SURAU.CO – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Daerah Istimewa Yogyakarta bersama Ikatan Keluarga Alumni PMII (IKA PMII) DIY resmi meluncurkan Sekolah Kader Scholarship (SKS) sekaligus menggelar Sosialisasi Beasiswa Indonesia Bangkit, Selasa (4/3/2026), bertempat di Lantai 1 Teatrikal Bahasa UIN Sunan Kalijaga. Program ini menjadi inisiatif strategis kaderisasi akademik untuk menjawab kegelisahan bersama atas minimnya kesiapan kader PMII dalam mengakses berbagai peluang beasiswa pendidikan tinggi, baik di dalam maupun luar negeri.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh sejumlah pimpinan kampus, akademisi, serta tokoh alumni, di antaranya Wakil Rektor II UIN Sunan Kalijaga Prof. Dr. Mochamad Sodik, S.Sos., M.Si, Wakil Rektor III UIN Sunan Kalijaga Prof. Dr. Abdur Rozaki, Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof. Dr. H. Norhaidi, M.Ag. Hadir sebagai Keynote Speaker Kepala Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan Kementerian Agama RI Dr. Ruchman Basori secara online serta Ketua Umum PW IKA PMII DIY Dr. Ahmad Anfasul Marom sebagai salah satu panelis.
Transformasi Kaderisasi: Dari Aktivisme Menuju Kesimpulan Akademik
Ketua Umum PC PMII DIY, Muh. Faisal, menegaskan bahwa SKS lahir dari keyakinan sekaligus kegelisahan terhadap pola kaderisasi yang selama ini terlalu berpusat pada aktivisme. “SKS lahir dari keyakinan dan kegelisahan. PMII tidak boleh berhenti pada euforia gerakan. Shaping the future bukan sekadar slogan. PMII harus punya posisi dan kesimpulan akademik, bahkan mengantar kader ke forum global,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa setiap kader sejatinya memiliki kesempatan yang sama untuk meraih beasiswa, asalkan memiliki akses informasi dan keterampilan yang memadai. “Kesempatan itu ada, tinggal sejauh mana kader mendapatkan informasi dan keterampilan. Di sinilah SKS bekerja, termasuk menghadirkan alumni untuk saling membimbing dan melayani.”
Dukungan Penuh dari Akademisi dan Tokoh Alumni
Sementara itu, Dr. Ruchman Basori menegaskan bahwa peluang beasiswa pendidikan lanjutan bagi lulusan Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN) sangat terbuka lebar. “Lulusan S2 PTKN itu peluangnya banyak dan kami biayai. Bahkan untuk S3 juga tersedia banyak skema beasiswa,” jelasnya.
Namun ia mengingatkan bahwa tantangan utama bukan pada ketersediaan beasiswa, melainkan kesiapan calon penerima. “Sering kali yang menjadi kendala adalah pemenuhan persyaratan. Di sinilah Sekolah Kader Scholarship menjadi penting sebagai sarana pendampingan dan terobosan.” Menurutnya, program seperti SKS juga perlu menjangkau lebih luas, tidak hanya mahasiswa yang akan melanjutkan studi magister, tetapi juga calon mahasiswa sejak jenjang Madrasah Aliyah atau sederajat.
Wakil Rektor II UIN Sunan Kalijaga sekaligus Ketua Majelis Pertimbangan PW IKA PMII DIY, Prof. Dr. Mochamad Sodik, S.Sos., M.Si, menyebut SKS sebagai momentum penting perubahan orientasi kaderisasi. “Selama ini kita punya sekolah politik, sekarang sekolah beasiswa. Ini momentum penting. Peradaban kita adalah peradaban iqra’, peradaban pengetahuan yang harus terus dirawat. Ini program kenabian,” ujarnya. Menurutnya, orientasi pendidikan sudah saatnya menjadi arus utama gerakan kader. “Kalau dulu orientasinya politik, sekarang pendidikan.”
Sementara itu, Prof. Dr. H. Norhaidi, M.Ag, menilai SKS sangat relevan di tengah melimpahnya tawaran beasiswa dari pemerintah. “Inisiatif ini sangat bagus. Beasiswa banyak, baik dalam maupun luar negeri. Tapi masalahnya kesiapan calon penerima,” katanya. Ia mencontohkan rendahnya serapan kuota beasiswa doktoral nasional. “Dari 5.000 paket doktor, hanya terisi 25. Setelah ditelusuri, kendalanya TOEFL dan IELTS. Lagi-lagi bahasa. Tidak mudah mencari calon penerima beasiswa yang siap.”
Karena itu, menurutnya, SKS harus fokus menyiapkan kemampuan dasar kader. “Kemampuan dasar dan berkas harus diajarkan. Prosesnya melelahkan, tapi ketika diterima, senangnya bukan main.”
SKS sebagai Wadah Pengetahuan Berkelanjutan
Dr. Ahmad Anfasul Marom, M.A menegaskan bahwa SKS melampaui urusan teknis beasiswa; ia menjalankan fungsi sebagai sistem pendampingan berkelanjutan bagi kader. “SKS memang dimulai dari beasiswa, tapi ke depan akan berkembang menjadi wadah pengetahuan. Kami telah menghimpun kader-kader PMII yang sudah meraih berbagai beasiswa untuk terlibat langsung dalam pendampingan.”
Ia menjelaskan mekanisme tersebut sebagai calling system, yakni sistem pemanggilan dan penghubungan kader sesuai dengan jenis dan kebutuhan beasiswa. “Siapa yang mendaftar beasiswa tertentu akan kami calling dan didampingi oleh kader PMII yang sudah punya pengalaman langsung. Alumni hadir bukan sekadar simbol, tapi benar-benar melayani kader.”
Dalam upaya tersebut, melalui program Sekolah Kader Scholarship, PMII Cabang DIY dan IKA PMII DIY menegaskan komitmen nyata mereka. Hal ini dilakukan guna membangun kader intelektual yang tidak hanya siap secara akademik, tetapi juga matang secara bahasa dan kuat secara visi. Pada akhirnya, langkah strategis ini bertujuan untuk memperluas distribusi akses pendidikan tinggi sekaligus memperkokoh fondasi peradaban pengetahuan.
Peluncuran Sekolah Kader Scholarship (SKS) oleh PMII DIY dan IKA PMII DIY adalah bukti nyata bahwa organisasi mahasiswa mampu bertransformasi menjadi katalisator pendidikan tinggi. Dengan dukungan penuh dari Kementerian Agama melalui sosialisasi Beasiswa Indonesia Bangkit, masa depan akademik kader PMII kini memiliki peta jalan yang lebih jelas. Program ini bukan sekadar pelatihan singkat, melainkan sebuah gerakan intelektual untuk mencetak pemimpin masa depan yang berwawasan global namun tetap berpijak pada nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
