mudah terombang-ambing. Ustadz Abdul Somad berharap Ramadhan tahun ini membawa perubahan positif bagi karakter umat.
Marilah kita jadikan sisa hari di bulan Ramadhan ini sebagai momentum islah. Islah berarti memperbaiki hubungan yang rusak dan memperkuat yang sudah ada. Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita dan mempersatukan hati kita semua. Ingatlah, kekuatan kita terletak pada kebersamaan dan cinta kasih karena Allah.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
