Khazanah
Beranda » Berita » Filosofi Memberi: Mengapa Tangan di Atas Selalu Lebih Baik Menurut Kitab Al-Amwal

Filosofi Memberi: Mengapa Tangan di Atas Selalu Lebih Baik Menurut Kitab Al-Amwal

Islam memandang harta bukan sekadar alat tukar, melainkan sarana untuk meraih keberkahan melalui tindakan berbagi kepada sesama manusia. Salah satu konsep paling ikonik dalam etika kedermawanan adalah filosofi “tangan di atas”. Ungkapan ini merujuk pada keutamaan orang yang memberi daripada orang yang menerima. Abu Ubaid Al-Qasim bin Salam membahas tuntas prinsip ini dalam karya monumentalnya, Kitab Al-Amwal.

Mengenal Abu Ubaid dan Kitab Al-Amwal

Abu Ubaid Al-Qasim bin Salam merupakan ulama besar yang meletakkan dasar-dasar sistem ekonomi syariah pada abad ke-3 Hijriah. Beliau menyusun Kitab Al-Amwal sebagai rujukan komprehensif mengenai pengelolaan harta publik, zakat, serta hak-hak fakir miskin. Dalam buku tersebut, beliau tidak hanya berbicara tentang angka dan hukum, tetapi juga menyentuh aspek spiritual dan mentalitas seorang Muslim terhadap kekayaan.

Makna Tangan di Atas dalam Hadits

Abu Ubaid mengutip hadits populer yang menjadi fondasi utama bagi setiap Muslim dalam berinteraksi dengan harta benda miliknya sendiri. Beliau mencantumkan kutipan hadits berikut secara teliti:

“Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Tangan di atas adalah yang memberi dan tangan di bawah adalah yang meminta.”

Kutipan ini mengandung pesan mendalam tentang kemuliaan posisi pemberi (al-mu’thi). Melalui tulisan-tulisannya, Abu Ubaid menjelaskan bahwa Islam mendorong umatnya untuk memiliki etos kerja yang kuat agar bisa menjadi pihak yang memberi. Beliau menekankan bahwa kemandirian ekonomi merupakan jalan menuju martabat yang lebih tinggi di hadapan Allah SWT dan manusia.

Keutamaan Malam Nisyfu Sya’ban: Teladan Ibadah Rasulullah dan Warisan Para Ulama

Mengapa Tangan di Atas Lebih Baik?

Filosofi memberi dalam Kitab Al-Amwal mencakup beberapa alasan mengapa posisi pemberi selalu memiliki derajat yang lebih utama.

1. Menghindari Mentalitas Meminta
Abu Ubaid menekankan pentingnya menjaga kehormatan diri atau iffah. Beliau memandang tindakan meminta-minta sebagai sesuatu yang dapat menjatuhkan martabat seorang mukmin. Dengan menjadi “tangan di atas”, seseorang telah menyelamatkan dirinya dari kehinaan akibat bergantung pada belas kasihan orang lain secara terus-menerus.

2. Membersihkan Harta dan Jiwa
Memberi bukan sekadar memindahkan kepemilikan uang dari satu tangan ke tangan lainnya. Tindakan ini merupakan proses penyucian jiwa dari sifat kikir dan cinta dunia yang berlebihan. Abu Ubaid menjelaskan bahwa zakat dan sedekah berfungsi sebagai pembersih bagi harta agar sisa kekayaan yang tersisa menjadi lebih berkah.

3. Menciptakan Keadilan Sosial
Dalam perspektif ekonomi yang Abu Ubaid usung, distribusi harta yang merata melalui kedermawanan akan memperkuat struktur masyarakat. Ketika si kaya aktif memberi, jurang antara kelompok kaya dan miskin akan semakin mengecil. Hal ini menciptakan stabilitas sosial yang kokoh serta mencegah timbulnya kecemburuan sosial di tengah lingkungan masyarakat.

Menjaga Keikhlasan dalam Memberi

Meskipun tangan di atas lebih baik, Abu Ubaid mengingatkan para pemberi untuk tetap menjaga adab dan ketulusan hati mereka. Memberi tidak boleh disertai dengan sikap sombong atau menyebut-nyebut pemberian (al-mann). Beliau menegaskan bahwa nilai sebuah pemberian bergantung pada niat pelakunya untuk mengharap ridha Allah semata, bukan pujian manusia.

Kisah Hikmah “Saudara-Saudara 3 in 1 Mencari Teman Sejati”

Pemberi yang baik adalah mereka yang memberikan harta terbaiknya, bukan sisa-sisa yang sudah tidak berguna lagi bagi mereka. Etika ini memastikan bahwa proses memberi memberikan kebahagiaan bagi kedua belah pihak, baik sang pemberi maupun sang penerima bantuan tersebut.

Relevansi Filosofi Memberi Saat Ini

Pada era modern, pemikiran Abu Ubaid dalam Kitab Al-Amwal tetap relevan sebagai kritik terhadap budaya konsumerisme yang serakah. Filosofi memberi mengajarkan kita bahwa kebahagiaan sejati muncul saat kita mampu menjadi solusi bagi kesulitan orang-orang di sekitar kita. Semangat “tangan di atas” mendorong terciptanya masyarakat produktif yang gemar menolong tanpa harus menunggu instruksi dari pihak penguasa.

Kesimpulannya, filosofi tangan di atas dalam Kitab Al-Amwal merupakan panggilan bagi kita untuk terus meningkatkan kapasitas diri dan ekonomi. Dengan menjadi pemberi, kita tidak hanya memperbaiki taraf hidup orang lain, tetapi juga sedang membangun kemuliaan bagi diri kita sendiri. Mari kita tanamkan niat kuat untuk selalu berusaha menjadi tangan di atas dalam setiap kesempatan hidup kita.

Google AI models may make mistakes, so double-check outputs.

Mitos Dewa Kristen di Balik Bulan Masehi

Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.