Fiqih
Beranda » Berita » Ikhtilāf Al-maṭāli‘ Dalam Penetapan Awal Ramadhan (Studi Fiqih terhadap Hadis Kuraib)

Ikhtilāf Al-maṭāli‘ Dalam Penetapan Awal Ramadhan (Studi Fiqih terhadap Hadis Kuraib)

Ikhtilāf Al-maṭāli‘ Dalam Penetapan Awal Ramadhan (Studi Fiqih terhadap Hadis Kuraib)
Ikhtilāf Al-maṭāli‘ Dalam Penetapan Awal Ramadhan (Studi Fiqih terhadap Hadis Kuraib)

 

SURAU.CO – Penetapan awal Ramadhan merupakan persoalan fiqih yang telah diperselisihkan para ulama sejak masa sahabat. Hadis Kuraib tentang perbedaan rukyat antara Syam dan Madinah menjadi landasan utama dalam pembahasan ikhtilāf al-maṭāli‘. Makalah ini bertujuan menganalisis status kesahihan hadis tersebut, metode istinbāṭ para ulama, serta implikasinya terhadap wacana kalender global. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif-analitis berbasis studi kepustakaan terhadap kitab-kitab hadis dan fiqih klasik. Hasil kajian menunjukkan bahwa hadis Kuraib berstatus shahih dan menjadi dalil kuat bagi pengakuan perbedaan mathla‘, meskipun tetap berada dalam ranah ijtihadiyyah.

Kata kunci: Ikhtilāf al-maṭāli‘, rukyat hilal, hadis Kuraib, fiqih puasa.

PENDAHULUAN

Penetapan awal Ramadhan termasuk persoalan penting dalam syariat Islam karena berkaitan langsung dengan kewajiban ibadah puasa. Perbedaan awal puasa di berbagai wilayah memunculkan diskusi fiqih tentang apakah rukyat hilal bersifat lokal atau global. Hadis Kuraib menjadi teks sentral dalam pembahasan ini.

Rumusan masalah dalam makalah ini:

Kesabaran Siti Hajar: Pelajaran Ketangguhan Perempuan di Balik Syariat Sa’i

  1. Bagaimana status kesahihan hadis Kuraib?

  2. Bagaimana istinbāṭ hukum para ulama terhadap hadis tersebut?

  3. Apakah hadis ini menolak konsep kalender global?.

LANDASAN NORMATIF

  1. Dalil Al-Qur’an

Allah Ta‘ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ¹

Bakso Keliling Pak Win di Masjid Marapak dalam Perspektif Nilai Islami

Dan firman-Nya:

فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ²

Ayat ini menjadi dasar kewajiban puasa ketika “menyaksikan bulan”.

  1. Hadis Rukyat

Rasulullah ﷺ bersabda:

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ ثَلَاثِينَ³

Warung Kopi, Surga, dan Rasa Aman yang Terlalu Cepat

(HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim bin al-Hajjaj)

  1. Hadis Kuraib

Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim bin al-Hajjaj dalam Ṣaḥīḥ Muslim:

عَنْ كُرَيْبٍ … فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: لَكِنَّا رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ السَّبْتِ … فَقُلْتُ: أَوَلَا تَكْتَفِي بِرُؤْيَةِ مُعَاوِيَةَ؟ قَالَ: لَا، هَكَذَا أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ.⁴

Hadis ini shahih dan menjadi pusat perdebatan fiqih.

ANALISIS FIQIH

  1. Pendapat Mayoritas: Ikhtilāf al-Maṭāli‘ Dianggap

Mazhab Syafi‘iyyah dan sebagian Hanabilah menyatakan bahwa perbedaan tempat terbit hilal memiliki konsekuensi hukum.

Tokoh yang menjelaskan pendapat ini antara lain:

An-Nawawi
Ibn Hajar al-Asqalani

Mereka memahami sikap Ibn ‘Abbas sebagai penegasan bahwa rukyat bersifat regional.

