Kisah
Beranda » Berita » Kisah Hikmah Hati “Makna Gerakan dan Bacaan dalam Sholat Secara Tasawuf”

Kisah Hikmah Hati “Makna Gerakan dan Bacaan dalam Sholat Secara Tasawuf”

Kisah Hikmah Hati "Makna Gerakan dan Bacaan dalam Sholat Secara Tasawuf"
Kisah Hikmah Hati "Makna Gerakan dan Bacaan dalam Sholat Secara Tasawuf"

 

SURAU.CO – Di sebuah malam yang sunyi, selepas adzan Isya berkumandang, seorang pemuda duduk termenung di serambi masjid. Wajahnya tenang, namun hatinya bertanya.

“Aku sholat lima waktu, tapi mengapa hatiku masih terasa jauh?”

Seorang lelaki tua yang duduk di sampingnya tersenyum lembut.

“Anak muda,” katanya pelan, “sholat itu bukan hanya gerakan badan dan bacaan lisan. Ia adalah perjalanan hati menuju Tuhan.”
Pemuda itu menatap dalam.

Penaklukan Yaman di Bulan Ramadhan: Kisah Cahaya Islam yang Merambah Negeri Seribu Kubah

“Lalu, apa makna gerakan dan bacaan itu secara tasawuf?”

Orang tua itu memejamkan mata sejenak.

Takbiratul Ihram

Melepaskan Dunia
Saat kedua tangan terangkat dan lisan mengucap Allahu Akbar, dalam tasawuf itu bukan sekadar pembuka sholat.

Itu adalah pengakuan bahwa tidak ada yang lebih besar dari Alloh  bukan jabatan, bukan harta, bukan luka, bukan rasa bangga.

Mengangkat tangan artinya:
“Aku tinggalkan dunia di belakangku, dan aku masuk ke hadirat-Mu.”

Sekarang Kau Berbakti Kepada Orang Tua, Kelak Anakmu Yang Akan Berbakti Kepadamu

Hati yang sadar akan merasakan ringan, karena ia melepaskan beban sebelum berdiri menghadap Tuhan.

Berdiri dan Membaca Dialog Cinta

Ketika membaca Al-Fatihah, tasawuf memandangnya sebagai percakapan antara hamba dan Rabb-nya.

Setiap ayat bukan sekadar dibaca, tetapi didengar oleh hati sendiri.

“Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin…”
Artinya bukan hanya memuji, tapi menyadari:
“Segala yang terjadi dalam hidupku berasal dari-Mu.”

Dalam sholat, seorang sufi tidak hanya membaca ia merasakan dibaca oleh Tuhan.

Pembukaan Kota Rhodes: Tonggak Sejarah Kejayaan Armada Laut Islam

Rukuk Merundukkan Ego
Saat rukuk, punggung sejajar, kepala tunduk.
Dalam tasawuf, rukuk adalah simbol:

“Aku tunduk, bukan karena terpaksa, tetapi karena sadar siapa diriku.”

Yang dirundukkan bukan hanya badan, tetapi kesombongan dan keakuan.

Jika hati masih merasa lebih baik dari orang lain, maka rukuk belum sempurna.

Sujud Titik Kehancuran dan Kedekatan

Sujud adalah puncak.
Kening menyentuh bumi tempat manusia berasal dan akan kembali.
Secara tasawuf, sujud adalah:

“Aku tiada, Engkau Yang Ada.”

Di titik terendah itulah kedekatan tertinggi dirasakan.

Karena ketika ego hancur, cahaya Ilahi masuk.

Sujud bukan sekadar posisi tubuh, tetapi lenyapnya diri di hadapan-Nya.

Duduk Tasyahud  Kesaksian Hati

Ketika duduk dan membaca syahadat, tasawuf memaknainya sebagai pembaruan janji.

“Tiada Tuhan selain Alloh.”

Bukan hanya ucapan, tapi kesadaran bahwa dalam hidup ini tidak ada tempat bergantung selain Dia.

Dan shalawat kepada Nabi adalah pengakuan bahwa jalan menuju Alloh ditempuh melalui teladan Rosul.

Pesan Sang Guru

Orang tua itu menatap pemuda tadi dan berkata:

“Jika sholatmu hanya gerakan, engkau hanya lelah.

Jika sholatmu hanya bacaan, engkau hanya fasih.

Tetapi jika sholatmu adalah perjalanan hati, engkau akan pulang dengan damai.”
Pemuda itu menunduk.

Malam terasa berbeda.

Kini ia tahu sholat bukan sekadar kewajiban, tetapi perjalanan pulang.

Inti Hikmah Hati
Sholat adalah mi’raj batin.

Gerakan adalah simbol kerendahan hati.

Bacaan adalah dialog cinta. Tasawuf mengajarkan kehadiran hati, bukan sekadar kesempurnaan gerakan.

 

 

 


Mengapa dalam Doa Sebagian Orang Hanya Meminta, Jarang Mengucapkan Syukur

 

Di beranda rumah selepas Magrib, seorang murid bertanya kepada gurunya,

“Guru, mengapa dalam doa banyak orang hanya meminta? Jarang terdengar syukur di awal katanya.”
Guru itu tersenyum lembut.

“Karena manusia lebih mudah merasakan kekurangan daripada mengingat kecukupan.”
1. Doa Lahir dari Rasa Butuh
Sebagian orang berdoa ketika hatinya sempit.

Ketika sakit, ketika susah, ketika kehilangan.
Doa menjadi tempat mengadu.

Maka yang keluar lebih dahulu adalah permintaan.
Padahal dalam Al-Qur’an Alloh mengingatkan:

Jika bersyukur, niscaya akan ditambah nikmat-Nya (QS. Ibrahim: 7).
Guru itu berkata,

“Meminta itu fitrah. Tetapi lupa bersyukur adalah kelalaian.”

  1. Syukur Butuh Kesadaran, Meminta

Cukup Kebutuhan
Meminta lahir dari rasa kurang.
Syukur lahir dari kesadaran.
Tidak semua orang terlatih melihat nikmat yang sudah ada.
Udara yang dihirup, tubuh yang sehat, waktu yang diberi semuanya sering dianggap biasa.
Dalam doa, sering terdengar:

“Ya Alloh beri aku…”
Namun jarang terdengar:
“Ya Alloh terima kasih atas yang Engkau beri…”
Guru itu menatap muridnya,

“Orang yang dewasa rohaninya, sebelum meminta ia menghitung nikmat.”

  1. Doa Para Nabi Dimulai dengan Pujian
    Banyak doa dalam Al-Qur’an dimulai dengan pujian dan pengakuan kebesaran Alloh.

Karena syukur membuka pintu rahmat.

Permintaan tanpa syukur seperti tangan kosong.

Permintaan dengan syukur seperti tangan yang telah dipenuhi cahaya.

Guru berkata pelan,
“Syukur menjadikan doa lebih indah. Ia bukan sekadar meminta, tetapi berdialog dengan penuh cinta.”

Allah Maha Mendengar

Murid itu termenung.
“Jadi, apakah salah jika hanya meminta?”

Guru tersenyum,
“Tidak salah. Alloh Maha Mendengar. Namun doa yang lengkap adalah doa yang seimbang antara syukur, pujian, dan harap.”

Dan malam itu, murid tersebut belajar,
bahwa sebelum menyebut kekurangan,
ada baiknya menyebut karunia.

Sebab orang yang pandai bersyukur,
akan lebih tenang dalam meminta.

Karena doa bukan hanya tentang apa yang belum ada,
tetapi tentang kesadaran atas apa yang telah diberikan. (Bambang JB)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.