Banyak orang menganggap bahwa memulai lembaran baru atau hijrah merupakan langkah tersulit dalam perjalanan spiritual seseorang. Fenomena hijrah kini memang sedang marak, terutama di kalangan generasi muda yang ingin mencari makna hidup lebih dalam. Namun, jika kita menyelami lebih jauh, proses mengubah penampilan atau kebiasaan awal sebenarnya relatif lebih mudah. Tantangan yang sesungguhnya justru muncul setelah langkah pertama tersebut, yaitu bagaimana seseorang tetap konsisten atau istiqomah di jalan tersebut.
Mengapa Hijrah Terasa Begitu Mudah di Awal?
Momentum awal hijrah biasanya muncul karena adanya dorongan emosional yang kuat atau hidayah yang menyentuh hati. Seseorang mungkin merasa bosan dengan gaya hidup lama yang hampa atau merasa takut akan dosa-dosa masa lalu. Pada fase ini, semangat seseorang sedang berada di puncak tertinggi. Mengubah cara berpakaian, meninggalkan hobi yang sia-sia, hingga mulai rutin mengikuti pengajian terasa sangat ringan karena ada motivasi internal yang meledak-ledak.
Keinginan untuk menjadi pribadi yang lebih baik memberikan energi besar bagi setiap individu. Namun, kita harus menyadari bahwa perasaan semangat ini bisa naik dan turun seiring berjalannya waktu. Oleh karena itu, fase awal ini sering disebut sebagai masa “bulan madu” dalam beragama, di mana ketaatan terasa begitu manis dan penuh warna.
Istiqomah: Tantangan Menaklukkan Diri Sendiri
Setelah euforia awal memudar, realitas kehidupan mulai menguji kesungguhan seseorang. Di sinilah istilah “Istiqomah” menjadi sangat krusial. Istiqomah berarti teguh pendirian dan konsisten dalam melakukan kebaikan meskipun godaan datang silih berganti. Mengapa istiqomah begitu sulit? Karena godaan tidak hanya datang dari luar, tetapi juga dari dalam diri sendiri berupa rasa malas dan bosan.
Seorang ulama pernah memberikan kutipan yang sangat mendalam mengenai hal ini: “Hijrah itu mudah, yang menantang adalah istiqomah.” Kutipan ini mengandung pesan bahwa mempertahankan kebaikan jauh lebih berat daripada memulainya. Dunia akan terus menawarkan kesenangan sementara yang bisa memalingkan fokus kita dari tujuan akhir yang lebih mulia.
Hambatan Utama dalam Menjaga Konsistensi
Ada beberapa faktor yang sering kali menjadi penghalang bagi seseorang untuk tetap istiqomah. Pertama adalah pengaruh lingkungan dan pertemanan. Jika seseorang kembali ke lingkaran pertemanan yang toksik, besar kemungkinan ia akan terseret kembali ke kebiasaan lama. Kedua adalah kurangnya ilmu agama. Tanpa pondasi ilmu yang kuat, seseorang akan mudah goyah saat menghadapi syubhat atau keraguan dalam beragama.
Ketiga adalah ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap diri sendiri. Terkadang, pelaku hijrah ingin langsung menjadi sempurna dalam waktu singkat. Ketika mereka melakukan kesalahan kecil, mereka merasa gagal dan akhirnya berhenti mencoba. Padahal, istiqomah bukan berarti menjadi sempurna tanpa dosa, melainkan kemampuan untuk bangkit kembali setelah terjatuh.
Strategi Ampuh Agar Tetap Istiqomah
Agar perjalanan hijrah tidak berhenti di tengah jalan, Anda memerlukan strategi yang tepat. Berikut adalah beberapa langkah praktis yang bisa Anda terapkan:
-
Mencari Lingkungan yang Positif: Dekatilah orang-orang yang memiliki visi spiritual yang sama. Sahabat yang shalih akan saling mengingatkan dalam kebaikan dan menguatkan saat iman sedang melemah.
-
Menuntut Ilmu Secara Bertahap: Jangan terburu-buru dalam belajar. Pelajari dasar-dasar agama dengan benar dan rutin agar pemahaman Anda semakin kokoh dan tidak mudah goyah oleh opini orang lain.
-
Memperbanyak Doa: Kita harus menyadari bahwa hati manusia berada di tangan Sang Pencipta. Berdoalah agar hati senantiasa ditetapkan dalam ketaatan.
-
Melakukan Amalan Kecil Namun Rutin: Jangan memaksakan ibadah besar sekaligus jika tidak mampu menjaganya. Lebih baik melakukan amalan sederhana secara konsisten daripada melakukan amalan besar namun hanya sekali.
Menjaga Hati di Era Digital
Di zaman sekarang, media sosial juga berperan besar dalam mempengaruhi tingkat istiqomah seseorang. Paparan konten yang tidak bermanfaat atau gaya hidup hedonisme sering kali memicu rasa iri dan ingin kembali ke jalan yang salah. Oleh karena itu, bijaklah dalam menyaring konten yang Anda konsumsi setiap hari. Ikutilah akun-akun yang memberikan motivasi spiritual dan edukasi yang bermanfaat bagi perkembangan jiwa Anda.
Sebagaimana kutipan populer lainnya mengatakan: “Istiqomah itu berat, kalau ringan namanya istirahat.” Kalimat ini mengingatkan kita bahwa perjuangan menjaga iman memang melelahkan, namun hasil yang akan kita petik di akhirat nanti sangat sepadan dengan segala jerih payah tersebut.
Kesimpulan: Perjalanan yang Tanpa Akhir
Hijrah bukanlah sebuah garis finis, melainkan sebuah awal dari perjalanan panjang menuju keridhaan Tuhan. Jangan pernah merasa puas dengan perubahan yang sudah Anda capai hari ini. Teruslah belajar, teruslah memperbaiki diri, dan jangan pernah menjauh dari komunitas yang baik. Istiqomah mungkin memang menantang dan penuh onak duri, namun itulah yang membedakan antara mereka yang sekadar ikut-ikutan dengan mereka yang benar-benar tulus dalam mencari kebenaran.
Ingatlah bahwa setiap langkah kecil yang Anda ambil secara konsisten akan membawa perubahan besar di masa depan. Tetaplah melangkah, meskipun perlahan, karena yang terpenting bukanlah seberapa cepat Anda sampai, melainkan seberapa tangguh Anda bertahan di jalan yang benar. Dengan niat yang lurus dan usaha yang gigih, istiqomah bukan lagi hal yang mustahil untuk Anda capai dalam kehidupan sehari-hari.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
