Indonesia berdiri di atas fondasi keberagaman yang sangat kuat. Bangsa ini memiliki ribuan suku dan beragam keyakinan. Namun, tantangan disintegrasi seringkali muncul ke permukaan. Di sinilah peran pemikiran ulama besar seperti Buya Hamka menjadi sangat relevan. Melalui mahakaryanya, Tafsir Al-Azhar, Hamka menawarkan konsep teologi inklusif. Visi ini bertujuan untuk merajut harmoni di tengah kemajemukan masyarakat Indonesia.
Jejak Pemikiran dalam Tafsir Al-Azhar
Buya Hamka menulis Tafsir Al-Azhar saat ia mendekam di penjara pada era Orde Lama. Meskipun berada dalam jeruji besi, kejernihan pikirannya tidak memudar sedikit pun. Ia menuangkan pemahaman mendalam tentang Al-Qur’an dengan pendekatan budaya Melayu-Nusantara. Hamka sangat memahami denyut nadi masyarakat Indonesia. Ia memandang perbedaan sebagai kehendak Tuhan yang mengandung hikmah besar bagi manusia.
Teologi inklusif dalam pandangan Hamka bukan berarti mencampuradukkan akidah. Ia tetap teguh pada prinsip tauhid yang murni. Namun, Hamka membuka ruang dialog yang luas dengan pemeluk agama lain. Ia mengajarkan bahwa umat Islam harus bersikap adil kepada siapa saja. Keadilan ini merupakan cerminan dari iman yang sejati dalam kehidupan berbangsa.
Memahami Ayat-Ayat Keberagaman
Dalam Tafsir Al-Azhar, Hamka sering menekankan pentingnya persaudaraan kemanusiaan. Ia merujuk pada Surat Al-Hujurat ayat 13 tentang asal-usul manusia. Hamka menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia berbeda-beda agar mereka saling mengenal. Proses “saling mengenal” ini membutuhkan kerendahan hati dan sikap terbuka. Umat manusia tidak boleh merasa lebih unggul hanya karena faktor ras atau golongan.
Hamka memberikan kutipan penting mengenai hubungan antarmanusia:
“Sebab itu, di dalam Islam, tidaklah ada perbedaan kasta, tidak ada perbedaan warna kulit, dan tidak ada perbedaan derajat di hadapan Allah, melainkan karena takwanya.”
Kutipan tersebut menegaskan bahwa kemuliaan seseorang bergantung pada kualitas moralnya. Hamka mengajak bangsa Indonesia untuk meninggalkan fanatisme buta yang merusak. Ia mendorong terciptanya kerja sama dalam kebajikan untuk kepentingan publik.
Toleransi Bukan Sekadar Kata
Buya Hamka membuktikan teologi inklusif melalui tindakan nyata dalam sejarah. Ia menjalin hubungan baik dengan tokoh-tokoh dari berbagai latar belakang keyakinan. Hamka percaya bahwa kedamaian akan tercipta jika semua pihak saling menghormati batas-batas privasi iman. Dalam tafsirnya, ia menjelaskan bahwa pemaksaan dalam beragama adalah hal yang terlarang.
Ia menuliskan pandangan tentang toleransi sebagai berikut:
“Agama itu sendiri adalah kemerdekaan jiwa. Tidak ada paksaan untuk masuk ke dalam agama, karena kebenaran itu telah nyata daripada kesesatan.”
Kalimat ini menunjukkan bahwa inklusivitas Hamka berakar pada penghormatan terhadap martabat manusia. Ia yakin bahwa kebenaran Islam akan bersinar melalui akhlak yang baik. Masyarakat yang majemuk membutuhkan teladan nyata, bukan sekadar retorika belaka. Hamka memposisikan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta.
Relevansi Teologi Hamka di Era Modern
Saat ini, radikalisme dan polarisasi sering mengancam persatuan nasional kita. Pemikiran Hamka hadir sebagai penawar bagi penyakit sosial tersebut. Teologi inklusif dalam Tafsir Al-Azhar mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang wasathiyah (moderat). Kita harus mampu berdiri di tengah dan menjadi jembatan bagi berbagai perbedaan.
Generasi muda perlu mempelajari kembali karya-karya Buya Hamka secara mendalam. Ia adalah sosok yang berhasil memadukan semangat religiusitas dengan nasionalisme yang sehat. Hamka membuktikan bahwa menjadi Muslim yang taat sangat selaras dengan menjadi warga negara yang baik. Ia tidak melihat pertentangan antara iman dan cinta tanah air.
Penutup: Merawat Kebinekaan
Menjaga harmoni dalam perbedaan adalah tanggung jawab kita bersama. Tafsir Al-Azhar memberikan panduan spiritual yang sangat kokoh untuk tujuan tersebut. Kita harus mengedepankan dialog daripada konfrontasi dalam menghadapi setiap perselisihan. Mari kita teladani sikap inklusif Buya Hamka untuk menciptakan Indonesia yang lebih damai.
Perbedaan adalah kekayaan, bukan ancaman bagi stabilitas nasional kita. Dengan memahami teologi inklusif, kita akan melihat sesama manusia dengan penuh kasih sayang. Buya Hamka telah mewariskan cahaya ilmu untuk menerangi jalan keberagaman kita. Sekarang, giliran kita untuk meneruskan pesan damai tersebut ke seluruh penjuru negeri. Umat yang kuat adalah umat yang mampu merangkul sesama dalam bingkai kemanusiaan.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
