Sejarah
Beranda » Berita » Peran Sultan Al-Muzaffar Qutuz: Menyatukan Umat dan Menghancurkan Tartar di Bulan Suci

Peran Sultan Al-Muzaffar Qutuz: Menyatukan Umat dan Menghancurkan Tartar di Bulan Suci

Sejarah mencatat abad ke-13 sebagai masa paling kelam bagi peradaban Islam. Gelombang pasukan Mongol atau Tartar menyapu bersih kota-kota besar dari Asia Tengah hingga Timur Tengah. Puncaknya, Baghdad jatuh pada tahun 1258 Masehi. Dunia Islam kehilangan pusat ilmu pengetahuan dan kekhalifahan saat itu. Namun, di tengah keputusasaan tersebut, muncul sosok pemimpin tangguh di Mesir. Peran Sultan Al-Muzaffar Qutuz menjadi kunci utama penyelamatan umat Islam dari kepunahan total.

Ancaman Tartar dan Krisis Kepemimpinan

Setelah menghancurkan Baghdad, Hulagu Khan mengirimkan surat ancaman kepada penguasa Mesir. Surat tersebut berisi gertakan yang sangat mengerikan. Pasukan Mongol mengklaim diri mereka sebagai “Cambuk Tuhan” yang datang untuk menghukum bangsa-bangsa. Banyak penguasa saat itu merasa gemetar dan memilih untuk menyerah tanpa syarat.

Sultan Qutuz tidak memilih jalan pengecut tersebut. Ia memahami bahwa ketakutan hanya akan mempercepat kehancuran. Qutuz segera mengumpulkan para panglima dan bangsawan Mamluk. Ia menyadari bahwa perpecahan internal merupakan musuh yang lebih berbahaya daripada pedang Tartar. Qutuz bekerja keras menyatukan faksi-faksi yang bertikai demi satu tujuan: menjaga kehormatan Islam.

Fatwa Ulama dan Pengorbanan Pemimpin

Dalam upaya mempersiapkan perang, Qutuz membutuhkan dana yang besar untuk mempersenjatai pasukan. Ia berkonsultasi dengan ulama besar saat itu, Izz ad-Din bin ‘Abd al-Salam. Sang ulama memberikan syarat yang sangat tegas sebelum memungut pajak dari rakyat.

Izz ad-Din bin ‘Abd al-Salam berkata: “Keluarkan dahulu seluruh harta emas dan perhiasan milikmu serta para panglimamu hingga kalian setara dengan rakyat, baru boleh memungut pajak.”

Kilas Balik Masa Keemasan Dinasti Abbasiyah: Cahaya Ilmu di Malam Ramadhan

Sultan Qutuz menerima syarat tersebut dengan lapang dada. Ia menjual seluruh harta pribadinya dan para pejabat kerajaan untuk membiayai jihad. Tindakan ini menumbuhkan kepercayaan luar biasa dari rakyat. Mereka melihat pemimpin yang rela berkorban di barisan paling depan, bukan sekadar memerintah dari istana.

Strategi di Bulan Ramadhan

Pertempuran besar yang menentukan ini terjadi pada bulan suci Ramadhan tahun 658 Hijriah. Qutuz memilih lokasi strategis di Ain Jalut, Palestina. Ia memanfaatkan kondisi geografis lembah untuk menjebak pasukan Tartar yang terkenal sangat cepat.

Sultan Qutuz membagi pasukannya menjadi beberapa divisi. Ia menyembunyikan pasukan utama di balik perbukitan. Ia membiarkan pasukan kecil memancing musuh masuk ke dalam lembah. Strategi ini memerlukan disiplin tingkat tinggi dan keberanian luar biasa dari setiap prajurit yang sedang berpuasa.

Momen “Wa Islamah!” yang Menggetarkan

Pada puncak pertempuran, pasukan Mongol sempat memberikan tekanan hebat. Sayap kiri pasukan Islam mulai goyah dan terancam pecah. Melihat kondisi kritis ini, Sultan Qutuz melakukan aksi heroik yang melegenda. Ia melepaskan helm pelindung kepalanya dan melemparkannya ke tanah.

Qutuz berteriak dengan suara menggelegar yang membelah medan perang: “Wa Islamah! Wa Islamah!” (Duhai Islamku! Duhai Islamku!).

Kemenangan Dinasti Safawiyah: Menjaga Kedaulatan di Bulan Suci

Kutipan ini bukan sekadar teriakan biasa. Kalimat tersebut merupakan panggilan jiwa bagi setiap prajurit untuk mengingat tujuan suci mereka. Semangat para tentara kembali berkobar seketika. Mereka menerjang maju tanpa rasa takut mati. Teriakan Sultan Qutuz berhasil membalikkan keadaan dalam waktu singkat.

Kemenangan Ain Jalut: Titik Balik Sejarah

Pasukan Mamluk akhirnya berhasil menghancurkan mitos bahwa tentara Tartar tidak terkalahkan. Kemenangan di Ain Jalut pada tanggal 25 Ramadhan menjadi titik balik bagi peradaban dunia. Jika Mesir jatuh saat itu, besar kemungkinan seluruh Afrika Utara dan Eropa akan berada di bawah kekuasaan Mongol.

Peran Sultan Al-Muzaffar Qutuz membuktikan bahwa persatuan dan ketaatan pada nilai agama merupakan kekuatan dahsyat. Ia tidak hanya memenangkan pertempuran fisik, tetapi juga memenangkan pertempuran mental umat. Kemenangan ini sekaligus mengamankan tanah suci Makkah, Madinah, dan Al-Quds dari kehancuran.

Warisan Kepemimpinan Qutuz

Meskipun masa pemerintahannya tergolong singkat, pengaruh Sultan Qutuz sangatlah besar. Ia mengajarkan bahwa pemimpin harus memberikan contoh pengorbanan sebelum menuntut pengorbanan dari rakyatnya. Ia juga menunjukkan bahwa bulan Ramadhan bukanlah waktu untuk bermalas-malasan, melainkan momentum untuk meraih kemenangan besar.

Kini, kisah perjuangannya tetap abadi sebagai pengingat bagi generasi masa depan. Persatuan umat di bawah pemimpin yang ikhlas dapat mematahkan kekuatan musuh sekuat apa pun. Kemenangan Ain Jalut tetap menjadi salah satu tinta emas dalam sejarah militer dan spiritual Islam sepanjang masa.

Penaklukan Bougie: Strategi Daulah Al-Muwahhidun Memperluas Wilayah Islam di Bulan Ramadan


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.