Pendidikan
Beranda » Berita » Abah, pada Ranjang Sunyi Itu Aku Belajar Arti Cinta yang Diam

Abah, pada Ranjang Sunyi Itu Aku Belajar Arti Cinta yang Diam

Abah, pada Ranjang Sunyi Itu Aku Belajar Arti Cinta yang Diam
Abah, pada Ranjang Sunyi Itu Aku Belajar Arti Cinta yang Diam

 

SURAU.CO – Di sebuah ruang perawatan yang sunyi, ketika suara langkah perawat lebih terdengar daripada detak jam dinding, Abah terbaring dengan tubuh yang semakin rapuh. Ranjang besi itu menjadi saksi betapa manusia, setinggi apa pun martabatnya, akan kembali pada titik paling sederhana: lemah dan membutuhkan. Infus menetes perlahan, oksigen berdiri tegak, dan waktu seolah berhenti sejenak.

 

Di sisi ranjang, Ibu duduk setia. Tangannya menggenggam pinggir ranjang, matanya tertuju pada wajah Abah yang terpejam. Tak ada percakapan panjang. Tak ada keluhan. Yang hadir hanyalah diam yang sarat makna, diam yang dipenuhi cinta, doa, dan kepasrahan.

 

Ketika Jabatan Berakhir, Dedikasi yang Bicara

Foto ini bukan sekadar potret orang sakit. Ia adalah potret cinta yang matang. Cinta yang tak lagi riuh oleh kata-kata, tetapi kokoh oleh kesetiaan.

Mentauhidkan Allah SWT

Islam mengajarkan bahwa orang tua menempati kedudukan yang sangat tinggi. Bahkan perintah berbuat baik kepada mereka diletakkan tepat setelah perintah mentauhidkan Allah. Firman-Nya:

 

> وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua…”¹

Kepastian Hukum dan Jalan Demokrasi Desa Balusu

Ayat ini terasa hidup ketika kita menyaksikan sendiri orang tua kita menua, sakit, dan tak lagi sekuat dulu. Abah adalah sosok yang tak banyak bicara tentang cinta, tetapi menanamkannya melalui tanggung jawab. Ia mencintai keluarga dengan kerja keras, dengan doa-doa panjang yang tak pernah kami dengar, dan dengan kesabaran yang tak pernah dipamerkan.

 

Kini, ketika tubuhnya terbaring lemah, justru di situlah pelajaran hidup itu menjadi paling nyata. Abah mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan pada fisik, tetapi pada penerimaan terhadap takdir. Ia menjalani sakit tanpa banyak keluh, seolah ingin menegaskan bahwa hidup ini memang perjalanan menuju pulang.

Ladang Pahala yang Sangat Luas

Rasulullah ﷺ telah mengingatkan tentang fase hidup seperti ini. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda:

 

Taman Laut dan Amanah yang Terlupakan: Refleksi Ekologis dari Pesisir Bengkalis

رَغِمَ أَنْفُهُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ. قِيلَ: مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا ثُمَّ لَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ

“Celaka dia, celaka dia, celaka dia.” Ditanyakan: siapa wahai Rasulullah? Beliau menjawab: “Orang yang mendapati kedua orang tuanya ketika tua, salah satu atau keduanya, lalu ia tidak masuk surga.”²

 

Hadis ini seperti cermin yang memaksa kita bercermin jujur. Masa tua orang tua bukan sekadar fase biologis, melainkan ladang pahala yang sangat luas. Duduk di samping ranjang Abah, menemani tanpa pamrih, adalah ibadah yang sering kita remehkan karena tak terlihat megah.

 

Ibu yang setia mendampingi Abah adalah tafsir hidup dari ayat kesabaran. Ia tidak hanya menjadi istri dalam suka, tetapi juga dalam duka yang paling sunyi. Allah ﷻ berfirman:

 

> إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan diberi pahala tanpa batas.”³

 

Di ruang perawatan itu, saya belajar bahwa keluarga bukan hanya tentang kebahagiaan yang dirayakan, tetapi tentang ujian yang dijalani bersama. Bahwa bakti kepada orang tua bukan hanya soal materi, tetapi tentang kehadiran, hadir secara utuh, dengan hati dan doa.

Nilai-nilai Hidup

Abah, dalam diamnya, seakan sedang berpesan: hidup ini singkat, jangan ditunda kebaikan. Jangan menunggu orang tua tiada untuk merindukan hal-hal kecil yang dulu terasa biasa.

 

Jika kelak Abah dipanggil Allah, semoga ia pergi dengan husnul khatimah. Dan semoga kami, anak-anaknya, tidak menjadi generasi yang lalai terhadap jasa orang tua, tetapi menjadi anak-anak yang memanjangkan doa dan meneruskan nilai-nilai hidupnya.

 

Foto ini akan selalu menjadi pengingat: bahwa cinta paling tulus sering kali hadir dalam diam, di ruang sempit, di ranjang sederhana, dan di hati yang pasrah kepada Allah.

 

Catatan Kaki (Footnote)

  1. QS. Al-Isrā’ [17]: 23

  2. HR. Muslim, no. 2551.

  3. QS. Az-Zumar [39]: 10. (Tengku Iskandar)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.