  1. Pendapat Kedua: Rukyat Global

Sebagian Malikiyyah dan riwayat Hanabilah berpendapat bahwa rukyat yang sah berlaku umum bagi seluruh kaum Muslimin berdasarkan keumuman lafaz hadis.

Hadis Kuraib dipahami sebagai ijtihad sahabat, bukan nash tegas pembatasan wilayah.

KAIDAH FIQIH TERKAIT

حُكْمُ الْحَاكِمِ يَرْفَعُ الْخِلَافَ

Keputusan pemerintah dalam penetapan awal Ramadhan mengikat demi kemaslahatan dan persatuan umat.

KESIMPULAN

  1. Hadis Kuraib berstatus shahih.

  2. Ia menjadi dalil kuat bagi pengakuan ikhtilāf al-maṭāli‘.

  3. Masalah ini bersifat ijtihadiyyah dan khilafiyah.

  4. Mengikuti keputusan ulil amri lebih utama dalam menjaga kesatuan umat.

CATATAN KAKI

  1. QS. Al-Baqarah [2]: 183.
  2. QS. Al-Baqarah [2]: 185.

  3. HR. Al-Bukhari no. 1909; Muslim no. 1081.

  4. HR. Muslim no. 1087.

DAFTAR MARĀJI‘

Al-Qur’an al-Karīm.
Al-Bukhari, Muhammad bin Isma‘il. Al-Jāmi‘ al-Ṣaḥīḥ.
Muslim bin al-Ḥajjāj. Ṣaḥīḥ Muslim.
An-Nawawi. Al-Minhāj Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim.
Ibn Ḥajar al-‘Asqalānī. Fatḥ al-Bārī.
Ibn Qudāmah. Al-Mughnī.

 

 

 


Penyakit Hati dalam Perspektif Islam

Penyakit hati (amrāḍ al-qulūb) merupakan persoalan mendasar dalam kehidupan manusia. Ia tidak tampak secara fisik, tetapi dampaknya jauh lebih berbahaya daripada penyakit jasmani. Hati adalah pusat niat, keyakinan, dan akhlak. Ketika hati rusak, maka rusak pula perilaku dan amal seseorang.

Allah ﷻ berfirman:

> فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ
“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya; dan bagi mereka azab yang pedih karena mereka berdusta.”¹

Rasulullah ﷺ juga menegaskan sentralnya peran hati:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ²

 

Bentuk-Bentuk Penyakit Hati

  1. Hasad (Iri Dengki)

> أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَىٰ مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ³
Hasad menggerogoti amal kebaikan dan merusak ukhuwah.

  1. Riya’ (Pamer Amal)

> الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ⁴
Riya’ menjadikan ibadah kehilangan nilai di sisi Allah karena tercampur niat selain-Nya.

  1. Takabbur (Sombong)

> لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ⁵

Kesombongan menutup hati dari kebenaran dan menjauhkan dari rahmat Allah.

Hati yang Selamat

Keselamatan di akhirat ditentukan oleh kebersihan hati:

> يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ۝ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ⁶

Qalbun salīm adalah hati yang bersih dari syirik, dengki, riya’, dan kesombongan.

Penutup

Membersihkan hati adalah jihad terbesar dalam kehidupan seorang mukmin. Ia membutuhkan muhasabah, taubat, dzikir, dan keikhlasan yang terus diperbarui. Semoga Allah ﷻ menganugerahkan kepada kita hati yang bersih dan selamat.

Catatan Kaki

  1. QS. Al-Baqarah: 10.
  2. HR. Al-Bukhari no. 52; Muslim no. 1599.

  3. QS. An-Nisa’: 54.

  4. QS. Al-Ma’un: 6.

  5. HR. Muslim no. 91.

  6. QS. Asy-Syu‘ara: 88–89. (Penulis: Tengku Iskandar, M.Pd
    Duta Literasi Pena Da’i Nusantara Provinsi Sumatera Barat)

Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.