Ramadan
Beranda » Berita » Menyiapkan Diri Menyambut Ramadan 1447 H: Bukan Sekadar Kemeriahan

Menyiapkan Diri Menyambut Ramadan 1447 H: Bukan Sekadar Kemeriahan

Marhaban Ya Ramadan

SURAU.CO. Bulan mulia Ramadan 1447 H akan segera tiba dalam hitungan hari. Kedatangannya selalu menyalakan api harapan baru bagi setiap insan beriman. Masyarakat biasanya menyambut bulan ini dengan gegap gempita yang luar biasa. Ucapan “Marhaban yā Ramadan” bergema di mana-mana, mulai dari pelosok desa hingga kota besar.

Berbagai spanduk, baliho, dan agenda ibadah mulai menghiasi sudut jalanan. Status media sosial hingga iklan layanan masyarakat turut menyemarakkan suasana. Semua pihak seolah berlomba menyusun rencana kebaikan yang tertata sangat rapi. Namun, kita perlu merenungkan kembali esensi dari semua kemeriahan tersebut.

Kejujuran dalam Kesiapan Hati

Ramadan sejatinya tidak menuntut kemeriahan yang bersifat lahiriah semata. Bulan suci ini menuntut satu hal yang sangat mendasar dari kita. Hal tersebut adalah kejujuran kesiapan dalam menyambut seruan Ilahi. Tanpa kejujuran, semua persiapan fisik hanya akan menjadi rutinitas tanpa makna.

Al-Qur’an memberikan penjelasan indah mengenai tujuan utama dari ibadah puasa. Puasa bukan merupakan beban yang memberatkan pundak manusia. Ia adalah jalan pendidikan spiritual yang menuntun kita menuju derajat takwa. Sebagaimana termaktub dalam QS. Al-Baqarah: 183 yang artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.

Makna Takwa dalam Kehidupan Sehari-hari

Takwa dalam ayat tersebut memiliki makna yang sangat mendalam. Ia bukan sekadar tentang kerajinan dalam menjalankan ibadah ritual. Takwa juga bukan hanya kesibukan dalam menambah jumlah amalan sunnah. Ia adalah kesadaran penuh untuk hidup di bawah pengawasan Allah Swt.

Persiapan Menyambut Ramadan

Kesadaran ini harus tetap terjaga bahkan saat tidak ada manusia melihat. Maka, menyiapkan diri menyambut Ramadan berarti melatih kejujuran pada niat. Kita juga harus jujur pada amal dan kondisi hati kita sendiri. Inilah fondasi utama untuk meraih keberkahan di bulan yang penuh ampunan.

Meneladani Kesiapan Rasulullah Saw

Rasulullah Muhammad Saw telah memberikan teladan sempurna tentang makna kesiapan. Beliau memberikan perhatian khusus pada Bulan Sya‘ban sebagai masa persiapan. Beliau menyebut Sya’ban sebagai bulan yang sering terlupakan oleh banyak manusia. Padahal, pada bulan itulah semua amal diangkat menuju Allah Swt.

Karena alasan tersebut, Rasulullah memperbanyak puasa dan ibadah sebelum Ramadan tiba. Beliau ingin mengajarkan bahwa Ramadan tidak boleh kita sambut secara dadakan. Kita memerlukan latihan kesungguhan yang dilakukan dalam kesunyian. Latihan ini akan membentuk mental yang kuat saat memasuki bulan puasa.

Membersihkan Hati dari Penyakit Dendam

Satu hal yang sering manusia abaikan adalah kesiapan hati. Hadis tentang malam Nisfu Sya‘ban mengingatkan kita tentang luasnya ampunan Allah Swt. Namun, Allah Swt menutup pintu ampunan bagi orang yang berbuat syirik. Selain itu, orang yang menyimpan permusuhan juga terhalang dari ampunan tersebut.

Pesan ini terasa sangat tajam bagi kehidupan sosial kita hari ini. Ibadah puasa tidak akan naik dari hati yang penuh rasa dendam. Hujjatul Islam, Imam al-Ghazali, pernah memberikan peringatan yang sangat penting. Beliau mengingatkan bahwa penyakit hati jauh lebih berbahaya daripada penyakit badan. Penyakit hati dapat merusak makna ibadah dari dalam secara perlahan.

Tazkiyatun Nafs dalam Tradisi Sufi

Kesiapan Ilmu dan Kedisiplinan Ibadah

Menyiapkan diri menyambut Ramadan 1447 H juga membutuhkan kesiapan ilmu. Kita perlu membaca ulang tuntunan puasa agar sesuai syariat. Memperbaiki kualitas bacaan Al-Qur’an juga merupakan bagian dari kesungguhan kita. Selain itu, kita harus melatih disiplin dalam menjalankan ibadah harian.

Ramadan datang bukan untuk menambah beban hidup bagi manusia. Sebaliknya, bulan ini hadir untuk menata ulang arah hidup kita. Melalui disiplin puasa, kita belajar mengendalikan hawa nafsu yang sering liar. Ilmu yang mumpuni akan membuat ibadah kita menjadi lebih berkualitas dan bermakna.

Melahirkan Empati Melalui Rasa Lapar

Ramadan tidak pernah berhenti pada kesalehan yang bersifat personal saja. Ibadah ini tidak cukup hanya tinggal di sajadah atau surau. Makna puasa tidak selesai pada hitungan rakaat dan lembaran tilawah. Ramadan justru menguji manusia ketika rasa lapar mulai menyiksa tubuh.

Ketika tenggorokan kering dan tenaga menurun, di situlah ujian sebenarnya. Pada saat itulah puasa seharusnya membuka mata dan melembutkan hati kita. Dari rasa perih di perut itulah, empati sejati seharusnya lahir. Kita mulai memahami penderitaan orang lain yang kekurangan makanan sehari-hari.

Kedermawanan yang Menggerakkan Tangan

Rasa lapar tidak boleh melahirkan keluhan atau amarah dalam diri. Sebaliknya, ia harus menjadi simpati yang menggerakkan tangan untuk berbagi. Nabi Muhammad Saw adalah teladan paling jujur dalam hal kedermawanan ini. Beliau dikenal sebagai manusia yang sangat murah hati kepada siapa pun.

Minhājul ‘Ārifīn: Jalan Para Pencari Kedekatan dengan Allah

Kedermawanan beliau semakin tampak nyata ketika bulan Ramadan tiba. Puasa tidak membuat beliau menahan diri dari melakukan kebaikan. Justru puasa memperluas jangkauan tangan beliau untuk menolong sesama. Puasa mengajari kita untuk merasakan kepedihan terlebih dahulu sebelum kita berbagi.

Kebaikan ini bisa kita wujudkan melalui zakat yang kita tunaikan. Kita juga bisa memperbanyak infak yang diringankan serta sedekah yang diikhlaskan. Semua itu menjadi bukti nyata dari keberhasilan pendidikan Ramadan dalam diri kita. Kesiapan sosial ini melengkapi kesalehan spiritual yang telah kita bangun sejak awal.

Semoga kita diberikan kekuatan oleh Allah Swt untuk mengarungi Bulan Ramadhan 1447 ini dengan penuh keridhoaan dan keberkahan dari Allah Swt. Amin Ya Rabbal Alamin.(kareemustofa)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.