Dunia modern sering kali menjebak manusia dalam perlombaan materi yang tiada habisnya. Banyak orang merasa bahwa kebahagiaan hanya bersumber dari tumpukan harta dan jabatan tinggi. Namun, Islam menawarkan konsep yang sangat menenangkan jiwa, yaitu zuhud. Salah satu rujukan terbaik untuk memahami konsep ini adalah karya monumental Imam Ahmad bin Hanbal yang berjudul Kitabuz Zuhd.
Melalui kitab ini, kita belajar bahwa zuhud bukanlah berarti membuang harta atau mengasingkan diri dari peradaban. Sebaliknya, zuhud adalah sebuah seni melepaskan keterikatan hati terhadap dunia meskipun tangan kita menggenggamnya.
Apa Itu Zuhud Menurut Imam Ahmad bin Hanbal?
Banyak orang salah kaprah mengartikan zuhud sebagai kondisi miskin atau berpakaian lusuh. Imam Ahmad bin Hanbal meluruskan pandangan ini dengan sangat bijak. Bagi beliau, zuhud adalah masalah hati, bukan sekadar penampilan lahiriah. Beliau pernah menjelaskan definisi zuhud yang sangat mendalam.
Dalam sebuah riwayat, Imam Ahmad menyatakan:
“Zuhud itu ada tiga tingkatan. Pertama, meninggalkan yang haram, dan ini adalah zuhudnya orang awam. Kedua, meninggalkan hal-hal yang berlebihan dari perkara halal, dan ini adalah zuhudnya orang istimewa (khusus). Ketiga, meninggalkan segala sesuatu yang menyibukkan hati sehingga lupa kepada Allah, dan ini adalah zuhudnya orang yang arif (mengenal Allah).”
Definisi tersebut menegaskan bahwa seorang kaya raya tetap bisa menjadi pribadi yang zuhud. Syaratnya, harta tersebut tidak menguasai hatinya. Jika harta itu hilang, ia tidak berputus asa. Jika harta itu bertambah, ia tidak menjadi sombong atau lalai dari ibadah.
Menyeimbangkan Dunia dan Akhirat
Menerapkan zuhud Imam Ahmad bin Hanbal tidak mengharuskan Anda berhenti bekerja atau menutup bisnis. Imam Ahmad sendiri merupakan ulama yang aktif berinteraksi dengan masyarakat. Beliau mengajarkan bahwa dunia hanyalah sarana atau jembatan menuju akhirat.
Anda boleh memiliki kendaraan mewah, rumah yang nyaman, dan tabungan yang cukup. Namun, pastikan semua fasilitas tersebut mempermudah Anda dalam menjalankan ketaatan. Seni melepaskan di sini berarti Anda tidak membiarkan rasa takut kehilangan materi mengganggu ketenangan batin Anda. Anda bekerja keras di dunia, namun tetap meletakkan tawakal dan ketergantungan hanya kepada Allah SWT.
Tiga Kunci Praktis Hidup Zuhud
Berdasarkan intisari Kitabuz Zuhd, terdapat tiga langkah praktis yang bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari:
1. Memandang Dunia Sebagai Titipan
Kita harus menyadari bahwa semua yang kita miliki saat ini adalah titipan Tuhan. Perasaan memiliki yang berlebihan sering kali menimbulkan kecemasan. Dengan memandang harta sebagai titipan, kita akan lebih mudah melepaskannya untuk berbagi kepada sesama.
2. Mengurangi Keinginan, Bukan Kebutuhan
Zuhud mengajarkan kita untuk membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Orang yang zuhud merasa cukup dengan apa yang ia butuhkan. Ia tidak terjebak dalam gaya hidup konsumtif yang hanya bertujuan untuk pamer atau mengejar pengakuan manusia.
3. Fokus pada Kualitas Ibadah
Imam Ahmad menekankan bahwa kesibukan dunia jangan sampai mencuri waktu utama kita untuk Tuhan. Jika pekerjaan membuat Anda meninggalkan salat atau berbuat curang, maka saat itulah Anda telah kehilangan hakikat zuhud.
Mengapa Kitabuz Zuhd Relevan Saat Ini?
Di tengah gempuran media sosial yang sering memamerkan kemewahan (flexing), Kitabuz Zuhd menjadi obat penawar bagi kesehatan mental. Kitab ini mengajarkan kita untuk kembali pada kesederhanaan batin. Imam Ahmad bin Hanbal melalui catatan-catatannya mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada apa yang kita kumpulkan, melainkan pada apa yang berhasil kita lepaskan dari keterikatan hati.
Dengan mempelajari seni melepaskan ini, kita akan meraih kemerdekaan jiwa yang sesungguhnya. Kita tidak lagi menjadi budak tren, budak opini orang lain, atau budak harta. Kita menjadi hamba yang merdeka karena hati kita hanya terikat pada Sang Pencipta.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
