Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir, berdiri tegak sebagai mercusuar ilmu pengetahuan Islam selama lebih dari seribu tahun. Sejarah mencatat bahwa pembangunan institusi ini memiliki kaitan erat dengan momentum suci umat Islam. Para sejarawan menyepakati bahwa peresmian masjid yang kemudian berkembang menjadi universitas ini jatuh pada bulan Ramadhan yang penuh berkah.
Awal Mula Pembangunan oleh Dinasti Fatimiyah
Panglima Jauhar Al-Siqilli memulai pembangunan Masjid Al-Azhar pada tahun 359 Hijriah atau 970 Masehi. Ia menjalankan perintah Khalifah Al-Mu’izz li-Din Allah dari Dinasti Fatimiyah setelah berhasil menaklukkan Mesir. Proyek besar ini bertujuan untuk menciptakan pusat ibadah sekaligus simbol kekuatan politik baru di tanah Mesir.
Nama “Al-Azhar” sendiri merujuk pada julukan putri Rasulullah SAW, Fatimah Az-Zahra. Dinasti Fatimiyah mengambil nama ini sebagai bentuk penghormatan dan legitimasi garis keturunan mereka. Proses konstruksi memakan waktu sekitar dua tahun hingga akhirnya bangunan tersebut siap digunakan secara fungsional.
Momentum Peresmian pada 7 Ramadhan
Dunia Islam mengenang tanggal 7 Ramadhan 361 Hijriah sebagai hari bersejarah bagi warga Kairo. Pada hari itu, pemerintah meresmikan penggunaan Masjid Al-Azhar untuk pertama kalinya melalui pelaksanaan salat Jumat berjamaah. Momentum Ramadhan memberikan nilai spiritual yang sangat mendalam bagi awal perjalanan institusi legendaris ini.
Seorang sejarawan terkemuka memberikan catatan penting mengenai peristiwa ini. Kutipan tersebut berbunyi:
“Pembangunan Masjid Al-Azhar selesai pada bulan Ramadhan tahun 361 Hijriah. Sejak saat itu, suara azan mulai menggema dari menaranya dan para ulama mulai berkumpul untuk menyebarkan ilmu kepada umat manusia.”
Sejak peresmian tersebut, Al-Azhar tidak hanya berfungsi sebagai tempat sujud. Khalifah Al-Mu’izz segera mengubah fungsi bangunan ini menjadi pusat pendidikan formal yang menampung pelajar dari berbagai penjuru dunia.
Transformasi Menjadi Pusat Ilmu Pengetahuan Dunia
Meskipun awalnya berfungsi sebagai pusat penyebaran paham Syiah Ismailiyah, karakter Al-Azhar berubah secara drastis di kemudian hari. Ketika Sultan Salahuddin Al-Ayyubi menguasai Mesir, ia mengubah institusi ini menjadi benteng pertahanan paham Sunni. Langkah ini justru memperkuat posisi Al-Azhar sebagai rujukan utama hukum dan teologi Islam di kancah internasional.
Al-Azhar secara konsisten mengembangkan kurikulum pendidikan yang komprehensif. Selain ilmu agama seperti Tafsir dan Hadis, universitas ini juga mengajarkan filsafat, kedokteran, hingga astronomi. Pola pendidikan yang inklusif membuat ribuan mahasiswa asing berbondong-bondong datang ke Kairo setiap tahunnya untuk menimba ilmu.
Arsitektur yang Melintasi Zaman
Keindahan arsitektur Al-Azhar mencerminkan perpaduan berbagai gaya dari era yang berbeda. Kita dapat melihat sentuhan seni Dinasti Fatimiyah, Mamluk, hingga Ottoman pada setiap sudut bangunan. Menara-menara tinggi yang menjulang ke langit Kairo menjadi bukti ketangguhan struktur ini dalam menghadapi perubahan zaman dan cuaca.
Setiap lorong di Universitas Al-Azhar menyimpan cerita tentang ketekunan para ulama besar. Ruang-ruang kelas yang disebut Riwaq menjadi tempat diskusi hangat antara guru dan murid selama berabad-abad. Tradisi intelektual ini terus terjaga hingga saat ini melalui sistem pendidikan modern yang tetap mempertahankan nilai-nilai luhur tradisi Islam klasik.
Peran Vital Al-Azhar di Era Modern
Pada masa kini, Universitas Al-Azhar telah bertransformasi menjadi institusi pendidikan modern dengan puluhan fakultas sains dan teknologi. Namun, posisi Al-Azhar sebagai otoritas keagamaan tertinggi tetap tidak tergoyahkan. Dunia mengenal Al-Azhar sebagai promotor Islam moderat yang mengedepankan toleransi dan perdamaian antarummat beragama.
Perjalanan panjang sejak 7 Ramadhan 361 Hijriah membuktikan bahwa Al-Azhar adalah warisan abadi bagi peradaban manusia. Keberadaannya terus memberikan pencerahan bagi jutaan orang di seluruh dunia. Sejarah pembangunan Universitas Al-Azhar Kairo yang diresmikan pada bulan Ramadhan ini akan selalu menjadi inspirasi bagi generasi mendatang dalam menjaga semangat literasi dan keimanan.
Dengan menjaga tradisi intelektual, Al-Azhar memastikan bahwa cahaya ilmu pengetahuan tidak akan pernah redup dari bumi pertiwi. Institusi ini tetap menjadi simbol kejayaan Islam yang lahir dari sebuah visi besar di bulan yang paling suci.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
