SURAU.CO – Pagi itu warung kopi belum terlalu ramai. Cangkir-cangkir masih hangat, dan pembicaraan mengalir ringan.
Lalu terdengar satu kalimat yang menenangkan sekaligus menggelisahkan:
“Semua umat Nabi Muhammad pasti masuk surga.”
Kalimat itu seperti gula dalam kopi manis, menenangkan.
Namun jika terlalu manis, bisa membuat lupa rasa pahit yang justru menyadarkan.
Aku terdiam.
Benarkah semua tanpa terkecuali?
Atau kita sedang mencari rasa aman yang terlalu cepat?
Antara Harapan dan Kelalaian
Kita mencintai Nabi Muhammad. Kita berharap syafaat beliau. Dan Kita yakin rahmat Alloh lebih luas dari dosa kita.
Namun sering kali keyakinan itu berubah menjadi pembenaran.
Sholat yang tertunda.
Amanah yang diremehkan.
Lisan yang masih menyakiti.
Kita merasa aman hanya karena identitas: “Saya umat Muhammad.”
Padahal cinta bukan sekadar pengakuan,
melainkan mengikuti jejak langkahnya.
Surga Itu Tujuan, Bukan Alasan Bermalas
Jika benar pada akhirnya orang beriman akan sampai ke surga,
pertanyaannya bukan lagi “Apakah saya masuk?”
Tetapi:
“Berapa lama saya harus menunggu sebelum benar-benar pantas?”
Karena setiap amal adalah cermin.
Setiap niat adalah arah.
Setiap pilihan kecil hari ini menentukan cara kita berdiri kelak.
Warung kopi mengajarkan satu hal:
Sering kali manusia lebih senang mendengar janji rahmat,
daripada peringatan tanggung jawab.
Refleksi Hati
Mungkin yang perlu kita takutkan bukanlah tidak masuk surga.
Tetapi hati yang terlalu percaya diri, hingga lupa memperbaiki diri. Rahmat Alloh itu luas.
Namun kesadaran kita sering sempit.
Dan di antara tegukan kopi yang mulai dingin,
aku belajar bahwa berharap tanpa berbenah
adalah harapan yang rapuh.
Maka biarlah kita berharap dengan sungguh-sungguh,
dan beramal dengan rendah hati.
Karena menjadi umat Muhammad
bukan hanya tentang klaim keselamatan,
tetapi tentang kesungguhan meneladani jalan keselamatan.
Kisah Hikmah Hati “Sebagian Saudara Kita Menjalankan Kewajiban dengan Masa Bodoh, Masalah Diterima atau Tidak Urusan Alloh”
Di sebuah kampung kecil, ada dua orang sahabat yang sama-sama rajin menjalankan kewajiban. Keduanya shalat, berpuasa, dan bersedekah. Namun ada yang berbeda di dalam hatinya.
Sahabat pertama berkata,
“Aku sudah menjalankan kewajiban. Soal diterima atau tidak, itu urusan Alloh.”
Lalu ia melaksanakan ibadahnya dengan tergesa, tanpa rasa takut, tanpa harap, tanpa perenungan.
Baginya, kewajiban hanyalah beban yang harus ditunaikan agar selesai.
Sahabat kedua berkata,
“Aku menjalankan kewajiban, dan aku takut jika amal ini belum layak diterima. Maka aku perbaiki niatku, aku jaga adabku, aku bersihkan hatiku.”
Ia menangis dalam doanya, bukan karena ragu kepada rahmat Alloh, tetapi karena sadar betapa kecil amalnya dibanding kebesaran-Nya.
Hakikat Diterima atau Tidak
Dalam ajaran Islam, amal bukan hanya soal melakukan, tetapi juga soal bagaimana hati menyertainya.
Al-Qur’an mengingatkan bahwa Alloh menerima amal dari orang-orang yang bertakwa. Artinya, kualitas batin menentukan nilai lahir.
Imam Al-Ghazali dalam karya monumentalnya Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa amal tanpa kehadiran hati ibarat jasad tanpa ruh. Ia bergerak, tetapi tidak hidup.
Masa bodoh dalam ibadah bukanlah tawakal. Tawakal adalah berserah diri setelah usaha maksimal.
Sedangkan masa bodoh adalah tanda hati yang lalai.
Antara Tawakal dan Kelalaian
Banyak yang berkata:
“Yang penting sudah shalat.”
“Yang penting sudah puasa.”
Namun para sahabat Nabi justru takut amalnya tidak diterima meski mereka sudah berjuang maksimal.
Umar bin Khattab pernah menangis karena khawatir namanya tidak termasuk orang yang diterima amalnya. Padahal beliau adalah sahabat besar.
Mengapa orang saleh takut?
Karena mereka mengenal siapa Tuhannya.
Mengapa sebagian kita masa bodoh?
Karena kita lebih sibuk menggugurkan kewajiban daripada mencari ridha.
Hikmah Hati
Hati yang hidup akan berkata:
“Aku sudah beramal, tapi apakah aku sudah ikhlas?”
“Aku sudah shalat, tapi apakah aku sudah hadir bersama-Nya?”
Sedangkan hati yang lalai berkata:
“Aku sudah selesai. Titik.”
Padahal hakikat ibadah bukan sekadar selesai, tetapi sampai.
Renungan
Jika amal diterima adalah urusan Alloh, maka memperbaiki amal adalah urusan kita.
Jika rahmat adalah hak Alloh, maka kesungguhan adalah kewajiban kita.
Jangan sampai kita menjadi hamba yang berjalan seperti bayangan bergerak tetapi tanpa kesadaran.
Jadilah hamba yang gemetar bukan karena takut ditolak, tetapi karena rindu diterima.
Karena sesungguhnya, bukan hanya kewajiban yang ditanya.
Hati pun akan dimintai kesaksian. Allohu a’lam. (Oleh: Bambang JB)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
