Ibadah
Beranda » Berita » Keutamaan Malam Nisyfu Sya’ban: Teladan Ibadah Rasulullah dan Warisan Para Ulama

Keutamaan Malam Nisyfu Sya’ban: Teladan Ibadah Rasulullah dan Warisan Para Ulama

Sya'ban 1447 H
Ilustrasi

SURAU.CO. Malam Nisyfu Sya’ban selalu menjadi ruang istimewa dalam perjalanan spiritual umat Islam. Di antara dua bulan besar, Rajab dan Ramadhan, bulan Sya’ban sering kali terlewatkan. Padahal, justru di bulan inilah Rasulullah SAW memberikan contoh ibadah yang luar biasa , terutama melalui puasa dan doa . Dari berbagai riwayat yang sahih, tampak jelas bahwa Sya’ban adalah bulan penyucian diri dan persiapan ruhani memasuki Ramadhan.

Kesaksian Sayyidah Aisyah RA menjadi landasan kuat untuk memahami kedudukan Sya’ban. “Nabi SAW biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya dan hanya sedikit saja hari-hari berbuka beliau di bulan sya’ban” (HR. Imam Muslim). Hadis ini menunjukkan betapa Rasulullah benar-benar memanfaatkan Sya’ban sebagai momentum pembiasaan ibadah, seakan mempersiapkan hati dan tubuh untuk menyambut Ramadhan.

Riwayat lain dari Usamah bin Zaid semakin menegaskan hal tersebut. Ketika ia bertanya kepada Rasulullah mengapa beliau banyak berpuasa pada bulan Sya’ban. Nabi menjawab bahwa Sya’ban adalah bulan yang kerap dilupakan oleh manusia. Pada bulan itulah amal-amal manusia diangkat kepada Allah, dan Nabi ingin agar amalnya diangkat dalam keadaan sedang berpuasa. Jawaban ini memperlihatkan kepekaan spiritual Rasulullah dalam menyambut proses pengangkatan amal, sekaligus menunjukkan betapa besar keutamaan puasa di bulan Sya’ban.

Keutamaan Malam Nisfu Sya’ban

Tidak hanya siang harinya, malam-malam Sya’ban—terutama malam Nishfu Sya’ban—juga memiliki kemuliaan yang disebutkan dalam berbagai hadits. Sayyidah Aisyah RA pernah kehilangan Rasulullah SAW pada suatu malam, hingga ia keluar mencarinya dan menemukan beliau sedang berdoa di pemakaman Baqi’. Ketika Aisyah mengungkapkan kekhawatirannya, Nabi menjelaskan bahwa pada malam Nishfu Sya’ban Allah memberikan ampunan sebesar-besarnya, lebih banyak dari bulu domba Bani Kilab yang jumlahnya sangat banyak pada masa itu.

““Aku kehilangan Rasulullah SAW pada suatu malam. Kemudian aku keluar dan aku menemukan beliau di pemakaman Baqi’ Al-Gharqad” maka beliau bersabda “Apakah engkau khawatir Allah dan RasulNya akan menyia4nyiakanmu?” Kemudian aku berkata: “Tidak wahai Rasulullah SAW, sungguh aku telah mengira engkau telah mendatangi sebagian isteriisterimu”. Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah menyeru hamba-Nya di malam Nishfu Sya’ban kemudian mengampuninya dengan pengampunan yang lebih banyak dari bilangan bulu domba Bani Kilab (maksudnya pengampunan yang sangat banyak).”  (HR.Imam Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad)

Kisah Hikmah “Saudara-Saudara 3 in 1 Mencari Teman Sejati”

Dalam riwayat lain, Sayyidina Ali RA menceritakan sabda Rasulullah SAW bahwa ketika malam Nishfu Sya’ban tiba, Allah menyeru hamba-hamba-Nya sejak matahari terbenam hingga terbit fajar. Dalam seruan itu, Allah bertanya adakah hamba yang meminta ampunan, meminta rezeki, meminta kesembuhan, atau memiliki hajat tertentu. Janji pengabulan itu menggambarkan keluasan rahmat Allah pada malam tersebut, sehingga sangat wajar jika para ulama salaf menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dengan shalat, doa, dan dzikir.

Penjelasan Para Ulama

Keutamaan Sya’ban dan Nisyfu Sya’ban juga tercermin dalam penjelasan para ulama agung. Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Lathaif al-Ma’arif menyebutkan bahwa para tabi’in di negeri Syamsangat mengagungkan malam Nishfu Sya’ban dan bersungguh-sungguh dalam ibadah pada malam itu. Tradisi mereka inilah yang kemudian menyebar ke berbagai penjuru dunia sebagai malam penuh ibadah.

Para ulama Syam bahkan ada yang menganjurkan menghidupkan malam tersebut secara berjamaah di masjid. Mereka mengenakan pakaian terbaik, memakai wewangian, membaca Al-Qur’an, dan menghidupkan masjid dengan shalat dan dzikir. Ishaq bin Rahawaih bahkan menyatakan bahwa tradisi ini bukanlah bid’ah, tetapi bentuk penghormatan terhadap malam yang mulia.

Imam Syafi’i juga menyebutkan bahwa doa dikabulkan pada lima malam yaitu malam Jumat, dua malam hari raya.  Kemudian malam pertama Rajab, dan malam Nisyfu Sya’ban.  sedangkan Ibnu Asakir selalu menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dengan shalat, dzikir, dan tilawah Al-Qur’an, menunjukkan betapa pentingnya malam ini dalam tradisi ulama besar. Dalam kitab Al-Madkhal, Imam Ibnu Hajar Al-Haitami menjelaskan bahwa meskipun malam Nisyfu Sya’ban bukan Lailatul Qadar, malam ini tetap memiliki keutamaan sangat agung. Ulama salaf menyambut malam ini dengan kesiapan penuh, sebagai bentuk pengagungan terhadap syiar Allah.

Ibnu Taimiyah

Menariknya, Ibnu Taimiyah—yang sering menjadi rujukan oleh mereka yang mengingkari amalan malam Nishfu Sya’ban—justru memiliki pandangan berbeda. Dalam Majmu’ Fatawa, ia menyebutkan bahwa menghidupkan malam Nishfu Sya’ban, baik sendiri maupun berjamaah, adalah amalan yang baik. Ia juga menegaskan bahwa banyak hadits dan atsar menunjukkan keutamaan malam tersebut, dan bahwa ulama salaf memang membiasakan menghidupkan malam Nishfu Sya’ban. Bahkan ketika sebagian ulama mengkritik beberapa riwayat, mayoritas ulama tetap menguatkan kemuliaannya karena banyaknya hadis dan riwayat salaf yang mendukung.

Mitos Dewa Kristen di Balik Bulan Masehi

Seluruh rangkaian riwayat dan pandangan ulama ini menunjukkan betapa besarnya kedudukan bulan Sya’ban dalam tradisi Islam. Sya’ban bukan sekadar bulan penanda menuju Ramadhan, tetapi bulan penuh kesempatan untuk memperbaiki diri. Selain itu juga memperbanyak puasa sunnah, memohon ampun, dan mempersiapkan jiwa memasuki bulan suci. Dengan mengikuti teladan Rasulullah SAW dan para ulama salaf, Sya’ban dapat menjadi jembatan spiritual yang menghubungkan kita pada Ramadhan dengan hati yang lebih bersih. ( Sumber buku Hujjah ilmiah amalan di bulan Sya’ban terbitan Pustaka Al Bahjah)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.