Ibadah
Beranda » Berita » Takhrij Ringkas Hadis Tentang Shalat Tarawih (Kajian atas Riwayat Keutamaan Malam 1–30 Ramadhan)

Takhrij Ringkas Hadis Tentang Shalat Tarawih (Kajian atas Riwayat Keutamaan Malam 1–30 Ramadhan)

Takhrij Ringkas Hadis Tentang Shalat Tarawih (Kajian atas Riwayat Keutamaan Malam 1–30 Ramadhan)
Takhrij Ringkas Hadis Tentang Shalat Tarawih (Kajian atas Riwayat Keutamaan Malam 1–30 Ramadhan)

 

SURAU.CO – Takhrij Ringkas Hadis Tentang Shalat Tarawih (Kajian atas Riwayat Keutamaan Malam 1–30 Ramadhan). Pendahuluan, Di tengah masyarakat Muslim Indonesia, beredar sebuah riwayat yang merinci keutamaan shalat Tarawih pada setiap malam bulan Ramadhan, dari malam pertama hingga malam ketiga puluh. Riwayat tersebut menjelaskan pahala yang berbeda-beda pada setiap malam, seperti pengampunan dosa, pahala seperti para nabi, hingga ganjaran surga tertentu.

Tulisan ini bertujuan melakukan takhrij ringkas terhadap riwayat tersebut berdasarkan rujukan para ulama hadis klasik dan kontemporer.

Redaksi Global Hadis

Secara umum, redaksi hadis tersebut berbunyi (ringkasnya):

“Pada malam pertama shalat Tarawih, orang mukmin keluar dari dosanya seperti hari ia dilahirkan oleh ibunya… Pada malam kedua diberikan pahala sekian… hingga malam ketiga puluh memperoleh pahala yang besar…”

Kisah Abdullah bin Mubarak: Haji yang Tertunda karena Sedekah kepada Janda Miskin

Riwayat ini menyebut rincian keutamaan secara spesifik untuk setiap malam Tarawih.

Sumber dan Analisis Takhrij

  1. Dalam Kitab Durratun Nasihin

Riwayat ini banyak ditemukan dalam kitab Durratun Nasihin karya Utsman bin Hasan al-Khubawi.

Biasanya tercantum dalam bab Fadhilah Ramadhan atau Fadhilah Shalat Tarawih, khususnya pada cetakan Asia Tenggara. Namun:

Kitab ini merupakan kitab nasihat (targhib wa tarhib), bukan kitab hadis dengan penelitian sanad yang ketat.

Kemenangan Tanpa Pertumpahan Darah: Refleksi Agung Fathu Makkah

Tidak disebutkan sanad yang sahih.

Tidak dijelaskan perawi-perawinya secara lengkap.

Dengan demikian, keberadaannya dalam kitab tersebut tidak menunjukkan kesahihan riwayat.

  1. Penilaian dalam Al-Maudhu‘at

Imam Ibn al-Jawzi memasukkan riwayat ini dalam kitabnya Al-Maudhu‘at (Jilid 2, cetakan Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah).

Beliau menegaskan bahwa hadis yang merinci pahala tiap malam Tarawih termasuk hadis maudhu’ (palsu) karena:

Kisah Taubat yang Diterima di Depan Multazam: Tempat Mustajab Mengadu Dosa

Sanadnya tidak sah.
Terdapat perawi yang tertuduh dusta.

Matannya menunjukkan tanda-tanda kelemahan dan berlebihan.

  1. Penegasan dalam Al-La’ali al-Mashnu‘ah

Imam Jalal al-Din al-Suyuti dalam kitab Al-La’ali al-Mashnu‘ah turut mengutip riwayat ini dalam pembahasan hadis-hadis palsu.

Oleh karena itu, beliau menguatkan penilaian bahwa hadis tersebut tidak sahih dan termasuk kategori maudhu’.

  1. Penilaian Ulama Kontemporer

Syaikh Muhammad Nasiruddin al-Albani dalam Silsilat al-Ahadith ad-Da‘ifah wal-Maudhu‘ah (Jilid 1) juga membahas riwayat ini dan menegaskan statusnya sebagai:

Maudhu’ (Hadis Palsu).

Selain itu, beliau menekankan bahwa riwayat tersebut tidak memiliki sanad yang dapat dipertanggungjawabkan dan tidak terdapat dalam kitab-kitab hadis utama.

Kedudukan Riwayat dalam Literatur Hadis

Secara akademik dapat disimpulkan:

  1. Tidak terdapat dalam Kutubus Sittah.
  2. Tidak memiliki sanad sahih.

  3. Dihukumi maudhu’ oleh para ulama hadis.

  4. Selain itu, mengandung rincian pahala yang berlebihan dan tidak sejalan dengan metode periwayatan hadis sahih.

Oleh Karena Itu, para ulama hadis sepakat bahwa riwayat rincian malam 1–30 tersebut tidak dapat dijadikan hujjah.

Hadist Sahih tentang Keutamaan Tarawih

Sebagai pembanding, terdapat hadis sahih dari Nabi Muhammad:

“Barangsiapa menegakkan (shalat malam) Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Hadis ini diriwayatkan dalam:

Sahih al-Bukhari
Sahih Muslim

Oleh karena itu, hadis inilah yang menjadi landasan sahih keutamaan shalat Tarawih, tanpa adanya rincian pahala pada setiap malam.

Kesimpulan

Oleh karena itu, berdasarkan kajian takhrij terhadap sumber-sumber klasik dan kontemporer, dapat ditegaskan bahwa:

Namun, riwayat tentang rincian pahala Tarawih malam 1–30 adalah hadis palsu (maudhu’).

Tidak memiliki sanad yang sah. Selain itu, tidak ditemukan dalam kitab-kitab hadis mu‘tabar.

Tidak boleh disandarkan kepada Nabi ﷺ.

Adapun keutamaan shalat Tarawih secara umum tetap sah dan kuat berdasarkan hadis-hadis sahih tentang qiyam Ramadhan.

Semoga tulisan ini menjadi kontribusi ilmiah dalam meluruskan pemahaman umat dan selanjutnya menguatkan tradisi literasi hadis yang berbasis penelitian sanad dan matan. Wallahu a‘lam bish-shawab. (Tengku Iskandar, M.Pd
Duta Literasi Pena Da’i Nusantara Provinsi Sumatera Barat)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.