SURAU.CO – Tengku Iskandar merupakan sosok pendidik dan pembimbing umat yang dikenal luas atas dedikasinya dalam bidang pendidikan dan dakwah. Dengan pendekatan yang santun, sistematis, dan penuh kebijaksanaan, beliau telah berkontribusi dalam membina generasi yang berilmu, berakhlak, dan berintegritas.
Latar Belakang dan Pendidikan
Sejak usia muda, Tengku Iskandar menunjukkan ketertarikan mendalam terhadap ilmu agama dan pendidikan. Lingkungan yang menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman membentuk karakter beliau sebagai pribadi yang disiplin, tekun, dan haus akan pengetahuan. Pendidikan formal dan nonformal yang beliau tempuh memperkaya wawasan keilmuan, baik dalam bidang studi keislaman, sosial kemasyarakatan, maupun kepemimpinan.
Perjalanan akademiknya tidak hanya menjadi sarana pengembangan diri, tetapi juga fondasi kuat dalam menjalankan peran sebagai pendidik dan pembimbing masyarakat. Beliau dikenal sebagai sosok yang terus belajar dan memperbarui pemahaman, seiring dengan dinamika zaman dan kebutuhan umat.
Perjalanan Dakwah dan Pengabdian
Dalam kiprahnya, Tengku Iskandar aktif mengisi berbagai forum ilmiah, majelis taklim, seminar, serta kegiatan pendidikan formal dan nonformal. Materi yang beliau sampaikan tidak hanya berfokus pada aspek teoritis, tetapi juga pada penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Gaya penyampaian yang komunikatif dan argumentatif menjadikan setiap kajian terasa hidup dan mudah dipahami. Beliau kerap mengedepankan dialog terbuka, mendorong peserta untuk bertanya, berdiskusi, serta mengembangkan pemahaman secara kritis namun tetap berlandaskan adab dan etika.
Selain berdakwah, Tengku Iskandar juga terlibat dalam pembinaan generasi muda, penguatan lembaga pendidikan, serta kegiatan sosial kemasyarakatan. Baginya, dakwah bukan sekadar penyampaian pesan, melainkan proses pembinaan berkelanjutan yang menyentuh aspek intelektual, spiritual, dan sosial.
Pemikiran dan Prinsip
Dalam pandangannya, pendidikan merupakan kunci utama kemajuan umat. Ilmu harus disertai akhlak, dan pemahaman harus dibarengi dengan pengamalan. Beliau menekankan pentingnya keseimbangan antara tradisi keilmuan klasik dan tantangan modernitas, agar umat mampu beradaptasi tanpa kehilangan identitas.
Tengku Iskandar juga dikenal sebagai figur yang menjunjung tinggi nilai persatuan, toleransi, serta sikap bijak dalam menyikapi perbedaan.
Prinsip moderasi dan kedewasaan berpikir menjadi landasan dalam setiap aktivitas dakwah dan pembinaan yang beliau lakukan.
Dedikasi dan Harapan
Hingga kini, Tengku Iskandar terus berkomitmen untuk berkontribusi dalam dunia pendidikan dan pengembangan masyarakat. Melalui berbagai program pembinaan, ceramah, serta kegiatan sosial, beliau berharap dapat melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan emosional.
Dedikasi yang konsisten, keteladanan dalam bersikap, serta komitmen terhadap nilai-nilai luhur menjadikan Tengku Iskandar sebagai sosok yang dihormati dan dipercaya.
Kiprahnya diharapkan terus memberi manfaat luas dan menjadi bagian dari upaya membangun peradaban yang berlandaskan ilmu, akhlak, dan kemaslahatan bersama.
Takhrij Ringkas hadis tentang Shalat taraweh
Durratun Nasihin
Penulis: Syaikh Utsman bin Hasan al-Khubawi
Biasanya terdapat pada bab Fadhilah Ramadhan / Fadhilah Shalat Tarawih.
Dalam banyak cetakan Asia Tenggara (Indonesia–Malaysia), hadis ini terdapat sekitar:
Juz akhir kitab
Sekitar halaman 14–17 (tergantung penerbit & ukuran cetakan).
⚠ Catatan: Nomor halaman berbeda-beda tergantung edisi (Arab tanpa harakat, cetakan Toha Putra, Dar Ihya’ al-Kutub, dll.). Al-Maudhu‘at
Penulis: Imam Ibnul Jauzi
Pembahasan hadis-hadis palsu tentang Ramadhan.
Biasanya terdapat pada:
Jilid 2, sekitar halaman 190–195 (cet. Dar al-Kutub al-Ilmiyyah).
Dengan demikian, disebutkan bahwa hadis yang merinci keutamaan tiap malam Tarawih termasuk riwayat maudhu’. Al-La’ali al-Mashnu‘ah
Penulis: Imam as-Suyuthi
Pembahasan hadis-hadis palsu tentang fadhilah Ramadhan.
Biasanya terdapat pada:
Jilid 2, sekitar halaman 57–60 (cet. Dar al-Kutub al-Ilmiyyah). Silsilat al-Ahadith ad-Da‘ifah wal-Maudhu‘ah
Penulis: Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani
Hadis tentang rincian pahala Tarawih malam 1–30 dibahas dalam: Jilid 1, sekitar halaman 294–297
Dinilai: Maudhu’ (palsu). Catatan Penting Akademik
Riwayat ini tidak ditemukan dalam Kutubus Sittah.
Tidak memiliki sanad yang sah.
Ulama hadis sepakat bahwa riwayat rincian malam 1–30 adalah tidak sahih bahkan palsu.
Perbedaan halaman bisa terjadi tergantung cetakan.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
