Umat Islam mengenal Imam Muslim sebagai sosok jenius yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk menjaga kemurnian sunnah Nabi Muhammad SAW. Melalui karya monumentalnya, Sahih Muslim, beliau menyaring ribuan riwayat untuk memastikan hanya hadis otentik yang sampai ke tangan umat. Dedikasi ini bukan sekadar tugas akademis, melainkan bentuk pengabdian spiritual yang luar biasa tinggi terhadap agama Islam.
Mengenal Sosok Imam Muslim
Nama lengkap beliau adalah Abu al-Husain Muslim ibn al-Hajjaj al-Qushayri al-Naysaburi. Ia lahir pada tahun 204 Hijriah di Nishapur, sebuah kota yang kini menjadi bagian dari wilayah Iran. Sejak usia dini, Muslim kecil telah menunjukkan minat yang sangat besar terhadap ilmu agama. Lingkungan keluarga yang religius sangat mendukung perkembangan intelektualnya dalam mempelajari dasar-dasar syariat Islam.
Beliau menempuh perjalanan intelektual (rihlah fi thalab al-ilmi) ke berbagai pusat peradaban Islam saat itu. Imam Muslim mengunjungi Hijaz, Mesir, Syam, dan Irak untuk menemui para guru besar hadis. Dalam perjalanan panjang tersebut, beliau mengumpulkan ribuan riwayat langsung dari lisan para perawi yang terpercaya.
Kedekatan dengan Imam Bukhari
Salah satu titik balik penting dalam hidup Imam Muslim adalah pertemuannya dengan Imam Bukhari. Meskipun keduanya merupakan pakar hadis, Imam Muslim menempatkan diri sebagai murid yang sangat takzim kepada Imam Bukhari. Beliau sangat mengagumi ketelitian dan kedalaman ilmu sang guru dalam membedah cacat-cacat tersembunyi dalam sebuah riwayat (ilal al-hadis).
Kekaguman ini tecermin dalam pernyataan masyhur Imam Muslim kepada Imam Bukhari:
“Biarkan aku mencium kedua kakimu, wahai guru para guru, pemimpin para ahli hadis, dan dokter hadis dalam cacat-cacatnya.”
Hubungan guru dan murid ini membuahkan standar keilmuan yang sangat ketat dalam penyusunan kitab hadis. Imam Muslim kemudian mengadopsi ketelitian tersebut saat beliau mulai menyusun mahakaryanya sendiri yang kini kita kenal sebagai Sahih Muslim.
Metodologi Ketat dalam Kitab Sahih Muslim
Imam Muslim menghabiskan waktu sekitar 15 tahun untuk merampungkan kitab Sahihnya. Beliau menyaring sekitar 300.000 hadis yang ia hafal hingga menyisakan sekitar 4.000 hadis tanpa pengulangan. Keunggulan utama kitab ini terletak pada sistematika penulisan dan penyusunan bab yang sangat rapi.
Berbeda dengan Imam Bukhari yang sering memotong hadis untuk keperluan fikih, Imam Muslim cenderung menyajikan teks hadis secara utuh. Beliau sangat teliti dalam membedakan antara istilah haddatsana (menceritakan kepada kami) dan akhbarana (mengabarkan kepada kami). Perbedaan tipis ini menunjukkan tingkat akurasi yang sangat tinggi dalam proses transmisi ilmu hadis.
Beliau pernah menegaskan komitmennya dalam menulis kitab tersebut:
“Aku tidak mencantumkan sesuatu dalam kitabku ini melainkan dengan argumen, dan aku tidak menggugurkan sesuatu darinya melainkan dengan argumen pula.”
Kontribusi bagi Peradaban Islam
Dedikasi Imam Muslim memberikan fondasi yang kokoh bagi hukum Islam setelah Al-Qur’an. Para ulama sepakat bahwa Sahih Muslim merupakan kitab paling otentik kedua setelah Sahih Bukhari. Kehadiran kitab ini memudahkan umat Islam dalam membedakan antara ajaran Nabi yang murni dengan hadis palsu atau lemah yang beredar di masyarakat.
Metodologi yang beliau kembangkan juga menjadi inspirasi bagi para peneliti modern dalam disiplin ilmu sejarah dan kritik teks. Beliau mengajarkan bahwa sebuah informasi harus melalui verifikasi ketat sebelum seseorang menerimanya sebagai sebuah kebenaran. Sikap kritis ini menjaga umat dari penyimpangan ajaran agama yang merusak integritas Islam.
Akhir Hayat sang Pembela Sunnah
Imam Muslim wafat pada tahun 261 Hijriah di kota kelahirannya, Nishapur. Beliau meninggalkan warisan ilmu yang tak ternilai harganya bagi jutaan umat Islam di seluruh dunia. Hingga hari ini, para penuntut ilmu masih merujuk pada karya-karyanya untuk memahami petunjuk Nabi Muhammad SAW secara benar dan akurat.
Ketulusan Imam Muslim dalam menjaga otentisitas ajaran Nabi membuktikan bahwa ilmu pengetahuan membutuhkan pengorbanan dan integritas. Beliau bukan sekadar pengumpul kata-kata, melainkan penjaga gawang kebenaran sejarah Islam. Melalui karya beliau, cahaya sunnah tetap bersinar terang melintasi berbagai generasi dan zaman.
Kita sebagai generasi penerus sepatutnya meneladani semangat belajar dan ketelitian beliau. Mempelajari Sahih Muslim berarti kita sedang berusaha mendekatkan diri pada pemahaman agama yang lurus. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan rahmat-Nya kepada Imam Muslim atas segala jasa dan dedikasinya bagi umat Islam.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
