SURAU.CO. Syiah di Iran bukanlah entitas yang lahir seketika, apalagi semata produk revolusi modern. Ia adalah hasil proses sejarah panjang yang melibatkan teologi, politik, konflik kekuasaan, dan pencarian legitimasi keagamaan. Memahami Syiah di Iran berarti membaca persilangan antara iman dan kekuasaan dalam lintasan waktu yang panjang.
Di tengah perdebatan global tentang Islam, Sunni dan Syiah kerap direduksi menjadi sekadar perbedaan mazhab. Padahal, di baliknya terdapat sejarah sosial dan politik yang jauh lebih kompleks.
Loyalitas Politik ke Identitas Teologis
Secara etimologis, kata Syiah berasal dari bahasa Arab shi‘atu, yang berarti “pengikut” atau “kelompok pendukung”. Dalam konteks awal Islam, Syiah merujuk pada Syiah Ali, yaitu kelompok yang meyakini bahwa Ali bin Abi Thalib adalah sosok paling berhak melanjutkan kepemimpinan umat Islam setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW.
Landasan utama pandangan ini bersumber dari keyakinan bahwa kepemimpinan umat tidak semata persoalan politik, tetapi juga spiritual. Syiah memandang bahwa Allah tidak membiarkan umat tanpa pemimpin yang sah setelah Nabi.
“Sesungguhnya penolongmu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman…” (QS. Al-Ma’idah [5]: 55)
Ayat ini ditafsirkan oleh kalangan Syiah sebagai rujukan kepada Ali bin Abi Thalib, sementara kalangan Sunni memahaminya secara lebih umum. Perbedaan tafsir inilah yang kemudian berkembang menjadi perbedaan teologis yang sistematis.
Sejarah Awal Syiah: Konflik Kepemimpinan Pasca-Nabi
Sejarah Syiah bermula dari peristiwa wafatnya Nabi Muhammad SAW pada tahun 632 M. Persoalan mendesak saat itu adalah siapa yang berhak memimpin umat. Mayoritas sahabat memilih Abu Bakar melalui musyawarah di Saqifah. Namun sebagian sahabat meyakini bahwa Ali bin Abi Thalib, sepupu sekaligus menantu Nabi, adalah pilihan yang paling layak.
Konflik ini tidak langsung melahirkan mazhab teologis, melainkan perbedaan politik. Baru setelah peristiwa-peristiwa tragis seperti Perang Jamal, Perang Shiffin, dan terutama Tragedi Karbala (680 M), Syiah berkembang menjadi identitas religius yang kuat.
Kematian Husain bin Ali, cucu Nabi, di Karbala menjadi titik balik paling menentukan. Peristiwa ini membentuk narasi penderitaan, ketidakadilan, dan perlawanan moral yang hingga kini menjadi inti spiritualitas Syiah.
Al-Qur’an menegaskan sikap terhadap ketidakadilan:
“Dan janganlah kamu condong kepada orang-orang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka.” (QS. Hud [11]: 113)
Bagi Syiah, Karbala bukan sekadar sejarah, melainkan simbol etika perlawanan terhadap tirani.
Perbedaan Syiah dan Sunni
Perbedaan utama antara Syiah dan Sunni terletak pada konsep kepemimpinan umat (imamah). Sunni meyakini bahwa kepemimpinan bersifat ijtihadi dan dapat ditentukan melalui musyawarah. Syiah, khususnya Syiah Dua Belas Imam (Itsna ‘Asyariyah), meyakini bahwa imam ditunjuk secara ilahi dari keturunan Ali dan Fatimah.
Dalam Syiah, imam bukan sekadar pemimpin politik, tetapi juga penjaga otoritas penafsiran agama. Imam dianggap ma’shum (terjaga dari kesalahan) dalam menyampaikan ajaran. Perbedaan tidak terletak pada Tuhan atau kitab suci, melainkan pada cara memahami otoritas dan sejarah.
Al-Qur’an sendiri mengingatkan:
“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat [49]: 10)
Ayat ini menjadi pengingat bahwa perbedaan mazhab tidak semestinya berubah menjadi permusuhan teologis.
Perkembangan Syiah di Iran
Menariknya, Iran tidak selalu menjadi pusat Syiah. Hingga abad ke-15, mayoritas penduduk Iran menganut Sunni. Perubahan besar terjadi pada masa Dinasti Safawi (1501–1736). Shah Ismail I menjadikan Syiah Dua Belas Imam sebagai mazhab resmi negara.
Keputusan ini bukan semata teologis, tetapi juga politis. Sejak saat itu, ulama Syiah memperoleh posisi strategis dalam struktur negara. Proses ini mencapai puncaknya pada Revolusi Iran 1979, ketika Ayatollah Ruhollah Khomeini memperkenalkan konsep Wilayat al-Faqih—kekuasaan ulama dalam politik. Konsep ini menjadikan otoritas keagamaan tidak lagi berada di pinggir kekuasaan, tetapi di pusat negara.
Syiah Iran Antara Spiritualitas dan Kekuasaan
Hari ini, Syiah di Iran bukan hanya identitas keagamaan, tetapi juga ideologi negara. Ia memengaruhi kebijakan luar negeri, hukum, dan struktur sosial. Namun kondisi ini juga melahirkan kritik internal: ketika agama terlalu dekat dengan kekuasaan, risiko sakralisasi politik menjadi nyata.
Di sinilah relevansi kritik moral Al-Qur’an kembali mengemuka:
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan.”
(QS. An-Nahl [16]: 90)
Sejarah Syiah di Iran adalah kisah tentang iman yang berkelindan dengan kekuasaan. Ia lahir dari konflik kepemimpinan, tumbuh melalui narasi penderitaan, dan menguat lewat legitimasi negara. Memahaminya secara hitam-putih hanya akan melahirkan prasangka.
Syiah dan Sunni bukan dua agama berbeda, melainkan dua jalan sejarah dalam memahami Islam. Tantangan umat hari ini bukan memilih siapa yang paling benar, melainkan bagaimana menjadikan perbedaan sebagai sumber kedewasaan, bukan konflik. ***
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
